Tatu Sebut Kasus Perdagangan Orang Terjadi Karena Kurangnya Lapangan Kerja

0
701 views

SERANG – Bupati Serang Ratu Tatu Casanah mengaku prihatin atas terjadinya kasus perdagangan orang atau human trafficking yang menimpa dua warga Kabupaten Serang yaitu Eti Suhaeti dan Rokhayati dari Kecamatan Pabuaran.

Politisi Partai Golkar ini menilai kasus tersebut terjadi karena masih kurangnya lapangan kerja di Kabupaten Serang sehingga masyarakat mudah terkena iming-iming kerja di luar daerah.

“Dan hal ini akan ditegaskan dengan pembuatan perda terkait industri untuk merekrut masyarakat di Kabupaten Serang,” ujarnya, Senin (29/1).

Industri di Kabupaten Serang menurut Tatu akan menjadi solusi bagi pengangguran untuk memberdayakan masyarakat sekitar dengan membuat revisi Peraturan Daerah (Perda) industri dengan ketentuan yang berlaku bagi masyarakat sekitar yang ingin bekerja.

“Korban ditawari menjadi pelayan di rumah makan. Sedangkan UMR di kabupaten Serang sudah sangat mencukupi jika ingin bekerja dengan salary di rumah makan. Ketika perda ini berlaku maka akan ada sanksi bagi perusahaan yang tidak mematuhinya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPA) Oyon Suryono menuturkan, atas perintah Bupati Serang pihaknya menjemput korban dan mengantarkan kepada keluarga masing-masing. “ Sabtu malam kami langsung serahkan kepada orangtua masig-masing, kami menghimbau agar berhati-hati menerima tawaran kerja dari orang atau lembaga yang tidak jelas,” ucapnya.

Oyon menambahkan, kasus tersebut akan ditindalanjuti oleh pihak kepolisian setempat agar pelaku bisa segera diamankan dan tidak ada korban lagi setelah kejadian tersebut.

Sebelumnya diberitakan Radar Banten Online, dua warga asal Kecamatan Pabuaran berstatus janda yang diketahui bernama Eti Suhaeti dan Rokhayati menjadi korban perdagangan orang (human trafficking) di Kalimantan Tengah. Keduanya selamat setelah berhasil kabur dari kafe yang melayani jasa seksual para hidung belang, tempat mereka bekerja.

Eti diketahui sebagai warga Kampung Ciwaluran, Desa Pabuaran. Sementara Rokhayati warga Kampung Kadubamban, Desa Pasanggrahan. Awalnya Eti dan Rokhayati mendapat tawaran pekerjaan dari orang tak dikenal melalui sambungan telepon seluler satu pekan lalu. Keduanya dijanjikan bakal bekerja di sebuah kafe dengan iming-iming gaji menggiurkan. Kedua korban pun menerima tawaran pelaku. Tanpa sepengetahuan orangtua, keduanya meminta dijemput pelaku di kediamannya untuk diberangkatkan ke Kalimantan Tengah.

Setibanya di kafe yang dijanjikan pelaku, keduanya malah dipaksa melayani hasrat para lelaki hidung belang. Keduanya berontak dan langsung melarikan diri keluar dari kafe. Di perjalanan, Eti dan Rokhayati bertemu dengan seorang purnawirawan TNI yang tinggal tak jauh dari kafe yang dijadikan tempat prostitusi itu. Purnawirawan TNI kemudian membantu Eti dan Rokhayati dengan membelikan tiket hingga mengantar mereka ke bandara untuk kembali pulang ke kampung halaman. (Anton Sutompul/antonsutompul@gmail.com)