Dua atlet sepatu roda Kota Serang berlatih di Jalan kawasan KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Minggu (6/1). Mereka tidak punya lintasan sepatu roda.

SERANG
–  Persatuan Sepatu Roda Seluruh
Indonesia (Porserosi) Kota Serang masih belum memiliki lintasan sepatu roda
sendiri dan permanen. Atletnya butuh itu untuk menunjang latihan rutin, serta
guna meningkatkan prestasi mereka.

Hingga
kini, keterbatasan fasilitas itu membuat atlet sepatu roda Kota Serang harus
berpindah tempat ketika latihan rutin. “Sebelumnya, anak-anak (atlet sepatu
roda-red) latihan rutinnya di Kabupaten Tangerang dan Alun-alun Barat Kota
Serang setiap Sabtu dan Minggu pagi. Di Kabupaten Tangerang kejauhan, sedangkan
di Alun-alun (Kota Serang-red) kurang kondusif karena terlalu ramai, banyak
warga yang joging dan jalan. Tidak nyaman intinya mah,” tegas Ketua Umum
Pengcab Porserosi Kota Serang Wella saat memantau atletnya latihan di Kawasan
Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kecamatan Curug, Kota Serang, Minggu
(6/1) sekira pukul 10.00 WIB.

Warga yang
memadati Alun-alun Barat Kota Serang setiap pagi setiap akhir pekan, lanjut
Wella, membuat jadwal latihan diubah. Atlet sepatu roda Kota Serang berlatih
setiap Sabtu malam dan Minggu malam mulai pukul 19.00 WIB.

“Tapi, ternyata latihan malam di alun-alun
kondisinya gelap, masih kurang lampu penerangan dan ramai juga. Kami khawatir
pas anak-anak lagi latihan malam, takut terjadi apa-apa,” ungkap Wella.

Karenanya,
Wella menyatakan, lintasan sepatu roda permanen di Ibukota Provinsi Banten ini
sangat diperlukan atlet. “Kalau di Kota Serang ada mah, kan yang dari Kota
Cilegon bisa ke Serang, yang dari Pandeglang dan Lebak juga bisa latihan di
Serang. Tidak perlu lagi jauh-jauh ke Kabupaten Tangerang. Tetap intinya kami
berharap Kota Serang punya lintasan sepatu roda sendiri yang permanen,”
tuturnya.

Wella
optimistis, bila Kota Serang memiliki lintasan sepatu roda sendiri dan
permanen, pembinaan cabang olahraga sepatu roda akan lebih baik lagi. Kota
Serang diklaim telah memiliki atlet-atlet sepatu roda potensial.

“Atlet-atlet sepatu roda Kota Serang di
Porprov V (di Kabupaten Tangerang-red) kemarin, kita berhasil meraih juara umum
kedua di bawah tuan rumah dengan koleksi dua emas, 12 perak, dan enam perunggu.
Kalau kita punya lintasan sendiri, saya yakin kita bisa dapat lebih banyak lagi
medalinya. Kabupaten Tangerang aja, sejak dua bulan punya lintasan sendiri,
berhasil merebut 12 sampai 16 medali emas di Porprov V kemarin,” ujar Wella.

Ungkapan
senada dilontarkan orangtua atlet sepatu roda Yuri, Kusnia. Ia mengatakan,
bahwa tempat latihan putranya dan atlet sepatu roda Kota Serang lainnya di KP3B
belum representatif.

“Sekarang di sini (KP3B-red) juga mulai
ramai warga yang jalan dan joging. Tapi mau bagaimana lagi, kita tidak punya
pilihan. Terpaksa, anak-anak tetap harus latihan di sini,” cetus Kusnia.

Kusnia
yakin, jika Perserosi Kota Serang memiliki lintasan sepatu roda sendiri dan
permanen, semangat atletnya untuk mengukir prestasi bakal lebih terdongkrak.
“Kalau anak-anak mah mau latihan di mana saja, tetap semangat saja. Cuma kalau
Kota Serang punya (lintasan sepatu roda-red) sendiri mah, saya yakin semangat
atlet semakin berlipat ganda. Selain itu, atletnya akan bertambah semakin
banyak karena peminatnya sudah banyak. Karena orangtua bisa mendampingi dan
mengawasi langsung. Jadi, intinya mah pengen Kota Serang punya lintasan sepatu
roda sendiri,” tutup Kusnia.

SIAPKAN JAWARA PORPROV

Sementara,
Perserosi Kabupaten Tangerang telah menyiapkan lima atletnya untuk Pra PON
2019. Yakni, Zhahwa, Saskia, Afifah, Vicka, dan Arthur. Mereka peraih medali
emas pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Banten 2018 di Kabupaten
Tangerang, 4-11 November.

Pelatih
Kepala Sepatu Roda Kabupaten Tangerang Hengky Hendrayana Surya optimistis,
kelima anak didiknya dapat bersaing masuk tim Pra PON sepatu roda Banten.
Soalnya, kelima atlet itu tampil gemilang pada multievent empat tahunan
tingkat Banten.

“Mereka semuanya mempersembahkan medali emas
buat Kabupaten Tangerang,” tegasnya, kemarin (6/1).

Di Porprov V, Zhahwa disebutkan menyabet empat medali emas dari nomor 15.000, maraton, dan khusus di nomor relay (bersama Afifah dan Vicka) serta team time trial (bersama Afifah dan Vicka). Lalu, Vicka meraih medali emas di nomor pendek dan nomor individual time trial (ITT) 300 meter, sedangkan Afifah merebut medali emas untuk sprint 1.000 meter dan poin to poin 10.000 meter. Kemudian, Saskia mendapat medali emas untuk nomor pendek ITT 100 dan 200 meter. Arthur meraih medali emas di nomor pendek ITT 300 meter.

“Prestasi itu jadi bukti dan modal untuk
tampil di level nasional,” jelas Hengky.

Saat ini kelima atlet sepatu roda Kabupaten Tangerang ini tetap menjalani latihan rutin di Sirkuit Sepatu Roda, Bumi Serpong Damai (BSD), Kabupaten Tangerang. “Mereka terus rutin kita geber latihan karena kalender kegiatan kejuaraan tahun ini cukup padat. Jadi, dibutuhkan kemampuan fisik, teknik, dan mental yang lebih untuk bersaing merebut prestasi,” tutur Hengky yang juga menjabat Ketua Binpres Porserosi Banten.

Atlet Afifah mengaku bersemangat menjalani program latihan di awal 2019. Ia menargetkan prestasi di kancah nasional. “Saya ingin meraih banyak prestasi di tahun ini terutama tingkat nasional. Makanya, saya mulai rajin latihan sesuai instruksi pelatih,” ujarnya. (BRP/RBG)