Jadi, hidup memang sulit ditebak dan tak selalu seperti apa mau hati. Begitulah celoteh Seli (46) nama samaran, mengingat kembali kenangan masa silam saat masih berjuang mengarungi bahtera rumah tangga bersama Juki (49) bukan nama sebenarnya.

Katanya, hidup senang banyak uang tak menjamin kebahagiaan. Kalau boleh memilih dan memutar waktu, ia justru ingin kembali menjalani hari penuh tantangan. Ketika merintis mencari nafkah di kampung halaman, bersama lelaki terkasih, yang kini tak mau lagi ia ingat namanya. Aih, memang ada apa sih, Teh?

“Kejadiannya tuh pas saya usia 36 tahun dan Kang Juki 39 tahun, Kang. Dia bikin malu di mata keluarga besar saya, Kang. Sudah dikasih kepercayaan, tapi malah menyia-nyiakan dan mengecewakan,” curhat Seli kepada Radar Banten.

Seli bercerita, ia dahulu hanyalah wanita biasa yang terlahir di salah satu kampung di Kabupaten Tangerang. Dengan status ekonomi keluarga menengah ke bawah, ia sudah puas merasakan pahit manis kehidupan. Meski begitu, ia dianugerahi wajah cantik dan manis. Ditambah kulit putih merona, sebenarnya, banyak lelaki yang mengajaknya menikah muda. Namun Seli sering menolaknya. Aih, kok begitu, Teh?

“Ya dulu sih memang orangtua juga suruh nikah-nikah saja. Tapi saya enggak mau, saya pengin sebelum nikah, saya harus kerja dulu dan kalau bisa sih kuliah. Pengin ngebanggain keluarga dulu,” curhatnya.

Akhirnya, Seli pun bekerja banting tulang siang malam. Ingin mencari rezeki sekaligus meningkatkan kualitas diri, siang bekerja malam kursus di Kota Tangerang. Semua dilakukannya penuh ambisi dan semangat juang tinggi. Namun apalah daya, lantaran kondisi orangtua yang sudah tua renta, ia pun tak bisa menolak keinginan ibunya yang meminta segera menikah. Terpaksa ia tinggalkan kesibukan kerja dan kursus dan pulang ke kampung.

Saat itulah awal kisah cinta Seli bersama Juki bermula. Seperti diceritakan Seli, Juki sebenarnya termasuk lelaki baik-baik. Terlahir dari keluarga sederhana dengan ekonomi minim, ia menjalani hari-hari penuh kerja keras dan kegigihan. Ayah tak bekerja dan ibu berjualan jajanan anak-anak, ia sesekali menjadi kuli bangunan dan melakukan apa pun demi mendapat uang.

Namun, meski hidupnya penuh kesederhanaan, tak membuat Juki banyak mengeluh dan merutuki keadaan. Tidak memberi ruang bagi waktu bermalas-malasan, ia terkenal sebagai pemuda ulet dan disenangi warga sekitar. Juki muda memang luar biasa.

Singkat cerita, setelah melakukan pertemuan kedua keluarga, seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ditentukanlah tanggal pernikahan. Sebulan kemudian, dengan pesta sederhana dan hanya mengundang teman serta tetangga, pernikahan pun berlangsung lancar. Mengikat janji sehidup semati, Seli dan Juki resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, rumah tangga mereka berjalan layaknya pasangan muda pada umumnya. Merintis usaha dan berjuang bersama, keduanya mengerti keadaan dan perasaan satu sama lain. Ada rezeki berapa pun, baik Seli atau Juki, pasti menghadapinya dengan senyum dan syukur di hati.

“Ya, namanya hidup, Kang. Waktu itu tuh, dia dapat upah kuli lima puluh ribu juga sudah senang,” kata Seli.

Sampai setahun usia pernikahan, lahirlah anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Bayi laki-laki tampan dan lucu, membuat mereka semakin disayang keluarga. Pokoknya, rumah tangga Seli dan Juki diselimuti kebahagiaan. Subhanallah, harmonis banget ya, Teh?

“Ya begitulah, Kang. Dengan hadirnya anak, meski pun hidup masih susah, tapi capeknya kerja dan rasa lapar belum makan itu, hilang seketika pas lihat senyum dia,” katanya.

Seiring berjalannya hari, dengan sikap Juki yang perhatian dan penuh kasih sayang, membuat Lela menikmati hari-hari sebagai ibu rumah tangga. Terlebih, dibanding teman-teman yang lain, Juki termasuk tipe lelaki penurut. Tak pernah membuat ulah, mereka saling percaya.

Hingga kebahagiaan bertambah dengan hadirnya anak kedua, membuat suasana rumah semakin ceria penuh tawa. Seolah membenarkan kata pepatah banyak anak banyak rezeki, datanglah tawaran pekerjaan untuk suami. Saudara yang punya bisnis di Jakarta, mengajak Juki bekerja.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Juki menerima tawaran. Memberi persyaratan yang tak terlalu rumit, seminggu kemudian, ia sudah mulai tinggal di kontrakan sederhana di Jakarta. Mengawali karier sebagai pegawai biasa, sebulan sekali ia pulang menemui anak istri, membawa uang untuk makan sehari-hari.

“Alhamdulillah ekonomi kita meningkat, Kang. Enggak pernah lagi kelaparan apalagi sampai enggak makan, pokoknya, perabotan dan barang-barang rumah jadi mudah dibeli,” kata Seli.

Hari demi hari dilalui, karena ulet dan hasil kerja memuaskan, Juki diangkat menjadi kepala bagian di bidang tertentu. Otomatis upah pun meningkat. Ia pindah ke rumah kontrakan yang lebih besar. Dibawalah istri dan anak ke ibukota. Namun apalah daya, bukannya semakin baik dengan kehadiran istri, yang terjadi justru sebaliknya.

“Waktu itu, kalau dihitung-hitung, dia sudah lima tahun lebih tinggal di kota, pergaulannya sudah luas. Jadi pas saya tinggal bersama di sana, sikapnya tuh beda dan kayak anggap saya cuma orang kampung,” ungkap Seli.

Dan apa yang ditakutkan pun terjadi juga, layaknya orang yang sudah mendapat kesenangan dunia baru penuh warna, Juki mulai jarang pulang. Alasan padatnya jam kerja serta urusan ini-itu, ia membuat Seli curiga. Sampai akhirnya, sang saudara yang dahulu mengajak Juki bekerja menelepon Seli dan menceritakan apa yang terjadi pada suaminya. Aih, ada apa, Teh?

“Dia bilang, ini suamimu sudah berubah. Kerjaan acak-acakan, setiap hari sering kesiangan. Setelah saya selidiki, ternyata dia suka nongkrong di tempat-tempat hiburan. Maaf ya, Sel, kalau begini terus, bisnis saya bisa bangkrut,” kata sang saudara di ujung telepon.

Deg, Seli serasa tersambar petir di siang bolong. Keesokannya, ditanyalah Juki olehnya. Namun, kemarahan dan pertengkaranlah yang terjadi. Hingga akhirnya, Juki dipecat dan tak bekerja lagi. Di tengah kondisi yang tak terkendali, kata cerai itu terjadi. Lantaran tak tega melihat Seli hidup sendiri, sang saudara mempekerjakannya. Seli pun menitipkan kedua buah hati ke orangtua.

Ya ampun, semangat ya Teh. Semoga diberi kekuatan untuk terus berjuang sampai meraih kesuksesan. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)