Teganya Suami Meninggalkanku Bersalin Tanpa Biaya

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Suti (32) meraung keras. Proses persalinan ibu dengan nama samaran itu sudah mencapai pembukaan kesepuluh. Mulut rahimnya terbuka kurang lebih 10 sentimeter. Kepala si janin sudah masuk rongga panggul.

Beberapa menit kemudian, si janin terlahir. Semua yang ada di ruang persalinan tersenyum gembira.

Suti pun menangis. Bukan bukan hanya bahagia yang dia rasakan. Perasaannya campur aduk, antara bahagia dan amarah yang luar biasa dalam. Soalnya, Suti tidak melihat Herman (35), nama samaran, ikut mendampinginya melahirkan buah hati mereka. Padahal, Herman adalah orang yang paling dibutuhkan Suti.

Sejak menjelang persalinan itu, Herman memang tidak pernah mendampingi Suti. Ibu muda itu dibiarkan bersama dua anak mereka. Yang pertama, anak perempuan berusia empat tahun dan kedua, anak laki-laki berusia lima bulan. “Herman itu manusia tidak bertanggung jawab, bukan laki-laki sejati. Saya kecewa dengan dia,” kesal Suti.

Persoalan saat proses persalinan itu menjadi puncak kekesalan Suti. Dia tidak lagi gundah ketika menandatangani formulir gugatan cerai di pengadilan agama. “Kesalahan dia sangat fatal. Tidak layak lelaki seperti itu jadi seorang suami,” ketus Suti.

Wuih! Salah apa Herman sampai Suti begitu dendam?

Akar permasalahan terjadi sejak mereka awal menikah. Hubungan rumah tangga Suti dan Herman sudah retak. “Kami memang sudah tidak bisa bersatu lagi. Kalau dipaksakan, yang ada hanya bertengkar dan bertengkar,” terang Suti.

Kisah ini bermula saat Suti dinikahi Herman pada 19 Januari 2005. Suti mengatakan, selama empat tahun sepuluh bulan menikah, kehidupan rumah tangganya hanya rukun dan bahagia selama empat bulan. Selebihnya, hubungan Suti dan Herman selalu dihiasi pertengkaran.

“Awalnya, saya kira dia lelaki yang baik. Ternyata, Herman orang yang suka menggampangkan sesuatu dan bukan pemberi nafkah yang baik,” ujar Suti.

Persoalan pasangan ini cukup klasik, yakni ekonomi. Herman yang hanya seorang pekerja serabutan dianggap tidak bisa memberikan nafkah secara baik. “Seringnya bokek terus, jarang punya uang. Sekali punya (uang-red), langsung habis untuk hal-hal mubazir. Bukannya diberikan ke istri, malah dipake jajan enggak jelas,” kesal Suti.

Herman, menurut Suti, selalu menjatah uang dapur sangat minim. Herman juga melarang Suti meminta uang lebih, padahal harga sembako tidak stabil. “Mending kalau harga-harga di pasar stabil. Lah, ini kan enggak. Cabai kadang murah kadang mahal. Sekali mahal, harganya selangit, melebihi harga ayam. Sementara uang dapur dia patok Rp10 ribu sampai Rp20 ribu. Mana cukup?” ujar Suti.

Lalu persoalan lain terjadi tatkala Suti hamil anak ketiga. Suti ketakutan akan nasibnya menjelang. Dia khawatir, Herman tidak akan membiayai persalinannya.

“Saya tanya beberapa kali tentang biaya persalinan, Herman diam saja. Melihat gelagat dia, saya tahu kalau Herman lagi-lagi tidak punya uang,” jelasnya.

Karena itulah, Suti meminta untuk dipulangkan ke rumah orangtuanya. Suti ingin melahirkan di rumah orangtua. Setidaknya, pikir Suti, akan ada orang yang akan mengurusnya. “Sebenarnya, karena kelahiran ketiga, tidak terlalu merepotkan. Apalagi persalinan saya semuanya normal,” terang Suti.

Herman menuruti permintaan istrinya. Herman juga membawa anak pertama dan keduanya untuk ikut tinggal di rumah orangtua Suti. Tapi, Herman menolak untuk tinggal di rumah mertuanya itu. Alasannya, harus mengerjakan sesuatu dan akan menengok Suti setelah pekerjaannya selesai.

“Dia bilang ada pekerjaan dulu. Makanya, tidak ikut menginap di rumah orangtua saya,” ujarnya.

Janji Herman untuk mendampingi dan menjemput Suti tidak pernah terjadi. Hingga hari kelahiran, dia tidak memperlihatkan sosok suami yang baik.

Suti sudah berusaha mencari kabar suaminya, namun keberadaan Herman tidak terdeteksi. Herman ibarat kapal anti radar.

Bahagia, sedih, dan marah bercampur di hati Suti setelah melahirkan anak ketiga. Kegalauannya berakhir setelah Suti curhat dengan orangtua dan sanak saudaranya, Suti yakin, perceraian adalah jalan terbaik.

“Semua sepakat jika Herman melanggar tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Dia juga tidak memberikan nafkah hampir empat bulan. Karena itulah, saya menggugat cerai dia,” tukas Suti.

Keputusan pengadilan agama dilakukan sepihak lantaran Herman tidak pernah memenuhi panggilan. Kini, Suti sudha berstatus janda anak tiga. Tapi itu merupakan jalan terbaik baginya.

“Lebih baik berstatus janda daripada istri telantar. Janda lebih baik, tidak menderita karena ditelantarkan suami,” kesal Suti. (RB/quy/don)