Temuan Ekskavasi di Surosowan: Srimanganti, Penemuan yang Masih Misteri

    Kegiatan ekskavasi yang dilakukan tim BPCB Banten di utara eks Keraton Surosowan. Foto Ken Supri/ Radar Banten

    Bangunan utuh Keraton Surosowan masih menjadi misteri. Temuan-temuan arkeologis yang ada belum bisa menjadi simpulan. Juga temuan struktur bangunan ruang tunggu tamu sultan yang disebut dengan nama srimanganti.

    KEN SUPRIYONO – Serang

    Srimanganti, demikian nama yang tercatat pada pupuh kronik Sajarah Banten (SB). Nama ini merujuk pada sebuah bangunan ruang tunggu tamu-tamu Raja atau Sultan Banten.

    Akhir Juli nan cerah. Kabar gembira didapat awak Radar Banten, pada Senin, 21 Juli 2019. Tim ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten menemukan stuktur bangunan yang diduga sebagai lokasi srimanganti.

    Struktur bangunannya berupa fondasi berbahan batu bata dan karang. Posisinya di depan pintu gerbang utara Keraton Surosowan. Lurus dengan watu (batu) gilang, sebagai tempat penobatan raja yang berlokasi di selatan lapangan raja (kini Alun-alun Banten). Temuan itu bersamaan keramik dari China dan Jepang, uang koin kesultanan, uang koin Belanda, dan peluru meriam.

    Lantainya diduga terhubung hingga pintu masuk Keraton Surosowan, yang kini tinggal reruntuhannya saja. “Sebelum tamu Sultan masuk ke Surosowan, Sultan akan bertemu dengan para tamu yang saat ini kita temukan struktur ini,” kata Arkeolog dari Tim Ekskavasi BPCB Banten, Riko Fajrian saat ditemui Radar Banten, di lokasi penggalian.

    Temuan itu belum menjadi simpulan. Tapi, terangkai dengan petunjuk lain dari catatan Cortemunde, seorang ahli bedah asal Denmark yang mengunjungi Sultan Banten pada 1673. Kala itu, belum ada alat untuk memotret. Cortemunde hanya meninggalkan jejak lewat sketsa lukisan catatan perjalanannya.

    Salah satunya, sketsa kedatangan delegasi Denmark di Istana Banten. Pada lukisan tampak lapangan istana dengan sebuah bangunan yang terdiri dari tiga bagian di belakangnya.

    Bangunan yang disebut srimanganti, di belakangnya ada sebuah tembok yang mengelilingi Keraton Surosowan. Di luar tembok, terlihat dua bangunan dari bahan permanen, yang salah satunya memiliki atap bergaya China.

    Ilustrasi karya Cortumunde disebut Claude Guillot, Arkeolog asal Perancis yang menulis sejarah Banten, bukan ilustrasi yang dipesan di Eropa seperti banyak ilustrasi lain.

    Guillot hanya menyangsikan cerobong asap di atas atap yang terlihat pada sketsa. Namun ia tetap memberi perhatian khusus atas pengaruh China di Banten. “Diketahui Sultan Banten selalu menerima baik orang-orang Tionghoa,” sebut Guillot yang kumpulan tulisannya dibukukan dengan judul Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII.

    Catatan Cortemunde diramu Guillot dengan catatan orang Eropa lain. Salah satunya tulisan Steven Verhalgen pada 1600, yang dirujuk Van der Chijk untuk menulis Banten Lama. Tulisannya menggambarkan lapangan di dalam kompleks istana serta pintu-pintu yang dijaga dan sebuah pendopo.

    Sementara, kronik Sajarah Banten (pupuh/bab 44) yang diterjemahkan praktisi Sejarah Banten Yadi Ahyadi, lebih detail menggambarkan istana raja di medio akhir masa kepemimpinan Sultan Abulmafakir (kakek Sultan Agung Tirtayasa). “Di sebelah selatan lapangan terdapat Srimanganti tempat tamu-tamu raja biasanya menunggu sebelum diterima,” tulis Yadi yang menerjemahkan kronik yang aslinya tertulis dalam aksara Arab Pegon dan berbahasa Jawa kawi.

    Memasuki kompleks yang sesungguhnya terdiri dari sejumlah pelataran dan bangunan yang disebut made, sebuah kampung bernama candi raras, kantor bendahara istana, dan masjid pribadi raja yang mempunyai sebuah menara. Lalu, meriam terkenal yang bernama Ki Jimat, kandang kuda, dan tempat penjagaan di mana-mana.

    Catatan tamu raja yang bernama Tavenier, yang catatannya juga dikutip Guillot menggambarkan suasana istana pada 1648. Tavenier mengaku diterima raja di pendopo yang tiang penyangganya berjarak 40 kaki, satu dengan lainnya.

    Prediksi Guillot, pendopo ini adalah balai penghadapan di area terbuka umum di istana. Biasanya raja duduk di atas sejenis kursi kayu berukiran dan dilapisi emas bagaikan bingkai lukisan. Pendopo berada di sebuah lapangan berbentuk bujur sangkar dengan para dayang dan prajurit yang duduk di bawah kerimbunan beberapa pohon.

    Guillot menyebut catatan-catatan itu tidak mencukupi untuk mendapatkan gambaran yang terperinci. Tetapi menunjukkan dengan jelas bahwa istana itu adalah istana Jawa tradisional.

    Banyak sumber tentang Banten, namun tak ada dokumen yang merekam secara utuh Keraton Surosowan. “Kegiatan pemugaran baru parsial dan dilakukan sebatas struktur yang terlihat pasca dihancurkan dahulu,” kata Petugas BPCB Soni Prasetyo kepada Radar Banten.

    Pihak BPCB pun mengakui belum memiliki sumber data yang berkenaan dengan bentuk keraton. Terlebih perkembangan fotografi baru muncul sekira 1820-an. Sedangkan kehancuran Keraton Surosowan lebih awal dari tahun tersebut. “Jika dilihat dari struktur pondasi yang ada, jauh lebih rumit dari yang digambarkan,” kata Soni saat awak Radar Banten menunjukan sketsa lukisan Cortemunde.

    Tak mudah memang mengungkap Keraton Surosowan yang tersisa fondasi dan puing-puing yang berserakan. Dari area yang memiliki luas sekira 4,5 hektare itu pun belum ditemukan secara pasti lokasi singgasana raja. Apalagi, sebagian kawasannya telah tertutup keramik rapat-rapat dari proses revitalisasi yang dilakukan Pemprov Banten. “Keraton Surosowan berselimut misteri,” demikian ungkapan yang pernah ditulis Lukman Hakim pada karya bukunya berjudul Banten dalam perjalanan jurnalistik. (*)