Tantangan Besar Helldy-Sanuji (1)

0
1445

Oleh: Dr. Fauzi Sanusi

Tahun 2021 ini merupakan tahap akhir implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) 2016-2021 dengan visi “Terwujudnya Kota Cilegon Yang Unggul dan Sejahtera Berbasis Industri  Perdagangan dan Jasa.” Pada tahun ini pula terjadi pergantian tampuk pimpinan dengan visi yang agak berbeda yaitu “Mewujudkan Kota Cilegon Yang Baru, Modern Dan Bermartabat”. Tentu saja visi yang baru ini harus diterjemahkan dalam RPJMD untuk lima tahun kedepan.

Harus diakui memang, banyak warisan masalah dan pekerjaan yang harus segera dituntaskan oleh Walikota dan Wakil Walikota Cilegon yang baru, Helldy Agustian-Sanuji Pentamarta. Mulai dari aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur,  kesejahteraan masyarakat sampai dengan reformasi birokrasi yang masih stagnan. Biasanya, ganti pemimpin akan ganti judul. Tentu saja kita berharap kabinet yang baru ini tetap menjaga kontinyuitas atau keberlanjutan sebuah program. Sebetulnya tidak menjadi masalah jika ada perubahan program selagi masih dalam koridor inovasi tanpa harus merubah substansi.

Saya tidak ingin mendahului RPJMD yang baru akan dibuat, tulisan ini hanya sekadar memberikan gambaran situasi seputar program-program tahun 2021 yang sudah resmi diberlakukan.

Saya mulai dengan tema pembangunan. Tema pembangunan tahun 2021 antara pemerintah pusat, provinsi dan kota Cilegon terkesan tidak sinkron. Pemerintah pusat menghendaki percepatan pemulihan ekonomi dan mempercepat reformasi sosial, sementara pemerintah provinsi Banten dan kota Cilegon masih bicara tentang daya saing. Tampak bahwa pemerintah daerah terlalu kaku dengan RPJMD dan terkesan tidak peka terhadap kondisi sosial ekonomi yang sedang dilanda Pandemi.

Asumsi Makro Ekonomi

RAPBD disusun berdasarkan pada asumsi-asumsi makro ekonomi. Indikator pertama adalah Product Domestic Regional Bruto (PDRB), yang menunjukkan nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi suatu daerah. Data statistik menunjukkan nilai PDRB Kota Cilegon selalu mengalami peningkatan. PDRB tahun 2019 sebesar 104,248 triliun atau naik 7,7 persen dibanding tahun 2018. PDRB perkapita sebesar Rp. 238,44 juta menempati urutan tertinggi di Banten dan urutan ke enam di Indonesia. Indikator makro lainnya seperti laju pertumbuhan ekonomi (LPE) tahun 2021 dipatok 2,5 naik 0,3 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 73,45, kemiskinan ditarget berada di bawah angka 3,25 persen dan pengangguran diperkirakan masih berkisar pada angka 9 persen.

Sebetulnya asumsi indikator makro tersebut kurang realistis karena pandemi Covid-19 masih membayangi kota santri ini. Indikasinya sudah mulai jelas. Kegiatan ekonomi tersendat sehingga produktivitas mulai menurun. PHK di berbagai kabupaten kota di Banten mulai terjadi, artinya angka pengangguran meningkat. Tahun 2018, data BPS menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat 0,25 persen dari 9,33 persen menjadi 9,68 persen di tahun 2019 dan kemungkinan akan semakin tinggi di tahun 2021.Demikian pula dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), walaupun sejak tahun 2017 kecendrungannya terus meningkat, prediksi tahun 2021 sebesar 73,45 akan sulit untuk direalisasikan.

Target Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tahun 2021 yang diprediksi sebesar  2,5 persen atau naik 0,1 persen sampai dengan 0,2 persen, kemungkinan cukup berat untuk dicapai. Rilis Bank Indonesia Wilayah Banten melaporkan pertumbuhan ekonomi semester II 2020 sebesar minus 7,40 persen sungguhpun pada triwulan III secara quarter to quarter terdapat pertumbuhan sebesar 4,55%, namun secara year on year masih terkontraksi cukup sebesar yaitu minus 5,77%. Hal ini diperkirakan akan terus menurun pada tahun 2021 mengingat indikator ekonomi seperti PDRB yang terus menurun, angka kemiskinan dan TPT terus naik dan LPE daerah lain di Pulau jawa masih negatif.

Data-data diatas bukan ingin membangun sikap pesimis, tapi menggambarkan betapa serius tantangan yang dihadapi Helldy-Sanuji, apalagi jika dikaitkan dengan janji-janji politik yang sangat ideal dan menyentuh harapan serta kebutuhan masyarakat terkini. (*)

Dr. Fauzi Sanusi, Dekan FEB Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2016-2019.