Tarif Tol Naik, Pengusaha Efisiensi hingga Keuntungan Tipis

SERANG – Di tengah situasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, pemerintah berencana menaikkan tarif sejumlah ruas tol. Para pengusaha jasa angkutan yang bakal terkena imbasnya sudah mengantisipasi. Misalnya melakukan efisiensi dan siap menerima keuntungan yang tipis.

Rencana kenaikan atau penyesuaian tarif tol yang sudah berjalan yaitu pada ruas Tol Jakarta (Tomang)-Tangerang pada 2 November 2019.  Sementara tarif Tol Tangerang-Merak bersama belasan ruas tol lain juga bakal naik, namun belum ada kepastian waktunya.

Kepala Departemen Humas PT Marga Mandalasakti (MMS) Rawiah Hijjah mengungkapkan, rencana kenaikan tarif Tol Tangerang-Merak hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut dari pemerintah. Kenaikan tarif di ruas tol ini terakhir kali dilakukan pada November 2017. “Belum bisa memastikan kapan penyesuaian tarif Tangerang Merak ini diterapkan. Nanti ada informasi lebih lanjut,” katanya, akhir pekan lalu.

Mengenai tarif tol integrasi Tol Jakarta-Tangerang, lanjut dia, sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) No. 874/KPTS/M/2019 tanggal 20 September 2019 tentang Penyesuaian Tarif Tol pada Ruas Jalan Tol Simpang Susun Tomang-Tangerang Barat-Cikupa. Pengendara yang melewati Gerbang Tol Cikupa Utama akan secara otomatis dikenakan tarif gerbang tol tujuan plus tarif integrasi.

Kata dia, penyesuaian tarif itu tidak semua golongan. Tarif naik untuk golongan I dan golongan II. Untuk golongan III, IV dan V justru turun. “Untuk penyesuaian tarif tol terutama golongan III ke atas bisa semakin mempermudah dalam penyaluran logistik karena tarif lebih rendah,” katanya.

Menanggapi rencana kenaikan tarif sejumlah ruas tol, Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten Syaiful Bahri merasa keberatan karena biaya operasional akan menjadi lebih tinggi. Meski begitu, pengusaha jasa angkutan tidak semerta merta menaikkan tarif angkutan karena bisa dikomplain klien.

“Kenaikan tarif tol ini tentu berbeda dengan kenaikan BBM. Mau tidak mau pengusaha harus mengurangi margin. Klien pun pasti memberikan beban kepada pengusaha jasa angkutan,” katanya.

Syaiful justru menyarankan kepada pengelola Tol Tangerang-Merak agar memberikan pelayanan yang maksimal kepada pengguna jalan,  seperti pengamanan di rest area supaya tidak terjadi kehilangan barang,  seperti ban, aki, dan lainnya. “Harusnya rest area juga menjadi tanggung jawab penggelola tol meskipun diserahkan ke pihak ketiga,” katanya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan, rencana kenaikan tarif tol ini memberikan pengaruh kepada masyarakat dan pengusaha jasa angkutan. Salah satu yang bisa dilakukan pengusaha yakni melakukan efisiensi dengan cara menekan biaya operasional dan mengurangi margin perusahaan. “Karena tidak bisa juga terburu-buru menaikkan tarif angkutan karena khawatir klien keberatan sehingga mau tidak mau pengusaha pasti efesiensi,” katanya.

Ekonom nasional Aviliani mengatakan, rencana kenaikan tarif tol ini sebenarnya pilihan bagi konsumen. Kemungkinan akan berpengaruh terhadap harga barang karena industri pengiriman barang masuk jalan tol. “Meskipun ini pengaruhnya kecil sekali,” katanya.

Meski ada kenaikan, lanjut dia, pemerintah perlu memberikan insentif bagi perusahaan supaya tarif tol naik tidak menimbulkan masalah. “Misalnya pemerintah bisa mengurangi dari biaya yang masih tinggi seperti di pelabuhan,” tuturnya.

Pada bagian lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, kenaikan tarif tol berdampak kepada inflasi dan bobot tarif tol terhadap inflasi sekitar 0,14 persen. Jika kenaikan tarif Jakarta-Tangerang dari Rp7.000 menjadi Rp7.500 berarti naik Rp500 atau 7,14 persen. “Berarti dampak kenaikan tol menjadi 0,09 persen atau jika saat ini inflasi Banten 3,77 persen bisa menjadi 3,86 persen,” katanya.

Menurutnya, dampak kenaikan tol juga punya efek berganda bagi komoditas yang diangkut menggunakan jalan tol, seperti ikan, daging, sayur-sayuran. Dari dampak kenaikan tol 0,09 bagi transportasi menjadi sekitar 0,40 atau dari 3,77 menjadi 4,17 persen. “Kemungkinan secara psikologis akan merasa keberatan tetapi perlahan akan terbiasa,” tuturnya. (skn/aas/ags)