Tasikardi, Destinasi Wisata Peninggalan Sultan Banten

Tasikardi
Danau Tasikardi (Foto: www.penghubung.bantenprov.go.id)

PERJALANAN wisata kali ini menuju ke Tasikardi. Objek wisata yang masuk wilayah Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan wisata ke situs-situs bersejarah Banten Lama.

Jika wisatawan hendak ke Masjid Agung Banten melalui Pasar Lama Serang, maka Tasikardi yang berada di tengah-tengah areal persawahan ini adalah lokasi terakhir yang bisa jadi pilihan untuk dikunjungi, kemudian bisa pulang atau keluar dari area wisata lewat Kramatwatu.

Tapi jika ingin mampir ke Tasikardi terlebih dahulu dari rangkaian perjalanan wisata sejarah di Banten ini, maka bisa langsung melalui jalur perempatan Alun-alun Kramatwatu dan berkeliling hingga pulang ke arah Pasar Lama Serang.

Biaya masuk ke tempat wisata ini masih relatif murah. Untuk sepeda motor biaya masuknya hanya Rp10 ribu.

Objek wisata yang berjarak sekitar 6 kilometer sebelah barat Kota Serang ini, adalah nama sebuah tempat berupa danau atau waduk yang dibuat pada masa Kesultanan Banten, yakni pada masa Sultan Maulana Yusuf. Kawasan wisata berupa danau buatan (tasik=danau kardi=buatan) ini berbentuk melingkar dan di tengahnya terdapat tempat peristirahatan Sultan Banten. Saat ini Tasikardi dijadikan obyek wisata dan termasuk salah satu tempat bersejarah Kawasan Wisata Banten Lama yang cukup ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada hari libur. Selain menikmati danau, di dekat Tasikardi juga ada tiga buah pengindelan yakni situs peninggalan sultan yang berfungsi untuk pengolahan air bersih dari Tasikardi ke Istana.

Sejumlah hotel telah memasukan kawasan wisata ini dalam paket wisatanya. Danau dengan luas sekira 5 hektar yang seluruh dasar alasnya dilapisi dengan ubin bata ini di tengahnya terdapat sebuah “pulau” berbentuk segi empat, yang pada masa kejayaanya dulu digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga sultan. Wisatawan yang hendak menginjakan kaki di pulau buatan ini bisa menempuhnya dengan perahu atau bebek-bebekan yang disewakan pengelola objek wisata ini.

Dalam catatan sejarah, pada masa kesultanan, air Tasikardi memiliki fungsi ganda. Selain untuk mengairi areal pesawahan yang ada di sekitarnya, air ini juga dimanfaatkan untuk keperluan seisi keraton Surosowan. Air dialirkan melalui pipa dari tanah liat ke istana kesultanan yang sebelumnya disaring di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan Pengindelan Abang (penyaringan merah) dan Pengindelan Putih (penyaringan putih).

Keunggulan objek wisata ini terletak pada keteduhan lokasinya. Pohon-pohon rindang di sekeliling danau bisa menjadi pilihan wisatawan untuk tempat berteduh sambil menikmati keindahan danau. Air danaunya juga tidak pernah kering ataupun meluap, sehingga terlihat tenang dengan alur mengikuti arah angin. Untuk tempat duduk, wisatawan bisa memilihnya dengan duduk di bangku-bangku yang ada di beberapa sudut pinggir danau, menyewa tikar, atau berupa saung. Lokasi ini cocok untuk tempat wisata keluarga sambil makan bersama, atau untuk kawula muda yang hendak mencari tempat yang romantis. 

Di dekat area parkir juga terdapat sejumlah wahana permainan anak-anak. Namun sayangnya, beberapa fasilitas seperti toilet sudah tampak rusak dan tak terawat. (qizink)