Tarif Kamar Kos Tenaga Kerja Asing di Cilegon Rp2,5 Juta per Bulan

0
260
Pengelola Family D'Cost di kamar kos yang disewa per bulan Rp2,5 juta.

Sebagai kota industri, Cilegon diserbu para pendatang untuk mencari kerja. Tidak hanya pekerja lokal,  tenaga kerja asing (TKA) pun turut mendatangi Cilegon. Dampaknya, para pencari kerja tersebut, terutama yang berasal dari luar negeri, membutuhkan tempat tinggal yang nyaman selama mereka bekerja.

Salah satu tempat tinggal yang diminati tenaga kerja asing adalah Family D’Cost. Family D’Cost adalah salah satu hunian tempat tinggal kos yang diminati para tenaga kerja asing. Lokasinya berada di kawasan Pondok Cilegon Indah (PCI), Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber. Hunian kos untuk para tenaga kerja itu memang berbeda dengan tempat kos umumnya.

Tempat tinggal kos yang rata-rata dihuni para tenaga kerja asing itu harganya cukup mahal. Tidak tanggung-tanggung, harga sewa per bulan Rp2,5 juta. Harga sewa tersebut mengalami kenaikan sejak Januari tahun ini. Kenaikan harga sewa didasarkan kenaikan tarif listrik. Sebelum naik harga sewanya, sejak berdiri tahun 2012 sampai dengan akhir Desember 2016, harga sewa per bulan Rp2.250.000.

Tempat kos tersebut berada di lantai dua. Persisnya di atas bangunan Family Rotan yang menjual barang-barang rumah tangga dengan bahan dasar rotan.

Pantauan Radar Banten, Senin (15/5), Family D’Cost mempunyai tujuh kamar. Masing-masing kamar diberikan fasilitas cukup mewah. Selain tempat tidur spring bed, juga ada fasilitas lainnya. Mulai dari lemari pakaian, toilet, air conditioner (AC), televisi LCD/LED, TV kabel, tempat jemur pakaian, wifi, dan lemari es (kulkas). Bahkan di dapurnya juga ada mesin cuci.

Sedangkan untuk tenaga kerja yang tinggal kos di sana rata-rata berasal dari Tiongkok, Malaysia, dan Filipina. “Yang tinggal di sini rata-rata mereka bekerja sebagai accounting di perusahaan. Baik perusahaan yang di Cilegon maupun di Bojonegara, Kabupaten Serang,” kata pemilik dan pengelola Family D’Cost Wardia kepada Radar Banten.

Banyaknya tenaga kerja asing yang memilih Family D’Cost karena mereka merasa nyaman. Selain itu, akses keluar pun dekat. Para tenaga kerja yang kos di sana rata-rata sudah berkeluarga. Tapi, untuk tinggal di sana, mereka dikenai aturan. Setiap satu kamar untuk satu orang dan tidak boleh lebih. Jika mereka membawa anggota keluarga maka akan dikenakan biaya tambahan.

Untuk luas kamar berbeda-beda. Untuk kamar nomor dua sampai dengan tujuh mempunyai luas 15 meter persegi. Sedangkan untuk kamar nomor satu mempunyai luas 20 meter persegi.

Untuk sistem pembayarannya, ada yang membayar sekaligus satu tahun. Tapi, ada juga yang melakukan pembayaran per bulan. “Yang kos di sini bervariasi. Ada yang lama, tapi ada juga yang sebentar. Untuk penghuni yang sekarang, paling lama sudah tinggal di sini selama dua tahun. Tapi, ada juga yang kos cuma tiga hari,” tutur Wardi, istri dari Kepala Bidang (Kabid) Perekonomian Sumber Daya Alam (SDA) Infrastruktur dan Wilayah Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Cilegon Sabri Mahyudin ini.

Meski diminati para tenaga kerja asing, namun Wardia mengaku tidak akan melakukan penambahan ruangan kamar kos. Hal itu dikarenakan sudah tidak ada lagi lahannya.

Kata Wardia, meski harga sewa mahal, namun hal itu tidak lantas membuat sepi peminat para tenaga kerja yang kos di tempat kos miliknya. “Kita kan memberikan fasilitas yang sebanding untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi yang tinggal di sini. Jadi, alhamdulillah responsnya bagus dan positif,” imbuh Wardia yang juga bertugas mengajar di SMPN 5 Cilegon itu.

Salah satu tenaga kerja asing asal Tiongkok bernama Main mengaku baru tinggal dua bulan di Family D’Cost. Namun, Main tidak bersedia diambil gambarnya dengan alasan sudah tidak ada waktu.
“Saya harus bekerja. Mobil yang menjemput saya sedang di perjalanan,” katanya sambil bergegas jalan ketika mobil jemputannya datang.

Main mengaku masih single dan belum menikah. Ia merasa nyaman selama tinggal di Family D’Cost. “Tinggal di sini cukup nyaman dan tenang,” tutupnya. (Khoirul Umam/Radar Banten)