Tangani Pandemi, Ekonomi Diproyeksi Tumbuh

0
464
Petugas menyemprotkan disinfektan sepanjang jalur CFD secara berkala, jalan Veteran, Kota Serang, Minggu (1/11). Namun karena kekhawatiran kasus bertambah, CFD kembali ditutup.

SERANG – Apabila pemerintah mampu menangani pandemi Covid-19 secara efektif, maka ekonomi diproyeksikan akan tumbuh. Tak hanya mampu menangani pandemi, tapi pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan apabila sejumlah langkah akselerasi pemulihan ekonomi juga dilakukan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan, pihaknya memproyeksi ekonomi Banten pada 2021 bisa tumbuh sebesar 4,9 hingga 5,9 persen. “Meski di tengah kontraksi perekonomian akibat dilanda pandemi Covid-19, tapi selama dua triwulan terakhir ekonomi Banten mampu tumbuh 4,5 persen,” ujar Erwin dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia 2020 yang digelar secara virtual, Kamis (3/12).

Erwin mengatakan, berbagai indikator telah menunjukkan pemulihan secara sedikit demi sedikit. Hal ini menjadi sinyal untuk mengambil peluang pemulihan ekonomi di Banten.

Kata dia, sejalan dengan tantangan dan berbagai resiko yang dihadapi untuk mendorong ekonomi nasional yang diperkirakan akan tumbuh dikisaran 4,8 hingga 5,8 persen, maka pertumbuhan ekonomi Banten diperkirakan 4,9 sampai 5,9 persen. Sedangkan inflasi terjaga di level 3 plus minus 1 persen.

Ia menerangkan, pencapaian tersebut dapat tercapai dengan memenuhi syarat keharusan atau nesessary condition. Syarat itu berupa penanganan Covid-19 secara efektif dan penerapan protokol kesehatan secara disiplin dengan produktif.

Erwin memaparkan, untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi Provinsi Banten setidaknya ada lima hal yang setidaknya dipandang perlu untuk diambil. Pertama, akselerasi konsumsi masyarakat. “Tekanan terhadap konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Kata dia, pertumbuhan ekonomi perlu segera diatasi. Salah satunya dengan berlanjutnya program pemulihan ekonomi nasional (PEN) di 2021. Program itu merupakan stimulus dari pemerintah pusat dan daerah. “Dan harus dipastikan terealisasi dengan cepat dan tepat sasaran,” tutur Erwin. Diharapkan pada 2021 nanti, kendala penyaluran stimulus dapat teratasi antara lain dengan pemantapan kualitas data dan dukungan bank penyalur. 

Kedua, lanjutnya, memperkuat iklim investasi sekaligus peningkatan kualitas tenaga kerja. “Banten sebagai provinsi berbasis industri harus terus memberi daya tarik ke investor,” tegasnya.

Kata dia, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menjadi sektor penanaman modal terbesar di Banten sepanjang 2020. Tahun depan, investasi di Banten diproyeksikan membaik seiring dengan membaiknya perekonomian perekonomian AS dan juga Tiongkok, serta membaiknya pisces confident. “Dan juga dengan dukungan percepatan regulasi, rencana penanaman modal asing, serta relokasi sejumlah perusahaan ke Indonesia,” terang Erwin.

Ia mengatakan, momentum tersebut harus dimanfaatkan secara optimal sebagai new booster dalam mengakselerasi perekonomian Banten. Tumbuhnya investasi tentu memberikan implikasi positif bagi penyerapan tenaga kerja. Tercatat tenaga kerja yang terlibat di sektor tersebut mencapai 51,8 ribu orang. Angka investasi yang terus berkembang harus mampu mengurangi angka pengangguran di Banten.

Setidaknya, kata dia, terdapat tiga kriteria guna penguatan kapasitas dan kapabilitas SDM yaitu berdaya saing, berkelanjutan, dan juga inklusif. Pemerintah Indonesia memberikan perhatian besar pada pendidikan vokasi teknologi informasi dan partisipasi sektor swasta dalam pendidikan. “Hal serupa perlu kita adaptasi dengan cepat menghadapi revolusi industri 4.0,” tuturnya.

Kemudian, langkah ketiga adalah terus mendorong sektor ekonomi prioritas. Tiga sektor unggulan Banten yaitu sektor industri pengolahan, perdagangan, dan juga konstruksi perlu menjadi prioritas untuk tetap berproduksi secara aman. Secara khusus industri alas kaki, petrokimia, dan logam yang mempunyai sifat industri di Banten tetap perlu menjadi perhatian dan layak terus dipacu.

Ia menegaskan, sektor industri ini juga harus mampu memberikan daya dukung bagi penyerapan tenaga kerja. Ke depan, pihaknya melihat penting untuk mengembangkan forum komunikasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan juga dunia usaha untuk memperkuat sinergi dan melakukan inovasi industri.

“Sinergitas penyederhanaan perizinan dan juga pengembangan investor relation pemerintah daerah perlu dibangun untuk menjaga iklim investasi tetap menarik,” tegas Erwin. Termasuk juga mendorong pemberdayaan Kawasan Industri didukung dengan akses konektivitas ekspor dan impor. 

Langkah keempat, lanjutnya, pemerintah daerah di Banten tidak melupakan sektor pertanian yang terbukti mampu terus tumbuh di tengah badai ekonomi tahun ini. Tercatat secara nasional, sektor pertanian terus tumbuh positif mencapai 2,5 persen secara tahunan. Sementara di Banten mampu tumbuh lebih tinggi yaitu sebesar 3,83 persen.

Oleh karena itu, langkah tepat yang dapat diambil adalah mendorong optimalisasi sektor pertanian di Banten. Setidaknya terdapat tiga dimensi penting dalam pengembangan ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan, aksesibilitas pangan, dan utilisasi pangan. 

Langkah terakhir, lanjut Erwin, adalah penguatan ekosistem ekonomi digital. Langkah ini perlu dijadikan momentum UMKM untuk bangkit dan masuk ke dalam era digitalisasi. Bagi para UMKM BI dalam penguatan ekonomi digital dituangkan di dalam sistem pembayaran Indonesia 2025. Salah satunya dalam implementasi standar pembayaran yang mudah melalui QR code Indonesia standard (QRIS ).

Kata dia, lima langkah tersebut tidak akan optimal tanpa sinergi dan juga dukungan dari pemerintah daerah, dunia usaha, hingga perbankan. Ia optimistis, proyeksi pertumbuhan ekonomi 4,9 hingga 5,9 persen di 2021 bisa terlaksana karena telah terjadi tiga lompatan besar di Provinsi Banten. Pertama, mampu mengawal stabilitas harga melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Lalu, terbentuknya BUMD pangan yakni PT Agrobisnis Banten Mandiri-red yang diharapkan dapat mewujudkan ketahanan pangan di Banten.

Kedua, makin kokohnya lompatan ekspor dan investasi di Banten di tengah pandemi. “Secara nasional kinerja ekspor Banten menempati peringkat kelima. Demikian pula dengan investasi yang menempatkan Banten posisi keempat secara nasional,” ujar Erwin.

Selanjutnya, lompatan ketiga adalah semakin terbangunnya kesiapan pemerintah dalam transformasi digital. Pihaknya mencatat beberapa capaian di Banten. Pertama, penyaluran bantuan sosial secara non tunai tercatat sebagai salah satu sedikit provinsi yang melakukannya. Kedua, adopsi QRIS memiliki jumlah mercant yang mencapai 355 ribu dan menempatkan Banten pada posisi keempat secara nasional.  

Kata dia, berdasarkan indeks capaian elektronifikasi pemerintah daerah Banten, terdapat enam kabupaten/kota yang telah berada kelompok yang dinilai memiliki kesiapan infrastrutur dan siap untuk ekspansi untuk percapatan digitalisasi daerah. (nna/air)