Tanpa Pamrih, Nurlaela Dijuluki Dokter tanpa Sertifikat

Kisah Relawan Kesehatan Warga Pulomerak

0
543 views
Nurlaela bersama suaminya di Pos WPA Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak.

Perempuan ramah ini memilih hidup untuk mengabdi bagi kesehatan masyarakat. Pelayanan tersebut dilakukannya selama 24 jam tanpa lelah, tanpa pamrih, dan tak pernah mengeluh.

AMRIN NUR – Cilegon

Di tengah kepadatan penduduk Kelurahan Tamansari, Kecamatan Pulomerak, terdapat pos dengan pemandangan yang tidak biasa. Tidak ada kentongan atau peralatan lain yang biasa berada di pos keamanan lingkungan (poskamling).

Pos tersebut ternyata menjadi salah satu tempat aktivitas Nurlaela, Ketua Warga Peduli AIDS (WPA) Kecamatan Pulomerak. Di pos tersebut, terdapat banyak tulisan tentang HIV AIDS beserta cara pencegahannya. Termasuk aktivitas penyuluhan dan penanganan penderita penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Rumah Nurlaela persis di samping kanan pos WPA tersebut.

Dalam beberapa foto di pos tersebut, menggambarkan begitu banyak aktivitas perempuan berkerudung ini. “Banyak yang harus diberikan penyadaran perihal bahaya HIV AIDS. Bahkan, di Pulomerak ada lima ODHA. Jumlah penderita ODHA di Kecamatan Pulomerak ini peringkat kedua setelah Kecamatan Ciwandan,” kata Nurlaela mengawali perbincangan.

Nurlaela memang memilih menjadi aktivis pelayanan kesehatan masyarakat. Setiap hari pun ia standby di Puskesmas Pulomerak, meski bukan pegawai negeri sipil (PNS). “Ngantor di Puskesmas seperti PNS,” katanya saat ditanya aktivitas kesehariannya.

Setiap hari pula, ia membantu masyarakat tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan masyarakat dengan baik. Termasuk mengurus persyaratan jika hendak dirujuk Puskesmas ke rumah sakit. Bahkan hingga mengantar pasien tidak mampu secara ekonomi ke rumah sakit, meski hingga ke Jakarta.

Pelayanan selama 24 jam kepada masyarakat membuat Nurlaela harus rela meninggalkan keluarganya berhari-hari di rumah. Bahkan, bukan hanya untuk warga kurang mampu di Kecamatan Pulomerak, juga hingga warga di Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang. Saat warga membutuhkan pertolongan, tengah malam pun ia bangun. “Saya sudah jalani ini selama sepuluh tahun,” ujarnya.

Bukan hanya itu, ternyata ibu empat anak ini juga peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Ia mendampingi sekira 30 ODGJ di Kecamatan Pulomerak. Nurlaela merupakan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Akibat bergelut di dunia kesehatan, ia banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan. “Saya disebut dokter tanpa sertifikat,” ujarnya tertawa.

Profesi lain? Nurlaela juga merupakan pekerja sosial masyarakat (PSM), pengurus Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), kader JKN-KIS, dan kader Badan Narkotika Nasional (BNN). “Intinya, senang bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan banyak profesi pengabdian masyarakat, Nurlaela masih merasa belum banyak bermanfaat bagi masyarakat. Ia melihat, kerjanya untuk masyarakat kurang maksimal. “Tetapi berpatokan tetap bekerja dengan ikhlas, walau saya sadari ada pro dan kontra di masyarakat,” ujarnya.

Kamsari, cukup mengerti aktivitas istrinya, Nurlaela. Ia pun menitipkan pesan kepada buah hatinya agar tidak meminta imbalan terhadap setiap pengabdian kepada masyarakat. Meski berat, ia pun harus ikhlas ditinggalkan Nurlaela ketika ada tugas ke luar kota, baik untuk melayani masyarakat maupun pelatihan yang digelar pemerintah.

“Saya cukup terharu ketika ada masyarakat yang pernah dibantu, kemudian mengantarkan pisang ke rumah. Bagi kami, bukan imbalan yang diharapkan, tapi ibadah dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. (*)