Tangsel Berduka, Airin Menangis

Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany memeluk salah satu keluarga korban di RSUD Tangsel, Minggu (11/2). Airin pun larut dalam kesedihan yang dirasakan warganya itu.

TANGSEL – Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany mengenakan kemeja hitam lengkap dengan celana dan sepatu kets yang juga hitam. Matanya menggambarkan kesedihan yang sangat mendalam. Orang nomor satu di Kota Tangsel itu pun tak kuasa menahan air mata.

“Semuanya gimana? Sudah berapa yang datang? Aman semua?” kata Airin dengan suara terbata-bata kepada Wakil Walikota Benyamin Davnie, Kapolres Tangsel AKBP Fadli Widyanto, Dandim 0506 Letkol Inf Imam Gogor Agni, Sekda Tangsel Muhammad, dan Dirut PT Jasa Raharja Budi Rahardjo saat tiba di RSUD Tangsel untuk menjenguk korban kecelakaan bus di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat (Jabar), yang menewaskan 27 orang (26 warga Tangsel dan 1 warga Karawang), Minggu (11/2).

Airin terlihat terlibat obrolan serius dengan rombongan muspida yang menyambutnya itu. Setelah itu, Airin berjalan ke sebuah tenda yang ditempati keluarga dan kerabat korban bus maut. Kedatangan Airin langsung disambut pecah keluarga korban. Mereka lalu dipeluk Airin. Air mata ibu dua anak itu tak terasa turun. “Iya, yang sabar, yang tabah, ikhlaskan,” kata Airin sambil menyeka air matanya yang terus turun.

Di tenda keluarga korban itu, Airin terus berusaha untuk menenangkan mereka yang berduka. Sekira 30 menit, Airin menerima tangis dan keluhan keluarga korban. Setelah itu, Airin memutuskan masuk ke dalam gedung pemandian dan visum korban meninggal bersama rombongan.

Kemarin, Airin sengaja membatalkan semua agenda kegiatannya semata-mata untuk memastikan semua jenazah dipulangkan ke rumah duka masing-masing. “Saya turut berduka cita. Duka sedalam-dalamnya, semoga amal ibadah almarhum dan almarhumah diterima Sang Maha Kuasa,” ujar Airin saat memberikan ucapan duka cita di hadapan keluarga korban.

Tak hanya menenangkan keluarga korban meninggal, Airin juga menjenguk korban yang mengalami luka parah di ruang rawat. Ditanyai satu-satu tentang keadaan mereka. Di sanalah, tangis korban luka berat juga turut pecah. “Sekarang semangat untuk sembuh yah, jangan pikirkan apa-apa. Asal sembuh dan kembali ke sediakala,” ujar Airin kepada salah satu korban bernama Naman.

Sementara itu, saat konferensi pers, Direktur Utama PT Jasa Raharja Budi Rahardjo menegaskan, PT Jasa Raharja akan memberikan santunan kepada korban. “Yang meninggal akan kami berikan santunan sebesar Rp50 juta, sementara yang luka berat Rp20 juta sampai sembuh,” kata Budi. Saat konferensi pers itu, turut hadir Airin, Kapolres Tangsel AKBP Fadli Widyanto, Direktur RSU Tangsel Suhara Manullang, dan pejabat lainnya.

Kata Budi, pihaknya akan mentransfer uang santunan kepada ahli waris. Jika ahli waris tidak memiliki nomor rekening maka akan dibuatkan rekening saat itu juga. “Saat ini, pengiriman sudah berlangsung,” pungkasnya.

20 AMBULANS

Jenazah korban dibawa ke RSUD Tangsel dari RSUD Subang pada Minggu (11/2) pagi. Ratusan orang yang memadati RSUD Tangsel, tidak dapat menahan kesedihan. Satu per satu, jenazah yang masih terbungkus kantong kuning itu dimasukkan ke dalam ruang visum dan pemandian terakhir. Sebanyak 26 jenazah dimandikan di dalam rumah sakit tersebut.

Tak hanya sanak keluarga yang kehilangan menyesaki halaman RSUD Tangsel yang biasanya lapang itu. Dokter ahli, dokter magang, tim PMI, suster, tim UGD, sampai dengan Direktur RSU turun tangan menangani jenazah-jenazah yang kebanyakan sulit dikenali itu.

Petugas membawa jenazah ke ruang visum RSUD Tangsel, Minggu (11/2). Sebanyak 27 orang meninggal akibat kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang.

Sekretaris Daerah Kota Tangsel Muhamad mengatakan, musibah ini adalah duka besar bagi Tangsel. “Saya minta 20 ambulans untuk menjemput jenazah atau korban dengan luka berat karena RSUD Subang kewalahan menangani korban. Pagi ini (kemarin-red) jenazah tiba. Rasanya ini cukup membuat kami terpukul,” katanya.

Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kota Tangsel Apendi mengatakan hal yang sama. “Doakan teman-teman saya. RT saya juga meninggal. Saya seharusnya ikut dan ada di dalam bus I (bus yang kecelakaan-red). Cuma karena ada beberapa hal yang tidak bisa saya tinggal, saya tidak ikut,” kata dia dengan suara parau, terbata-bata, dan isakan tipis.

Sekira pukul 11.00 WIB, semua jenazah dipastikan tiba. Selanjutnya, diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dikuburkan.

Bus pariwisata Premium Passion mengalami kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Subang, Sabtu (10/2) pukul 17.00 WIB. Sebanyak 27 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka dalam kecelakaan itu. Mereka adalah rombongan wisata Koperasi Permata Ciputat Tengerang Selatan.

Rombongan baru saja mengunjungi objek wisata Tangkuban Perahu. Namun, di tengah perjalanan menuju arah Subang, bus menabrak tebing sebelah kiri jalan, lalu terguling di bahu jalan sebelah kiri Tanjakan Emen. Sebelumnya, bus menabrak sepeda motor Honda Beat bernomor polisi T 4382 MH.

Kasubag Humas RSUD Ciereng Subang Mamat Budi Rakhmat mengatakan, korban meninggal kebanyakan karena patah tulang akibat terimpit badan bus. “Ada juga yang meninggal setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di RSUD Subang. Tidak tertolong karena luka yang serius,” jelasnya. (Nisa/RBG)

BAGIKAN