Tasawuf Progresif Khalifah Umar serta Penanggulangan Covid-19

Oleh Dodo Widarda

Pada Ramadan, untuk menemani saat-saat sahur, sebuah stasiun TV menayangkan serial Khalifah Umar bin Khattab. Penulis bersama keluarga setia untuk menikmati tuntunan serta tontonan, yang dari sisi teknik penggarapan karya film dibuat dengan detail. Karya ini dibuat dengan skenario bagus serta kuat, penataan kostum yang begitu apik, adegan-adegan yang realistik, juga terkait wawasan kemanusiaan yang universal. Bukan hanya untuk kalangan umat Islam saja. Namun juga membawa visi bagi reformasi kehidupan sosial dan perbaikan jangkar kemanusiaan seperti isu pembebasan perbudakan, toleransi umat beragama serta perjuangan hak-hak dari kaum perempuan.

Tapi di negara-negara Arab sendiri film ini mengandung kontroversi. Seperti diberitakan VOA Indonesia, bahwa pembuatan serial Ramadan ini mendulang kontroversi. Pada saat bersamaan, film tersebut mendapatkan kecaman serta juga pujian. Kecaman terkait dengan kehadiran sahabat-sahabat Nabi yang diperankan oleh aktor film. Abu Bakar As-Shidiq yang diperankan aktor Suriah Ghassan Massoud. Kemudian sahabat Umar bin Khattab diperankan Samer Ismail. Pemeran Utsman bin Affan adalah Tamer Arbed, serta pemeran Ali bin Abi Thalib adalah Ghanem Alzerla, Banyak di kalangan para ulama serta cendekiawan muslim yang tidak menyarankan penggambaran tokoh-tokoh di dalam bentuk karya seni karena dikhawatirkan terjadi pemujaan berlebihan.

Kita masih ingat pada karya sinematografi monumental yang berjudul Ar-Risalah atau The Massage yang menggambarkan tentang esensi Islam dari perjuangan Rasulullah karya sutradara Moustapha Akkad pada 1976. Nabi serta para sahabat yang empat juga tidak digambarkan di dalam film ini setelah sutradara serta kru film “dipesantrenkan” di Al-Azhar Mesir selama setahun.

Untuk karya film sahabat Umar bin Khattab, penulis sendiri memiliki pendapat. Di saat krisis moral melanda dunia Islam seperti sekarang, pembuatan karya film dengan penggambaran tokoh-tokoh secara real, malah akan memberikan keteladanan serta sumber inspirasi yang hidup lewat karya sinematografi. Hal ini penting untuk menjadi cermin bagi kehidupan dengan sudut pandang yang lebih kritis. Karya film pasti memiliki keterbatasan, serta aktor-aktor juga adalah manusia biasa. Tapi isi pesan dari film itu, jauh melampaui segala keterbatasan yang ada. Isi dari pesan itu yang bisa ditangkap penonton TV, sebagai unsur media audio visual penting bagi masyarakat mutakhir.

Kalau sosok Rasulullah, tentu kita sepakat untuk tidak bisa diilustrasikan di dalam karya sinematografi karena seperti digambarkan penulis Persia Syeikh Muhammad Shadiq al-Qadiri di dalam Tafarihul Khatir fi Manaqibi Sayyid Abdul Qadir, bahwa proses penciptaan Nabi berasal dari cahaya serta ruhani beliau berasal dari Alam Malakut, Pendek kata, keseluruhan dari dimensi cahaya kehidupan Nabi Saw tidak akan bisa dgambarkan lewat bahasa kamera.

Tasawuf Progresif dan Penanggulangan Covid-19

Penggambaran prestasi dari Sayyidina Umar dalam film itu sangat luar biasa. Pada masa Khalifah ke-2 ini, Islam sebagai agama baru secepat kilat mengalami ekspensi wilayah yang sangat luas. Daerah-daerah dengan peradaban kuat berhasil ditaklukkan seperti Persia, kekuasan Romawi di Damaskus Siria, Irak, Palestina serta Iskandariyah Mesir. Dengan capaian gemilang tersebut, tidak berlebihan kalau Michael Hart di dalam THE 100: A Rangking of The Most Influential Persons in History yang menempatkan Nabi Muhammad Saw pada rangking 1 dari 100 tokoh yang berpengaruh dalam sejarah dunia, kemudian menempatkan Khalifah Umar pada rangking 51, di atas rangking Charlemagne serta Julius Caesar.

Sementara untuk menunjukkan maqam (kedudukan rohani) serta ahwal (pengalaman spiritual) ‘kesufian’ yang tinggi, kita bisa memberikan apresiasi terhadap karya penyair Persia, Maulana Rumi di dalam Masnawi. Dan hal itupun digambarkan dalam film ketika hati seorang Duta Romawi yang mencari ‘istana khalifah’ tergetar, menyaksikan Sang Khalifah yang tertidur di atas pelepah korma. Di dalam obrolan dengan tamunya, Khalifah kemudian menyampaikan tangga pendakian ruhani yang sangat berat, penuh tikungan tajam serta jalan yang berliku.

Khalifah Umar adalah seorang sufi. Namun langkah-langkahnya sangat progresif, bahkan revolusiner. Inspirasi hidup bagi sikap, ucapan serta tindakannya tentu saja dari Rasulullah Saw serta banyak dari kebijakan publik yang diambilnya menjadi rujukan otoritatif yang pengaruhnya melintasi ruang dan waktu. Kini, ketika dunia diharu-biru ulah virus corona, kebijakan yang diambilnya saat Siria dilanda wabah tha’un (kolera) serta dialognya tentang takdir dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, telah menjadi sebuah legenda. Pada saat negeri Syam dilanda wabah kolera tahun 17 H, dalam film demikian digambarkan, Sang Khalifah yang berada di Madinah mengurungkan kepergiannya ke Syam. Abu Ubaidah bin al-Jarrah yang menjabat sebagai Gubernur Syam memberikan pertanyaan kritis seputar takdir,”Apakah anda akan menghindari takdir Allah wahai Amirul Mukminin?”

Amirul Mukminin memberikan jawaban dengan tangkas dan brilian,”Ya, kita akan lari dari takdir Allah, menuju takdir Allah yang lainnya.” Ternyata, apa yang disampaikan Khalifah Umar, sesuai hadits yang kemudian diriwayatkan sahabat Abdurahman bin Auf: “Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di sebuah daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di sebuah daerah, sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.” Jika kita melakukan kontekstualisasi, pernyataan dari Khalifah Umar itu bisa kita rumuskan, “Menghindari Corona itu adalah takdir Allah, untuk menuju pada takdir yang lain.”

Upaya apa pun untuk mencegah penyebaan virus corona seperti PSBB, pengunaan masker, mencuci tangan dengan bersih, menjaga daya tahan tubuh, tidak pergi ke tempat terjangkit termasuk tidak mudik lebaran, serta menghindari kontak dengan hewan yang terindikasi terkena corona, masuk pada sketsa dari apa yang disampaikan Khalifah Umar bin Khattab dalam rangka menghinadri takdir Allah, tapi untuk menuju takdir lain, yang bisa menghindari penyebaran virus tersebut.(*)