Temuan Anak Tangga Kanal di Surosowan, Jalur Kapal Menuju ke Srimanganti Istana Surosowan

Struktur anak tangga kanal di sisi utara gerbang Keraton Surosowan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, kembali ditemukan. Temuan itu menjadi bukti arkeologis kanal yang menjadi jalur kapal menuju Keraton Surosowan.

KEN SUPRIYONO – Serang

Garis pembatas telah dipasang tim ekskavasi Balai Cagar Budaya (BPCB) Banten. Seminggu sudah temuan yang diduga struktur anak tangga kanal itu diperkirakan dan masih dilakukan penggalian lebih lanjut.

Pada Rabu (11/9) siang, struktur itu semakin jelas penampakannya. Bentuknya berupa anak tangga berundak lima. Bahan materialnya berupa bata bercampur karang berwarna keputihan.

Di bawah penggalian sekira setengah meter lebih, tampak genangan air. “Setelah diraba ada satu lagi yang terendam air,” kata penanggung jawab tim ekskavasi arkeologis BPCB Banten Mini Lumbiyantari, saat ditemui di Museum Purbakala Banten Lama di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Museum itu tepat berada di seberang lokasi ekskavasi.

Anak tangga kanal tepat berdampingan dengan struktur tambatan kapal yang ditemukan pada ekskavasi tahun sebelumnya. Lokasinya berada di sisi utara gerbang Keraton Surosowan. Atau di sisi timur Paseban atau Alun-alun Banten Lama yang kini berlantai marmer.

Anak tangga itu diperkirakan berfungsi untuk naik turun ke kanal. Terlebih, tersambung dengan temuan struktur fondasi srimanganti atau paviliun, ruang tunggu tamu raja yang juga berlokasi di sisi utara gerbang Surosowan. “Arahnya sampai mana, butuh pembuktian lebih lanjut,” kata Mimi.

Kepala Unit Pemugaran pada BPCB Banten itu belum bisa mengurai lebih lanjut. Namun, temuan memperlihatkan luas kawasan Keraton Banten lebih luas dari tampakan yang kini hanya tersisa reruntuhannya.

Terlebih, pembangunan Keraton Surosowan terjadi beberapa kali tahapan. Termasuk rehabilitasi yang dilakukan lebih dari dua kali. “Temuan juga membuktikan bahwa istana raja dikelilingi oleh kanal,” sambung Mimi.

Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Banten Julyadi membenarkan temuan anak tangga. “Diduga akses bagi orang yang menggunakan perahu dari kanal menuju ke bangunan yang diperkirakan srimanganti atau pancaniti dan sebaliknya karena lokasinya tepat di sisi utara struktur yang diduga srimanganti atau pancaniti,” katanya terpisah.

Perkiraan berdasar rangkaian temuan-temuan ekskavasi yang sudah dilakukan sejak Juni lalu. Selain anak tangga kanal, temuan yang masuk kategori in situ lainnya. Mulai struktur fondasi srimanganti, robohan gerbang, dan sisa lantai.
Selain itu, temuan lepas berupa pecahan keramik dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa, gerabah polos dan bermotif. Lalu, peluru meriam, mata uang koin, dan cangklong pipa.

Julyadi belum bisa memastikan tahun pembuatan anak tangga kanal tersebut. “Tahun pembangunannya belum diketahui, tetapi ada peta tahun 1739 yang memperlihatkan ada kanal di utara Surosowan yang tersambung kanal timur dan barat Surosowan,” ungkapnya.

Butuh data dan analisis lebih lanjut atas temuan arkeologis tersebut. Tapi, analisis permulaan Julyadi memperkuat catatan ilustrasi Cortemunde, seorang ahli bedah asal Denmark yang mengunjungi Sultan Banten pada 1673.

Kala itu, belum ada alat untuk memotret. Cortemunde hanya meninggalkan jejak lewat sketsa lukisan catatan perjalanannya. Salah satunya, sketsa kedatangan delegasi Denmark di Istana Banten.

Pada lukisan tampak lapangan istana dengan sebuah bangunan yang terdiri dari tiga bagian di belakangnya. Bangunan yang disebut srimanganti, di belakangnya ada sebuah tembok yang mengelilingi Keraton Surosowan. Di luar tembok, terlihat dua bangunan dari bahan permanen, yang salah satunya memiliki atap bergaya Tiongkok.

Ilustrasi juga memperlihatkan dua perahu yang tepat berada di temuan anak tangga kanal tim ekskavasi BPCB Banten. Claude Guillot, arkeolog asal Perancis yang menulis sejarah Banten menyebut, karya Cortumunde bukan ilustrasi yang dipesan di Eropa seperti banyak ilustrasi lain.

Ekskavasi masih terus dilakukan hingga pertengahan Oktober mendatang. Tim ekskavasi memperkirakan masih banyak struktur yang bisa memberi petunjuk lainnya. “Yang jelas, kegiatan ekskavasi untuk mencegah kerusakan lebih lanjut karena ada kegiatan revitalisasi Banten Lama. Apalagi, berdasarkan riset di situ masih banyak sisa struktur yang perlu penyelamatan,” kata Mimi saat ditanya tujuan ekskavasi. (ken/alt/ira)