Tanpa Subsidi, Bisnis Properti Kian Sulit

0
193

SERANG – Penjualan rumah di Banten khususnya rumah bersubsidi kian sulit. Daya beli menurun ditambah kuota fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) sudah habis. Padahal skema pembiayaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah itu andalan para pengembang perumahan bersubsidi.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Banten Roni Hadiriyanto Adali mengungkapkan, kuota rumah subsidi sudah habis dan membuat pengembang sulit menjual produk. Sementara rumah sudah dibangun dan siap huni.

“Ini tentu membuat pengembang bingung karena berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan terutama pengembang yang melakukan pinjaman untuk konstruksi perumahan,” kata Roni kepada Radar Banten akhir pekan lalu.

Menurutnya, kuota yang disediakan pemerintah tidak sejalan dengan rencana pemerintah yang ingin merealisasikan program satu juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Kuota yang diberikan pada 2019 lebih sedikit yakni 160.000 unit dibandingkan 2018 sejumlah 258.000 unit untuk seluruh Indonesia. Sementara pengembang di Banten, ada 75 persen yang menjual rumah subsidi. “Pengembang sudah banyak menyediakan hunian, tetapi kuota pemerintah terbatas,” katanya.

Ia mengungkapkan, kondisi saat ini membuat pengembang harus kreatif agar bisa tetap berjualan. Pengembang juga bisa menjual unit secara tunai atau kredit, meskipun tidak ada bantuan uang muka, suku bunga sesuai ketentuan perbankan, dan lainnya. Ini tentu akan berpengaruh terhadap daya beli karena berkaitan dengan cicilan dan uang muka yang lebih besar.

Ia menuturkan, pengembang juga memiliki alternatif program subsidi lain yang bisa ditawarkan kepada konsumen yakni Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT). Program ini terus disosialisasikan kepada pengembang dan masyarakat, tetapi memang ada beberapa kendala, salah satunya tidak semua daerah di Banten memiliki Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang menjadi salah satu persyaratan penerapan program bantuan tersebut. “Saat ini, REI tengah mendorong daerah agar bisa segera memiliki SLF,” katanya.

Ia menjelaskan, pada Juli lalu, REI mengajukan penambahan kuota ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Rencana pengajuan kuota ini juga sudah disampaikan ke Kementerian Keuangan sehingga tinggal menunggu keputusan. “Mudah-mudahan persetujuan penambahan kuota bisa disetujui, kalau nggak salah sih sekitar 100.000 unit. Jika tidak ditambah pengembang bisa bangkrut,” jelasnya.

Direktur Utama PT Bukit Intan Reality Rahmat Purwoko mengaku, akibat kuota rumah subsidi habis membuat pengembang tidak bisa memasarkan produk dan akan berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. “Saat ini, perusahaan tengah mencari solusi lain agar bisa tetap menjual unit,” katanya.

Tak bisa menjual rumah bersubsidi, lanjutnya, akhirnya pengembang membangun rumah komersial. Misalnya membangun rumah di atas rumah bersubsidi dengan harga mulai Rp200 jutaan per unit.

Secara terpisah, Kepala Cabang Bank BTN Cilegon Benny Budi Anggara menjelaskan,  penjualan rumah khusus di Cilegon, Serang, Rangkasbitung, dan Pandeglang sekira 80 persen rumah disubsidi. Meski proyek perumahan baru berkembang di daerah tersebut namun, hingga Agustus 2019 terjadi penurunan karena kuota subsidinya habis. “Dapat dipastikan sampai akhir 2019 terjadi penurunan dibandingkan tahun lalu. Untuk Kantor Cabang Cilegon sendiri turun hingga 20 persen,” katanya.

Ia mengungkapkan, realisasi penyaluran KPR di Bank BTN Cilegon dari Januari -Agustus pada 2018 mencapai Rp495,752 miliar dengan 4.192 unit untuk rumah subsidi. Sementara nonsubsidi Rp114.720 miliar untuk 412 unit. Sedangkan realisasi penyaluran KPR dari Januari hingga Agustus 2019 untuk rumah subsidi Rp476,324 miliar dengan 3.862 unit. Untuk nonsubsidi Rp66,911 miliar dengan 331 unit.

Pada bagian lain, Kepala Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengungkapkan, Serang dengan Tangerang Raya ada perbedaan soal kredit rumah.

Di Tangerang Raya, lanjut dia, pertumbuhan tertinggi kredit properti pada triwulan II 2019 pada kredit pemilikan apartemen (KPA) khususnya tipe 21 meter persegi yang mencapai 24,27 persen (yoy). Sementara KPA untuk tipe di atas 70, pertumbuhannya mencapai 14,78 persen (yoy).

Menurutnya, pertumbuhan permintaan tipe apartemen di area Tangerang Raya masih cukup pesat dibandingkan dengan pertumbuhan permintaan rumah tapak. Ke depan, prospek pengembangan kota mandiri serta klaster perumahan baru baik subsidi maupun nonsubsidi. (skn/alt/ags)