Dilihat dari penampilannya saja, Jeni (28) nama samaran memang mencerminkan kalau ia bukan wanita biasa. Kulit putih mulus dengan pakaian modis berhiaskan jam tangan serta kalung di leher, memperindah sosoknya yang glamor. Ketika ditemui di rumahnya di salah satu wilayah di Kota Serang, sikapnya ramah dan senang bicara banyak hal.

Terlahir dari keluarga berada, masa kecil Jeni penuh warna. Dengan sosoknya yang cantik dan kaya, bukan hal sulit baginya mencari teman, apalagi pasangan. Bahkan, berdasarkan pengakuannya, saat SMA ia sering ganti-ganti pacar. Mulai dari yang biasa saja sampai yang paling tampan di sekolah, semua pernah mengisi hatinya. Widih, play girl juga nih rupanya Teh Jeni!

    “Haha, ya namanya juga masa muda, Kang. Lagi senang-senangnya pacaran, lagian juga kan buat pengalaman juga,” ungkapnya kepada Radar Banten.

    Kedua orangtua berprofesi sebagai pengusaha, membuat Jeni terkadang harus membantu menjaga salah satu usaha sang ayah di pasar. Selain pandai melayani pembeli, ia juga mampu menarik perhatian pembeli untuk datang ke tokonya. Memanfaatkan kecantikan sang anak, ayahnya sering mendapat untung besar saat berjualan. Apalagi, pada saat liburan, tokonya ramai berkat Jeni. Anak ketiga dari empat bersaudara itu memang memesona.

    “Ya, saya suka diminta jaga toko pakaian cewek gitu, Kang. Sebenarnya itu bisnisnya mama, tapi karena penghasilan besar, akhirnya ayah ikut-ikutan bantu modalin,” curhatnya.

    Sampai beranjak dewasa, ketika Jeni menyelesaikan pendidikan D-3 dan sudah bekerja, kedua orangtua tampak santai dan tidak memaksakan sang anak untuk segera mengakhiri masa lajang. Anehnya, saat itu justru Jeni yang ngebet ingin menikah dengan lelaki pilihan hati, sebut saja Jaka (29).

    Jaka bukanlah orang baru di hidup Jeni, ia adalah teman semasa SMA yang lama memendam rasa. Lantaran minder dengan penampilan dan sosok Jeni yang bagai bidadari, Jaka hanya mengagumi tanpa berani menyampaikan isi hati. Maklumlah, berdasarkan keterangan Jeni, Jaka memang tidak terlalu tampan dan berasal dari keluarga yang ekonominya menengah ke bawah.

    Jeni bercerita, malam itu ia merasa adalah waktu yang tepat untuk menyatakan keinginan menikah. Sang ayah yang tampak ceria bersenda gurau dengan adik dan ibunya, juga sang kakak yang ketawa-ketiwi menonton televisi, membuat Jeni semakin percaya diri.

    “Pa, Ma, Jeni mau ngomong,” katanya mencuri perhatian. Namun, seolah tak ditanggapi kedua orangtuanya hanya menolehkan wajah sebentar, lalu kembali asyik dengan aktivitas mereka.

    “Jeni mau nikah,” sejenak kedua orangtua, adik dan kakaknya terdiam. Hening tercipta, hanya suara televisi yang mengisi ruang tengah malam itu.

    Bagai mendengar sesuatu yang aneh, sang ayah mengulang pertanyaan seperti apa yang dikatakan anaknya. Hingga kedua kalinya Jeni berbicara, barulah nada serius keluar dari mulut ibu, kakak, dan ayahnya. Berbagai nasihat meluncur deras, menghujam wanita yang tiba-tiba saja ingin menikah. Waduh, dinasihati bagaimana, Teh?

    “Ya begitu, bilang kalau saya masih muda, lebih baik jangan nikah dululah. Terus disuruh kerja dulu kumpulin uang segala macam,” tuturnya.

    Mendapat penolakan secara halus dari keluarga, tak membuat Jeni menyerah begitu saja. Keesokan harinya, ia yang seharusnya bekerja malah asyik menikmati kegalauan di dalam kamar. Sepuluh hari tak beraktivitas, membuat sang ibu khawatir. Jeni mengaku, ia tidak mau bekerja kalau tidak menikah. Parahnya, saat itu ia sampai dipecat dan jadi pengangguran.

    Sampai dua minggu berlalu, Jeni tetap tak mau beraktivitas seperti biasa. Dan akhirnya, datanglah sang paman dan menasihati ayahnya. Katanya, saat itu sang ayah dimarahi lantaran menunda-nunda jodoh anak wanitanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, acara lamaran pun terlaksana.

    Dengan kedua cincin melekat di jari manis Jeni dan Jaka, membuat hubungan mereka terikat dan tak mungkin lagi terpisah. Tak hanya itu, kedua keluarga pun saling mengenal dan mencoba membangun hubungan baik. Dengan status barunya yang sudah menjadi tunangan Jaka, para tetangga dan teman kerap menanyakan tanggal pernikahan keduanya.  

    “Ya, waktu itu kita rencanain nikah enam bulan lagi. Kang Jaka lagi ngumpulin uang dulu,” katanya.

    Di saat menunggu itulah, Jeni mengisi waktu luang dengan bekerja sebagai tenaga pengajar di SMP yang tak jauh dari rumah. Beradaptasi dengan guru dan murid, Jeni mampu dengan mudah bergaul. Dengan wajah cantiknya, ia disenangi banyak orang. Termasuk oleh sang kepala sekolah, sebut saja namanya Jono (33) yang saat itu berstatus perjaka tua. Hem… mulai ada bau-bau enggak sedap nih!

    “Hehe… ya saya juga bingung, Kang. Waktu itu kayak suka saja sama dia. Ya ganteng, ya mapan, punya rumah. Siapa coba yang enggak mau,” ungkapnya. Waduh bahaya.

 Dan apa yang ditakutkan pun terjadi juga. Jeni membatalkan rencana pernikahan lantaran menjalin hubungan dengan Jono sang kepala sekolah. Parahnya, dengan nada memohon, ia meminta pertolongan sang ayah untuk mengembalikan cincin tunangan Jaka. Astaga.

 Mendengar pengakuan Jeni, sontak sang ayah mengamuk. Tak cukup hanya dimarahi, Jeni juga dibentak habis-habisan. Bukan karena kasar atau keras, rasa malu kepada keluarga Jaka dan tetangga itulah yang menjadi penyebab emosinya membeludak.

  “Wah, pokoknya saya waktu itu habis dimarahi. Bahkan, seluruh keluarga memusuhi saya, Kang!” curhatnya. Ya, lagian Teh Jeni kok bisa begitu sih?

 “Ya, saya juga bingung, Kang. Banyak teman yang bilang mending cari suami yang mapan. Terus saya juga memang belum yakin banget sama Kang Jaka,” akunya.

 Jeni pun sepanjang hari mengurung diri di kamar. Sampai akhirnya karena sang paman yang menasihati ayahnya untuk menikahkan dahulu, kini sang paman jugalah yang bertanggung jawab mengantar cincin kepada keluarga Jaka. Pertunangan mereka sia-sia karena kehadiran orang ketiga.

 Singkat cerita, Jeni menjalin hubungan dengan Jono. Mereka berpacaran layaknya pasangan remaja yang tengah dimabuk cinta. Meski kisah cinta keduanya dibumbui tanggapan sinis dari orang-orang, mereka tampak santai dan tidak peduli. Yang namanya cinta pasti tak bisa dibohongi.

 Hingga suatu hari, Jeni memberanikan diri membawa Jono menemui kedua orangtua di rumah. Apalah daya, bukannya disambut hangat, sang ayah bersikap sinis dan menuduh Jono-lah penyebab semua masalah pada anaknya terjadi. Hubungan mereka pun tak direstui.

 Meski begitu, setahun berjalan, akhirnya Jono dan Jeni pun menikah. Mereka berkomitmen untuk tetap bersama meski sikap kedua orangtua Jeni tidak terlalu mendukung rumah tangga mereka.

Ya ampun, ada-ada saja kisah cinta Teh Jeni ini. Ya sudahlah, semoga rumah tangganya harmonis dan bisa diterima keluarga Teh Jeni. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)