Tak Mau Lagi Rumah Tangganya Berantakan, Dono Rajin Ajak Istrinya Salat

ENTAH apa yang ada dalam benak Dono (34) bukan nama sebenarnya, bukannya mengajak sang istri, sebut saja Sisi (32) menuju jalan Ilahi, malah ikut terbawa kebiasaan yang tak pernah melaksanakan perintah agama. Berasal dari keluarga yang kental akan keagamaan, toh bukan merupakan jaminan Dono kuat menahan godaan. Jadilah Dono dianggap sebagai lelaki yang tak punya pendirian.

Hubungan dengan orangtua dan saudara pun pudar. Padahal, Dono termasuk lelaki baik dan paham ilmu agama. Tapi, lantaran sikap sang istri yang selalu menekan dan tak mau menuruti kemauan suami, jadilah Dono terbawa arus kelakuan Sisi. Bersikap acuh tak acuh dan antisosial. Rumah tangga mereka pun terasingkan dari lingkungan sekitar. Aih, si Akang!

“Ya itu mah dulu, saya khilaf. Namanya manusia tempatnya lupa dan dosa!” kata Dono kepada Radar Banten.

Sebenarnya Dono juga sempat beberapa kali menasihati, tetapi karena kalah adu mulut dan ambisi untuk meraih kehidupan duniawi, Dono juga tak bisa menghindari akan kebutuhan ekonomi. Ia fokus bekerja dan tak peduli omongan saudara sendiri. Pokoknya, asal uang datang, istri pasti senang. Kalau istri sudah senang, jatah suami jadi semakin menantang. Wis, jatah apa nih maksudnya, Kang?

“Yaelah, kayak enggak ngerti saja. Biasalah!” ungkap Dono.

Saat itu Dono dan Sisi sedang bersemangat mencari rezeki. Mereka berambisi membeli mobil untuk kendaraan pribadi. Maklumlah, soalnya tetangga baru membeli mobil baru. Tak ingin kalah saing, Sisi tak pernah berhenti merengek kepada Dono ingin dibelikan mobil. Jadilah mereka bekerja siang dan malam tanpa peduli urusan agama.

Selain karena masalah ekonomi, Dono juga mengaku takut kehilangan sang istri. Ia trauma dengan peristiwa perceraian. Ya, sebelum membangun bahtera rumah tangga dengan Sisi, Dono sempat berumah tangga dengan gadis tetangga desa. Namun karena masalah keuangan yang tak pernah bernasib baik kepadanya, Dono terpaksa melepas istri menikah dengan lelaki lain.

Atas dasar itulah, Dono tak pernah membantah kemauan Sisi. Seolah belajar dari pengalaman, sekeras apa pun Sisi membantah, Dono tak mau membuat keributan. Daripada nanti berujung perceraian, ia lebih memilih diam dan cenderung menurut kepada istri. Duh, kok kayak suami takut istri begitu, ya!

“Ya mau bagaimana, Kang. Namanya juga rumah tangga. Kalau dua-duanya egois, pasti bakal hancur!” kata Dono. Ya, tapi kan enggak ngalah juga sama istri Kang.

“Iya sih, ya saya mah jalanin aja. Selagi dia masih menghargai saya sebagai suami, apa salahnya nurutin kemauan dia,” ungkap Dono.

Dono memang tak pernah menyangka mengalami pernikahan yang kedua dalam hidupnya. Ia sebenarnya sangat mendambakan hidup bahagia dengan istri pertama, tapi takdir berkata lain. Gara-gara urusan ekonomi, rumah tangga jadi tidak bisa harmonis. Karena merasa tak cocok lagi, perceraian pun jadi solusi bersama.

Dono sebenarnya lelaki baik, sejak muda sudah mendapat didikan agama di pesantren. Tak heran, meski usianya masih muda, ia sering memimpin jamaah salat di kampungnya. Waktu masih remaja, kondisi ekonomi keluarga bisa dikatakan orang kaya. Sang ayah yang berprofesi sebagai petani, memiliki banyak sawah dan sedang maju-majunya. Sudah baik, agamais, dan kaya, Dono banyak menarik perhatian kaum hawa.

Dono anak kedua dari empat bersaudara. Hampir semua saudara baik adik dan kakak mendapat pendidikan agama yang baik. Kakak paling tua saja berperan sebagai ustaz di kampung. Tak ayal, Dono pun mendapat imagepoSisif dari warga. Tak lama setelah lulus dari pesantren, Dono pun lekas mencari pendamping hidup.

Bukan merupakan hal sulit bagi Dono mencari kekasih. Tak lama setelah kabar dirinya yang sedang mencari calon istri, datanglah rekan sang ayah menawarkan anak gadis kepada Dono. Baru sekali dipertemukan, Dono langsung jatuh cinta. Seminggu kemudian, ia pun mantap menuju pernikahan. Mengalami nikah muda, tentu Dono bahagia.

Tahun pertama pernikahan, ekonomi keluarga masih membaik. Namun, tak lama setelah ayahnya meninggal, perekonomian menjadi memburuk. Rumah tangga Dono pun ikut terkena imbasnya. Apesnya, sang istri yang ia kira mampu bersabar menahan cobaan hidup, ternyata tak seperti apa yang dibayangkan. Baru kesulitan ekonomi sedikit, sudah marah-marah siang-malam. Lantaran Dono yang belum bisa mengontrol emosi, ia pun mengamuk memarahi sitri. Keributan pun terjadi. Dan akhirnya mereka sepakat untuk bercerai.

Kurang lebih tiga tahun Dono hidup menduda. Berbagai jenis pekerjaan sudah dilakukan. Mulai dari berjualan pakaian, sampai karyawan di toko waralaba, Dono tak kunjung menikmati hidup sejahtera. Wajahnya yang tampan dan postur tubuh yang menawan, Dono ditaksir teman rekan sekerjanya. Cie…

Setelah meminta restu pada orangtua dan saudara, Dono menikah dengan Sisi. Mereka mengikat janji sehidup semati. Meski hanya menggelar pesta pernikahan sederhana, hanya mengundang tetangga dan sanak saudara, mereka sudah bahagia luar biasa. Meski bersatatus duda, ia mendapat istri yang masih perawan. Cantik lagi.

Namun, Dono juga mengakui kecantikan Sisi tidak diimbangi dengan keimanan di hati. Sisi berasal dari latar belakang keluarga yang kurang baik dalam hal ibadah. Saat sudah berumah tangga pun, sang sitri tak pernah terlihat salat. Hal ini menimbulkan perdebatan bagi keluarga Dono. Sang suami mencoba menasihati, tetapi Sisi tak pernah peduli.

Merasa tak nyaman tinggal di rumah keluarga, Dono dan Sisi pun pindah ke rumah kontrakan. Hari demi hari dilewati, tak terasa setahun berlalu, Dono jarang terlihat salat di masjid. Dari situ, saudara dan tetangga kemudian menyelidiki keseharian Dono. Diketahuilah bahwa lelaki yang sempat mendapat image baik itu ternyata jarang salat lima waktu.

Karena lingkungan rumah keluarga berada di dekat pesantren, kabar itu pun menyebar cepat. Hal itu membuat kakak dan saudara Dono geram. Dipanggillah Dono ke rumah, perbincangan yang awalnya berlangsung hangat, berubah memanas ketika sang kakak tertua menegur Dono terkait masalah salat. Dono merasa digurui, ia marah-marah. Sejak saat itu hubungannya dengan keluarga mulai renggang.

Sampai saat ini meski Dono sudah mulai kembali melaksanakan salat lima waktu, hubungannya dengan keluarga masih tak secair dahulu. Sementara, Sisi masih tak bisa menurut ketika Dono mengingatkan untuk salat lima waktu. Meski begitu, Dono tak pernah lelah untuk terus berusaha membimbing sang istri agar mau salat. Semangat ya Kang Dono. Insya Allah, Teh Sisi dapat hidayah. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)