Tangsel dan Kota Tangerang Kembali Zona Merah

0
348 views

CIPUTAT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten telah memperbarui data peta sebaran Covid-19 Kabupaten/Kota di wilayah Banten pada Senin (30/11) lalu. Berdasarkan data melalui situs resmi www.infocorona.bantenprov.go.id, Kota Tangerang dan Tangsel kembali berstatus zona merah penyebaran Covid-19 dengan tingkat resiko penularan tinggi.

Padahal, sebelumnya dua kota tersebut berstatus zona orange penyebaran Covid-19 di wilayah Provinsi Banten dengan resiko penularan sedang. Seperti diketahui, kasus Covid-19 di Kota Tangsel masih terus bertambah. Berdasarkan data per Senin (30/11) tercatat ada penambahan 40 kasus baru positif Covid-19.

Dengan penambahan tersebut, kumulatif kasus positif Covid-19 di Kota Tangsel sudah mencapai 2.838 orang. Sebanyak 2.390 pasien di antaranya telah dinyatakan sembuh. Bertambah 19 orang dibandingkan data terakhir pada Minggu (29/11) lalu.

Sementara itu, angka kematian akibat positif Covid-19 di wilayah Tangsel bertambah dua. Sehingga totalnya menjadi 117 kasus. Saat ini, terdapat 331 pasien positif Covid-19 yang dilaporkan masih dirawat atau isolasi mandiri.

Menanggapi hal tersebut, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mengaku, Tangsel masuk zona merah lantaran ada penambahan kasus positif dan kematian. Kondisi ini yang sedang dilakukan pelacakan. “Penambahan positif ini karena apa dan di mana, dan kalau kematian sudah jelas karena orang yang datang ke RS terlambat,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (1/12).

Airin menambahkan, saat ini pihaknya sedang mendorong dan asistensi dari pemerintah pusat untuk melakukan isolasi mandiri berkualitas. Dengan menyandang status zona merah artinya kemungkinan ada penurunan kepatuhan protokol kesehatan di Kota Tangsel. Namun, ibu dua anak ini mengaku sejauh ini kepatuhan masayarakat masih sama.

“Saya tanya ke Dinkes, pelacakannya yang mereka dapat dari mana dan yang pasti adalah transmisi lokal. Yang paling penting adalah protokol kesehatan dan tetap menerapkan 3M,” tambahnya.

Menurutnya, angka kematian tinggi karena terlambat masuk ke rumah sakit. “Juga termasuk kita siapkan kesiapan ruang ICU dan ruang rawat inapnya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Liza Puspadewi mengatakan, angka positif rate mencapai 6,0 persen. Interaksi sosial warga seperti berkumpul serta libur panjang di luar rumah, menjadi penyumbang peningkatan kasus itu. “Dengan jumlah pemeriksaan swab test sebanyak 3.600. Jadi, positif rate tembus di angka 0,6 persen. Dan ini harus di waspadai, karena memang jika dibiarkan maka akan ada penambahan kasus lagi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa, (1/12).

Liza menjelaskan, jumlah tersebut meningkat dibanding pada minggu ke-37 dengan positif rate di angka 5,2. Dengan peningkatan kasus di minggu ke-38 penularan kasus, yakni 1,3 per-satu orang positif rate.

“Interaksi sosial itu apa sih, pertemuan pertemuan untuk keagamaan, pusat keramaian atau arisan itu naik dari 12 persen ke-24 persen. Artinya adanya kegiatan tersebut, membuat status zona orange kembali menjadi zona merah,” paparnya. (ran-bud/air)