Terdampak Pandemi Covid-19, BUMDes Telur Asin Rugi Puluhan Juta

Pekerja BUMDes Sujung sedang memproduksi telur asin, Senin (29/6).

TIRTAYASA – Pandemi Covid-19 terus meneror perekonomian seluruh kalangan masyarakat di Kabupaten Serang, tak terkecuali Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Sujung, Kecamatan Tirtayasa yang memproduksi telur asin mengalami kerugian hingga Rp29 juta.

Ketua BUMDes Sujung, Susi Rahwati mengaku, memproduksi puluhan kilo telur asin sebelum pandemi Covid-19. Namun, produknya tak terjual akibat pendemi Covid-19. “Usaha saya merugi sampai Rp29 juta,” keluh Susi kepada Radar Banten melalui sambungan telepon seluler, Senin (29/6).

Kondisi itu memaksa Susi menjual telur asin kepada pengepul dengan harga sangat murah. Dari biasanya harga normal per butir telur mencapai Rp4 ribu, turun drastis menjadi Rp1.200 per butir. “Itu juga enggak langsung dibayar. Pembayarannya nunggu satu bulan kemudian. Pokoknya serba susah,” tukasnya.

Diakui Susi, produksi telur asin sempat macet karena pemesanan telur juga terhenti. Kondisi itu memaksa Susi merumahkan semua pegawainya sebanyak 56 orang, mulai dari kelompok produksi hingga petani bebek. “Semuanya diliburkan selama tiga bulan sejak Maret hingga Mei,” ungkapnya.

Saat ini, lanjut Susi, pihaknya sudah kembali memproduksi telur asin. Katanya, pemesanan telur asin mulai aktif sejak awal Juni. Ia berharap, situasi kembali normal agar produksi telur asin yang dijualnya kembali lancar. “Kita sudah mulai aktif produksi lagi. Walaupun masih sedikit, semoga semuanya makin baik,” harapnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Masyarakat Desa pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Serang Nasir Al-Afghani tidak menyangkal, pandemi Covid-19 dampaknya kemana-mana dan berkepanjangan. “Jangankan produksi lokal di desa, tingkat nasional hingga internasional saja kena,” ujarnya.

Nasir pun membenarkan, BUMDes telur asin di Desa Sujung yang menjadi program pengembangan lokal desa terkena dampak pandemi Covid-19 cukup signifikan. Pihaknya sempat berkoordinasi dengan Ketua Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) setempat soal solusi mengatasi persoalan tersebut. “Solusinya menjual 100 bebek dari 2.000 bebek untuk modal produksi. Sekarang sudah berjalan lagi produksinya,” katanya. (mg06/zai).