Terbuang ke Tangerang Lantaran Perang

0
1138
ilustrasi imigran (fofo: istimewa)

GADINGSERPONG – Pertengahan Juni 2010, Abdul Hakim (59) kaget bukan kepalang. Ada keributan di dekat rumahnya. Tentara Israel memasuki kawasan warga Arab di Kota Haifa, Israel Timur. Tank tak jauh dari kediamannya. Sejumlah pemuda dan wanita melawan barisan tentara itu dengan lemparan batu dan dibalas gas air mata serta peluru tajam. Kerusuhan berlangsung di kota paling indah di timur Palestina tersebut.

Duda tiga anak ini lalu memanggil anak pertamanya Ahmad untuk masuk. Ia tahu, bahwa daerah mereka menjadi kawasan pembangunan tembok untuk kawasan Yahudi Israel. Ia ingin anaknya pergi ke Australia, tempat sanak familinya tinggal. ”Saya harus pergi,” ujarnya dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Sementara Abdul Hakim harus pergi ke Nicosia, Siprus untuk mencari suaka. Di sana ia menetap selama lima tahun empat bulan. Kehidupannya luntang lantung. Setelah masa izin tinggalnya habis, bersama anak sulungnya, Ahmad, mereka pergi ke Australia. Sayang, sebelum kakinya menginjak negeri kanguru tersebut, mereka diciduk pihak imigrasi karena masalah visa.

Akhir tahun 2015, Abdul dan Ahmad kemudian dikirim oleh pihak imigrasi ke Kawasan Dormitorio, Gadingserpong, Kelurahan Medang, Kabupaten Tangerang. Ya, Abdul merupakan satu dari 100 para pencari suaka asal Timur Tengah yang menetap di Penginapan Dormitori.

Rumah susun itu memiliki delapan unit. Satu unit terdiri dari dua lantai dan berisi sekitar 16 kamar. Mulai dari tower A sampai H, Abdul bersama imigran lainnya bercampur dengan mahasiswa asal Papua dan warga lokal lainnya. Dikabarkan, rumah susun tersebut juga akan menampung tiga sampai empat pengungsi Rohingya dalam waktu dekat.

”Orang imigran di sini mudah akrab dan kami sepertinya dianggap ganteng-ganteng oleh masyarakat setempat. Warga sini tidak bisa membedakan itu dari Pakistan, Afghanistan atau dari mana,” ujarnya.

Sosok Abdul Hakim adalah pria yang terbuka. Abdul mengaku seorang dosen teater. Ia merupakan lulusan terbaik Fakultas Seni Universitas Baghdad. Ia juga dosen di sana. Kehidupannya terbilang baik, sebelum penggulingan Rezim Saddam Husein tahun 2003. Kehidupannya cukup mewah. Sayang, nasib mereka berbalik setelah penyerangan Tentara Amerika dan negara anggota NATO ke negeri seribu satu malam tersebut. ”Saya pengagum Sadam Husein dan Soekarno,” akunya.

Menurutnya, peperangan di daerahnya bukan masalah Saddam Husein memiliki senjata pemusnah masal, melainkan upaya Barat menindas negara-negara Islam lewat background negara diktator. Tapi tujuan mereka hanya satu, mencari sumber minyak dan menduduki negara tersebut.

”Saddam Hussein seperti Soekarno, dia pemimpin Arab sejatinya. Tapi banyak yang tidak suka. Semua ingin berkuasa jadi ingin merongrong negara kami. Kami pergi karena perang yang dipicu oleh ambisi Amerika,” jelasnya kepada Radar Banten.

Bagaimana kehidupan di Dormitoriao. Lebih jauh, Abdul mengaku kendala bahasa menjadi penyebab sulitnya adaptasi berlangsung antara para pendatang asing dan masyarakat setempat. Banyak pencari suaka yang hanya bisa berbicara dengan bahasa ibunya. Bahasa Inggris saja tersendat-sendat, apalagi bahasa Indonesia. ”Tapi banyak pula pemuda imigran yang pacaran dengan orang lokal,” jelasnya.

Masalah bahasa juga dirasakan oleh Ali Akbar (32), pencari suaka asal Afghanistan yang kini menetap di Dormitorio. Ali-begitu namanya dipanggil. Ia tinggal di sana bersama istrinya. Saat ditanya soal alasannya datang ke Indonesia, ia hanya menjawab, ”The war” atau perang.

Namun, ketika ditanya lebih lanjut soal perang yang dimaksud, ia menggelengkan kepalanya, ”I don’t know.” Entah karena kebingungan menjelaskan panjang lebar dengan bahasa Inggris pas-pasan atau ia malas mengingat kembali memori buruk yang terjadi di masa lalu.

Hanya sedikit kata dalam bahasa Indonesia yang dipahaminya. Ia hanya menguasai kata-kata yang umum digunakan dalam keseharian seperti ”selamat pagi,” ”apa kabar” dan ”sudah makan” yang digunakannya saat menyapa warga lokal.

Ali telah pergi mencari suaka bersama istrinya. Ali merupakan etnis Hazara. Tekanan dan ancaman dari Taliban, telah memaksa Ali meninggalkan perbatasan Pakistan-Afghanistan, dan mulai mencari suaka, 2014 lalu. Pergi tanpa keluarga dan terombang-ambing di lautan sekitar satu minggu, Khadim pun akhirnya berlabuh dan menjadi imigran di Indonesia, atas bantuan lembaga PBB untuk pengungsi, UNHCR dan IOM. ”Etnis kami seperti maling, dikejar ke sana kemari,” jelasnya.

Meskipun mereka bisa menetap sementara di Dormitorio, tetapi Ali mengaku dia dan teman-temannya selalu cemas dan ketakutan.

Dikatakannya, hingga saat ini, warga Hazara di Dormitorio, masih menunggu pengumuman UNHCR, terkait negara mana yang mau menerima mereka sebagai warga negaranya. Hidup tanpa kepastian ini masih membelenggu kehidupan mereka.

Hazara adalah etnis berbahasa Persia, yang hidup di Afghanistan dan Pakistan. Mayoritas mereka adalah penganut Islam Syi’ah. ”Bukan gara-gara itu (Syiah-red) kami diusir. Karena ada juga orang Hazara yang Sunni. Alasannya hanya karena identitas kami saja, karena kami orang Hazara,” katanya.

Untuk Kembali ke Afghanistan, Ali menolak karena tidak ada dalam pilihan hidupnya berada di sana. ”Banyak dari etnis kami yang diculik dan tak ada kabar lagi,” tandasnya. (gar/asp/sub)