Tampil Seksi Bikin Mertua Emosi

Berniat ingin menutupi kekurangan malah menjadi bumerang. Hal
demikian dialami Surti (34), nama samaran, seorang ibu rumah tangga asal
Kecamatan Kasemen dalam menjalani rumah tangga bersama suaminya, sebut saja
Tejo (35). Tidak ingin dibilang gemuk, Surti mencoba berpenampilan seksi pasca
melahirkan anak, mengenakan kerudung tapi berpakaian ketat atau dikenal dengan
tren fesyen jilbob. Namun, apa yang terjadi, perubahan Surti itu malah bikin
sang mertua emosi dan suami geram hingga memutuskan untuk pisah ranjang.
Astaga. 

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, siang itu wajah Surti penampilannya cukup menggoda, berpakaian super ketat, tengah asyik menikmati bakso sambil meneteskan keringat. Setelah berkenalan, Surti terlihat bersemangat menceritakan kisah masa lalunya.

Selama berumah tangga, Surti mengaku tidak pernah diberi kebebasan oleh suami dan keluarga, khususnya dalam berpenampilan. Surti ingin seperti rekan-rekan kerjanya yang selalu terlihat menarik, berpenampilan dengan pakaian ketat.     

Biasanya Surti kerap menjadi bahan bully rekan-rekan kerjanya karena dianggap norak dalam berpenampilan, tidak mengikuti perkembangan zaman. Lantaran itu, Surti terpacu untuk meniru penampilan teman-teman wanitanya yang lain. Namun, keinginannya selalu dicegah sang suami dan memicu emosi sang mertua karena dinilai sebagai perempuan tidak baik.

“Kalau saya tampil cantik dan seksi, harusnya kan suami juga ikut bangga. Ini malah emosi,” tukasnya. Cantik enggak harus seksi, Mbak.

Surti pun menceritakan awal pertemuannya dengan Tejo. Katanya, kisah asmaranya dengan Tejo terjadi sudah belasan tahun. Saat itu, di saat Surti sedang asyik menikmati suasana sore bulan Ramadan di kawasan Banten Lama, tiba-tiba dihampiri Tejo yang langsung mengajaknya berkenalan. Tentu sikap Tejo yang jantan itu membuat Surti kebingungan sekaligus deg-degan. Surti pun akhirnya terima diajak berkenalan dan bertukar nomor telepon. Merasa keduanya saling tertarik, sejak itu mereka semakin intens berkomunikasi.

Keesokan harinya, mereka janjian bertemu sekadar kumpul-kumpul bersama teman-teman yang lain. Semakin intens bertemu dan ada kecocokan, keduanya semakin hari semakin lengket. Tiga bulan kemudian mereka pun jadian. Momentum malam Minggu pun tak pernah dilewatkan mereka berdua untuk berpacaran.

“Dia sering bawain martabak dan buah. Orangnya baik,” pujinya. Baru martabak Mbak, kalau sudah bawa sebongkah berlian baru tuh baik.

Gimana enggak baik, Tejo merupakan lulusan pesantren di Pandeglang. Enam tahun lebih ia menimba ilmu, sikapnya juga sopan dan saleh, selain memiliki wajah rupawan serta suara merdu yang membuat Surti kesemsem dibuatnya.

Surti juga demikian, parasnya ayu, kulitnya putih dan bertubuh bohai. Pokoknya, Kembang desa di kampungnya, menjadi rebutan para lelaki hidung belang. Makanya, tak sampai satu tahun pacaran, Tejo langsung melamar Surti menjadi pendamping hidupnya.

Surti tak langsung menerima ajakan Tejo, jual mahal dikit dan meminta waktu satu bulan untuk berpikir. Enggak mau menyia-nyiakan kesempatan, Tejo langsung menghadap orangtua Surti untuk memperlancar proses lamaran tersebut. Tekad Tejo untuk menggandeng Surti pun berbuah hasil. Berkat keseriusan yang ditunjukkan Tejo, lamarannya langsung diterima kedua orangtua Surti. “Saya juga bingung, waktu itu rasanya senang aja pas Mas Tejo datang ke rumah bersama keluarganya,” akunya. Malu-malu kucing nih, Mbak.

Seminggu kemudian, pesta pernikahan mereka pun digelar dan berlangsung meriah. Keduanya menerima ucapan selamat dari para ratusan tamu undangan. Beruntung Surti mempunyai suami seperti Tejo yang sudah mapan. Tejo merupakan guru SMA berstatus ASN. Cukuplah sebagai bekal berumah tangga.

Mengawali rumah tangga, Tejo dan Surti tinggal di rumah keluarga pria. Awalnya mereka behagia dan harmonis. Di tengah perjalanan, Surti mulai bergaul dengan tetangga yang menjadi teman baru di lingkungannya. Kebetulan, tetangganya rata-rata masih mahmud alias mamah muda atau baru-baru menikah. Pakaiannya pun modis, yang membuat Surti terbawa suasana dan larut di dalamnya.

Tejo yang mengetahui dengan perubahan Surti langsung mengambil sikap. Surti dilarang Tejo bergaul kembali dengan tetangga. Menurut Tejo, orang yang sudah berumah tangga kalau sudah berkumpul ujung-ujungnya ngerumpi dan menimbulkan dosa. “Susah kalau enggak ikut nimbrung, malah disangka sombong,” ketusnya. Kalau pergaulannya enggak baik ya mending dijauhi saja Mbak, benar tuh suami.

Setahun berjalan rumah tangga, Surti semakin akrab dengan lingkungan sekitar. Itu karena Surti selalu bersikap ramah dan baik terhadap siapa saja. Setelah melahirkan anak pertama, Surti mulai mengeluh dengan bentuk tubuhnya yang mulai melar. Dari situ, terbesit dalam pikiran Surti untuk merubah penampilan dengan berpakaian ketat. Awalnya, Surti masih ragu-ragu karena ada larangan dari suami. Namun, ketika sang anak tumbuh balita, Surti memberanikan diri diam-diam membeli pakaian-pakaian ketat dan dikenakannya berkeliling kompleks.

Suami yang mengetahui Surti berpenampilan seronok dengan lekukan tubuhnya, langsung menegurnya. “Saya cuma enggak mau dibilang gemuk setelah melahirkan, saya pengin terlihat tetap cantik gitu,” kelitnya. Tampil cantik tak harus berpenampilan ketat, Mbak.

Teguran Tejo pun tak dihiraukan Surti yang tetap pada pendiriannya. Satu waktu, Surti dengan pakaian ketatnya kepergok sang mertua. Bahkan, kepergok mertua pada saat Surti pulang larut malam setelah pergi jalan-jalan bersama teman-temannya. Mendapat teguran mertua yang langsung mengadukannnya kepada Tejo, keributan antara suami istri itu pun tak terhindarkan. Surti dimarahi ibu mertuanya karena dianggap tak bisa menjaga kehormatan suami. Bukannya meminta maaf, Surti malah melawan.

“Ya saya kesel, kok hidup saya kayak diatur-atur sama dia (merujuk ke mertua-red),” kesalnya. Jangan gitu Mbak, kualat loh.

Mendengar kabar Surti berdebat dengan mertua membuat Tejo geram dan memarahi Surti. Merasa terasingkan di rumah keluarga suami, malam itu juga Surti pulang ke rumah orangtua dengan berlinang air mata. Namun, Tejo yang memang sudah terlanjur sayang kepada Surti langsung menjemput Surti di rumahnya dan meminta maaf. Tejo membujuk Surti untuk kembali ke rumah.     

Awalnya Surti menolak. Sampai akhirnya, Tejo membeli rumah pribadi yang membuat Surti berubah pikiran untuk kembali ke pangkuan suami. Mereka akhirnya kembali rujuk dan rumah tangga pun kembali harmonis. Tapi, tidak dengan Surti dan ibu mertuanya.

“Ya masih diem-dieman saja (dengan mertua-red),” akunya. Jangan dong Mbak, mertua itu anggap ibu kandung sendiri. Yassalam. (mg06/zai/ira)