Tanah Bergerak, 41 Rumah Rusak

0
1189
Relawan BPBD Lebak meninjau rumah warga Jampang, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, yang rusak berat akibat bencana tanah bergerak, kemarin.

CIMARGA – Sebanyak 41 rumah, di Kampung Jampang, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga mengalami kerusakan akibat bencana tanah bergerak, Minggu (31/1). Dari puluhan rumah itu, empat rusak berat, dan 37 rumah lainnya mengalami rusak ringan.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizki Pratama menyatakan, pada 31 Januari 2021 masyarakat melaporkan bencana pergerakan tanah kepada BPBD.

Tim dari BPBD kemudian melakukan survai dan pendataan ke Kampung Jampang di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga. Hasilnya, empat unit rumah rusak berat dan 37 unit rumah rusak sedang.

“Iya, akibat tanah bergerak rumah warga Jampang kembali mengalami kerusakan di bagian dinding dan lantai bangunan,” kata Febby kepada Radar Banten, kemarin.

Menurutnya, bencana tanah bergerak di Jampang merupakan yang kedua, sebelumnya terjadi pada awal 2019 lalu. Puluhan rumah waktu itu rusak dan bahkan roboh, sehingga masyarakat harus tinggal di tenda pengungsian yang dibangun BPBD Lebak dan ketika itu telah menerima bantuan stimulan untuk pembangunan rumah dari Pemerintah Daerah Rp15 juta per kepala keluarga (KK).

“Enggak semua bangunan terdampak pergerakan tanah pada 2019. Karena hamparannya terpisah. Tapi, sekarang bangunan yang dulu tidak terdampak pergerakan tanah, justru mengalami kerusakan sejak awal tahun ini,” katanya.

Menurut Febby, untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, masyarakat memilih untuk keluar rumah. Mereka khawatir, curah hujan dapat memicu pergerakan tanah dan merobohkan bangunan rumah warga yang saat ini ada.

“Hasil penelitian dari Badan Geologi pada 2019 lalu, kontur tanah di Kampung Jampang sangat labil. Apalagi, di sana dekat dengan aliran sungai,” paparnya.

Febby mengaku, terus memantau bencana tanah bergerak di Jampang. Bahkan, para relawan BPBD secara berkala membuat laporan terkait bangunan rumah yang rusak itu.

Apabila kondisinya tambah parah, maka BPBD menyarankan kepada masyarakat untuk mengungsi. “Bantuan tanggap darurat terhadap masyarakat di Jampang sudah kita salurkan. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana pergerakan tanah,” ungkapnya.

Febby mengatakan, bencana tanah bergerak berbeda dengan longsor atau likuifaksi. Kalau pergerakan tanah dampaknya tidak cepat dirasakan masyarakat, karena pergerakannya simultan. Akan tetapi, jika longsor dan likuifaksi pergerakannya cepat dan dampaknya langsung dirasakan.

Untuk itu, sampai sekarang tanah di Jampang masih bergerak dan potensi rumah yang rusak berat bertambah akan semakin besar.

“Data kerusakan rumah di sana pasti akan terus berubah, karena tanahnya masih bergerak,” jelasnya.

Surya, warga Jampang, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga membenarkan, puluhan rumah di kampungnya mengalami kerusakan akibat tanah bergerak yang terjadi sejak awal tahun 2021.

Peristiwa itu, kata dia, telah dilaporkan masyarakat kepada Pemerintah Daerah, yang harapannya bisa segera mendapatkan bantuan.

“Harus ada solusi bagi masyarakat di Jampang. Kalau dibiarkan terus, maka akan berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat,” ungkap Surya. (tur/zis)