Tangis Penyesalan Istri Durhaka

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Sinta (45), nama samaran, menangis tersedu-sedu. Tangisannya mengandung penyesalan tiada henti, lantaran mengingat bagaimana kejamnya dia memperlakukan Hendro (51), suaminya yang telah almarhum.

Penyesalan memang selalu datang terakhir, jika datang di awal namanya pendaftaran. Itulah lelucon yang dikatakan Sinta saat memproses hak waris anak-anaknya di Pengadilan Agama. Wanita dengan busana hijab elegan ini datang dengan kedua anaknya. Mereka mendapat hak waris sejumlah aset senilai Rp5 miliar dari Hendro. “Wasiat ini berlaku ketika anak-anak lulus SMA. Pada warisan ini, ditujukan untuk kedua anak kami dan pengelolaanya saya,” jelas Sinta.

Menurut Sinta, ia merasa kaget menerima wasiat ini. Sebab menurutnya, jumlah nilai wasiat yang diberikan kepadanya tidak sebanding dengan perlakuan dirinya kepada Hendro. “Semasa Mas Hendro masih hidup, saya selalu memperlakukannya seenak diri. Saya ini istri durhaka, tidak berbakti dan bahkan ngelunjak,” aku Sinta.

Sikapnya ini, kata Sinta, berlatar belakang karena pernikahan yang dipaksakan. Sinta dan Hendro menikah karena dijodohkan. “Dulu saya marah kepada orangtua. Amarah saya ditumpahkan kepada Mas Hendro,” terangnya.

Ia pun menerangkan tentang kisah hidupnya dengan Hendro. Ini bermula ketika dirinya kuliah dan menjalani profesi sebagai model. Menurut Sinta, profesinya membuat kuliahnya acak-acakan. Ia terlalu fokus dengan dunia modeling. “Jadi model itu kan harus kemana-mana, uangnya juga oke. Makanya saya mengorbankan kuliah,” kata Sinta.

Saat itu Sinta menikmati kehidupannya yang glamor. Namun kedua orangtua khawatir, dunia Sinta acak-acakan dan jauh dari harapan. “Orangtua kan ingin yang bagus-bagus. Saya lulus kuliah dengan nilai baik dan mencari kerja, lalu menikah. Tapi saya tidak begitu, saya suka dengan dunia modeling. Sebab bertemu banyak orang dan selalu difasilitasi,” terangnya.

Untuk menyelamatkan Sinta, orangtuanya memutuskan untuk menjodohkan dia dengan Hendro. Kebetulan Hendro merupakan anak dari sahabat ayahnya. “Ayah panggil saya, katanya saya akan dinikahkan. Lalu saya tidak boleh menolak, pokoknya saya harus menikah saat itu,” jelasnya.

Sinta marah besar, dia sampai hendak kabur karena tidak suka dengan keputusan sepihak orangtua. Namun niatan itu batal dilakukan, sebab ia dijaga ketat oleh orangtuanya. “Saya sempat berontak, mau kabur. Tapi berkali-kali berhasil dicegah,” terangnya.

Akhirnya pernikahan pun terjadi. Akad nikah digelar sederhana, begitu pula saat resepsi. Hari itu, merupakan pertama kali Sinta bertemu Hendro. Sebagai seorang model, sosok Hendro bukanlah pria impian Sinta. “Saya itu suka pria tinggi dan berkulit putih. Tapi Mas Hendro itu hitam, tambun, dan berkumis,” ujarnya.

Ketika itu, Sinta masih barulah. Meskipun dia mau mengikuti akad dan resepsi, namun ia menolak untuk tidur bersama di malam pertama. “Saya sejak awal memperlihatkan sikap berontak. Saya bilang kalau saya bukan tipe wanita yang mau diatur,” terangnya.

Hari berikutnya, Sinta diajak Hendro tinggal di rumahnya. Butuh tiga minggu bagi Hendro untuk membujuk Sinta agar mau tidur satu ranjang dengannya. “Setelah beberapa waktu tinggal bersama. Akhirnya saya memutuskan untuk satu ranjang. Lagi pula, kami kan suami istri. Ganjil juga kalau tidurnya berpisah,” jelasnya.

Sinta cukup beruntung, sebab Hendro adalah sosok lelaki pekerja keras tapi berhati lembut. Ia adalah seorang pebisnis dan juga pemilik sejumlah toko alat tulis kantor (ATK). Penghasilan Hendro lumayan besar. Ia bisa memenuhi kebutuhan keluarga bahkan mampu mengimbangi gaya hidup Sinta yang terbiasa glamor. “Saya kan kuliah lagi, dia biayai kuliah saya. Lalu saya juga minta dibiayai buat perawatan ke salon, spa, yoga, aerobik, dan lain-lain,” terangnya.

Hendro memenuhi semua keinginan Sinta. Namun perlakuan itu tetap tidak diapresiasi sang istri. “Karena pada dasarnya saya tidak cinta, dia tetap saya perlakukan kasar. Saya pernah suruh Mas Hendro menyapu, cuci piring, cuci baju, dan sebagainya,” aku Sinta.

Namun pada pertengahan 2010, kecelakaan lalu lintas terjadi. Hendro meninggal karena tergelincir ke luar tol. Saat itulah penyesalan Sinta muncul. Ia baru merasakan cinta sang suami yang selama ini tulus kepadanya. “Saat Mas Hendro meninggal, hati saya tersayat-sayat. Saya tidak tahu kenapa, padahal saya kira tidak cinta. Tapi waktu itu saya benar-benar merasa kehilangan dia,” tuturnya.

Meninggalnya Hendro menyisakan trauma dalam batin Sinta. Gara-gara itu, dia sampai tidak bisa memalingkan matanya kepada laki-laki lain. Selama enam tahun lamanya, Sinta bertahan hidup menjanda. Hatinya selalu menolak jika ada laki-laki yang datang kepadanya. “Beberapa kali, saya mau dijodohkan lagi. Tapi kali ini saya benar-benar menolak. Saya memilih mendedikasikan hidup saya untuk anak-anak,” jelasnya.

Karena itulah, Sinta semakin sedih dan merasa bersalah ketika menerima harta warisan itu. Hidayah yang diterima Sinta sungguh berat, sebab ia benar-benar merasa sebagai istri durhaka. “Dosa saya tidak terampuni. Suami yang cinta dengan tulus saya sia-siakan semasa hidupnya. Saya sangat menyesal,” katanya. (RB/quy/zee)