Terdakwa Pencurian Ini Ngaku Wajahnya Pernah Ditendang Kapolres

Aniaya
Dok: Radar Banten

SERANG – Terdakwa pencurian mobil Mitsubishi T120 ss, Encep Hudaya alias Cepot mengaku, wajahnya pernah ditendang oleh Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Nunung Syaifuddin. Encep dipaksa mengakui sebagai anggota komplotan Brigadir Mulyadi yang mencuri mobil milik Ferry Hidayat tersebut.

Dilansir dari Harian Radar Banten, pengakuan ini disampaikan Encep ketika menjawab kesaksian Brigadir Mulyadi pada sidang lanjutan kasus pencurian mobil Mitsubishi T120 ss di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Senin (29/2/2016). Brigadir Mulyadi merupakan terdakwa kasus yang sama yang dihadirkan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang Ani. Oknum anggota Polres Serang ini didakwa terlibat pencurian itu bersama Encep, Epa Komarudin alias Epok, Rikma, dan Deni Alamsyah.

“Terdakwa Encep dibawa ke lapangan tembak (Mapolres Serang-red). Di lapangan itu, wajah Encep ditendang Kapolres. Beliau juga membuang tembakan dua kali ke samping kaki saya,” kata Brigadir Mulyadi di hadapan majelis hakim yang diketuai Bambang Pramudwiyanto. “Benar Pak Hakim, muka saya ditendang,” ujar Encep.

Brigadir Mulyadi juga mengaku dipaksa Nunung Syaifuddin untuk mengakui telah membawa keempat terdakwa lain ke lingkungan Panancangan, Kota Serang, pada Kamis malam, 3 Juli 2015, untuk mencuri mobil Mitsubishi T120 ss itu. “Saya sudah sumpah demi Allah, demi Rasulullah, tapi tetap saja tidak percaya,” tukasnya.

Di PN Serang, Rabu (24/2/2016) lalu, Epok dan Rikma juga mengaku telah disiksa oleh oknum anggota Tim Khusus Anti-Bandit (Tekab) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Serang. Penyiksaan dilakukan agar kedua terdakwa asal Kabupaten Pandeglang itu mengakui telah mencuri mobil pikap milik Ferry Hidayat tersebut.

“Saya disuruh mengaku curi mobil losbak (pikap). Buser (menyebut oknum anggota Tekab-red) memaksa terus, menyetrum terus. Saya bilang, belum pernah. Saya dibawa ke hotel, dipaksa lagi, disetrum lagi,” kata Rikma.

Penyiksaan terus dilakukan sampai Rikma mengakui pencurian tersebut. Keempat kuku jari kakinya bahkan diakuinya, pernah dicabut saat diinterograsi. “Sekarang, (kuku jari kaki-red) sudah tumbuh. Kaki saya diinjak pakai kursi, terus (kukunya-red) dicabut,” kata Rikma.

Rikma juga dipaksa mengakui keterlibatan empat orang temannya sebagai komplotan pencuri mobil. Oknum Tekab juga dituding membuat sendiri kronologi pencurian.

Senada diungkapkan Epok. Dia membantah bahwa telah mencuri mobil milik Ferry Hidayat. Alibinya, saat mobil dicuri, dia berada di rumah. Namun, Epok mengaku dipaksa untuk mengakui pencurian mobil tersebut.

Dalam surat dakwaan, sebelum beraksi, Epok disebutkan dihubungi oleh oknum anggota Polres Serang bernama Mulyadi. Brigadir Mulyadi memberikan informasi lokasi mobil yang menjadi sasaran pencurian.

Epok lalu dengan sigap menyatakan akan datang ke lokasi bersama Rikma, Encep, dan Deni Alamsyah. Menggunakan mobil pikap Daihatsu Grand Max, mereka berempat berangkat dari Pandeglang.

Sebelum beraksi, mereka berhenti di SPBU Parung, Kota Serang, untuk menemui Brigadir Mulyadi. Epok, Encep, dan Deni keluar dari mobil Grand Max dan masuk ke dalam mobil Toyota Avanza yang dikendarai Brigadir Mulyadi. Epok duduk di sebelah Brigadir Mulyadi yang menyetir, Encep duduk di jok belakang bersama Deni. Sementara, Rikma tetap di dalam mobil Grand Max.

Kepada ketiga terdakwa, Brigadir Mulyadi mengatakan bahwa sasaran mudah dicuri lantaran di parkir di halaman rumah tanpa pagar. Epok kemudian keluar dari mobil dan masuk ke mobil Grand Max.

Mobil Grand Max itu lalu meluncur ke lokasi sasaran, membuntuti Avanza yang dikendarai Brigadir Mulyadi. Di pertigaan jalan permukiman Lingkungan Panancangan, Brigadir Mulyadi menunjukkan lokasi Mitsubishi T120 ss kepada Epok, Encep, dan Deni. Setelah itu, Brigadir Mulyadi pergi.

Deni bertugas mengawasi situasi. Setelah dinilai aman, Rikma memberi tanda dengan mengacungkan jempol. Epok dan Encep beraksi, sedangkan Rikma tetap di dalam mobil Grand Max.

Epok membuka pintu mobil pikap warna hitam itu menggunakan gergaji besi setelah membuka lis karet kaca pintu sebelah kanan. Epok lalu berusaha menyalakan mesin mobil dengan mengaitkan kabel kontak di bawah setir, tetapi tidak berhasil.

Oleh karenanya, Epok meminta bantuan Rikma. Dengan cepat, Rikma menyalakan mesin mobil. Deni-lah yang bertugas membawa mobil curian itu sampai SPBU Parung. Setelah itu, Deni mengendarai Grand Max, sedangkan Epok menggantinya mengendarai mobil curian sampai Pandeglang. Mitsubishi T120 ss itu disembunyikan dengan ditutup terpal biru.

Keesokan harinya, Epok dan Mulyadi menjual mobil curian itu kepada Yana (DPO) di Pelabuhan Merak.

Dihubungi terpisah, Nunung Syaifuddin membantah sudah melakukan kekerasan terhadap para terdakwa pencurian saat diinterogasi. “Itu jelas tidak benar. Saya tidak pernah ikut campur dalam urusan penyelidikan dan penyidikan. Semua diserahkan kepada penyidik,” tegasnya.

Kapolres Serang ini memaklumi kesaksian Brigadir Mulyadi dan pengakuan Encep serta terdakwa lain sebagai usaha membela diri. “Wajar saja, itu hak terdakwa untuk membela diri,” ujar Nunung. (RB/nda/don/dwi)