Takut-Takuti Istri Kok Pakai Talak (Bag 1)

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Setiap suami pasti menginginkan seorang istri penurut. Kadang kala ketika sang istri belum jinak, suami melakukan segala cara agar si istri menjadi seperti yang diinginkan. Hanya saja, apa yang dilakukan Kohed (54), nama samaran, terlalu berlebihan. Dia memanfaatkan lembaga Pengadilan Agama untuk menakuti Juminten (46), nama samaran istri Kohed.

Dengan santainya, Kohed mendaftarkan permohonan cerai talak kepada Pengadilan Agama. Ini ia lakukan semata-mata agar Juminten jera terus melawan Kohed. “Saya terpaksa mendaftarkan cerai ke Pengadilan Agama. Habisnya Juminten terus melawan saya. Bahkan dia balik nantang, apa benar saya berani ke Pengadilan Agama. Ya sudah saya pergi saya ke Pengadilan Agama,” terangnya.

Cara itu memang efektif, Juminten langsung ketakutan dan akhirnya menurut dengan semua perkataan suami. Lantaran tujuannya sudah tercapai, Kohed tidak meneruskan proses perceraian di Pengadilan Agama.

Sayang, dia tidak pernah membatalkan permohonan cerainya. Ia tidak kembali ke Pengadilan Agama untuk mencabut permohonannya itu. “Malu Mas, enggak berani balik lagi ke Pengadilan Agama,” akunya.

Kohed dan Juminten pun tidak pernah sekali pun memenuhi surat undangan mediasi dari Pengadilan Agama. Lantaran hal tersebut, pihak Pengadilan Agama membatalkan proses perceraian mereka. “Karena tidak ada satu pun proses perceraian yang kami hadiri, akhirnya batal sendiri,” jelasnya.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Kohed sampai mau talak Juminten? Begini ceritanya. Pasangan yang telah dikaruniai tiga anak ini kerap terlibat pertengkaran hebat. Selama empat bulan berturut-turut, baik Kohed dan Juminten selalu silang pendapat. Gara-garanya rumah tangga pasangan ini diambang kehancuran. Apalagi ketika Kohed mendaftarkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama.

Pengakuan Juminten, sumber perengkaran itu muncul karena Kohed berubah menjadi pria keras kepala. Sepulang dari Arab Saudi sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), Kohed tiba-tiba ingin diperlakukan layaknya seorang raja. “Dulu, suami saya fleksibel, tidak kaku. Tapi sepulang dari Arab, dia jadi seperti raja. Pokoknya apa yang dia katakan harus dituruti. Kalau tidak, langsung marah-marah,” katanya.

Kohed disewa oleh sebuah agen TKI untuk bekerja sebagai pekerja pada proyek perluasan Masjidil Harram. Bayarannya ternyata luar biasa, per bulan dia di gaji hingga Rp10 juta. Selama lima tahun terakhir, Kohed bekerja bersama sejumlah pekerja asal Indonesia lainnya. Akhir Desember 2014, kontraknya habis dan Kohed memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak tersebut. Bersambung…