Sebenarnya Boim (53), nama samaran, tak pernah punya niatan memiliki dua permaisuri. Rumah tangga yang ia jalani bersama sang istri, sebut saja Mili (41), sudah membuatnya bahagia menjalani hari. Ya meski kondisi ekonomi pas-pasan, sikap Mili yang selalu mengerti kondisi suami, membuat Boim bahagia luar biasa.

Hingga mereka memiliki anak pertama, hubungan keduanya harmonis layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Namun, keyakinan Boim mulai goyah saat beberapa teman sekerjanya nekat membangun rumah tangga dengan dua istri sekaligus. Aih, hebat amat tuh orang.

“Zaman sekarang itu perempuan jumlahnya lebih banyak daripada lelaki, jadi sayang kalau cuma punya satu istri,” begitu ledek teman-teman Boim setiap kali bertemu.

Berprofesi sebagai pedagang makanan dan kadang-kadang mengojek di salah satu perempatan di Kota Serang, setiap hari Boim hidup di lingkungan yang banyak melakukan hal itu. Tak ayal, rasa penasaran pun muncul seolah mendorong Boim untuk mencoba.

Katanya, ia sampai diolok-olok oleh seorang sopir angkot yang juga akrab dengannya lantaran masih takut bermain wanita. Ya, namanya juga manusia meski awalnya Boim menolak dan tidak menghiraukan, lama-kelamaan ia terpancing juga. Dikenalkan dengan seorang janda, Boim tak tahan digoda. Oalah, payah juga nih Kang Boim.

“Ya, habis bagaimana, Kang. Pusing saya setiap hari lihat teman yang sopir angkot itu bawa ceweknya. Heran saya, kok bisa istrinya enggak marah. Pas saya tanya, katanya rumah tangganya baik-baik saja asalkan jatah istri dibagi rata,” curhat Boim kepada Radar Banten.

Hingga suatu hari lantaran hasrat yang sudah tak tertahankan lagi, Boim diam-diam sering mendekati sang wanita simpanan. Biasa pulang jam sembilan, setelah asyik pedekate dalam hubungan terlarang, ia baru menemui istri dan anaknya ketika larut malam.

Sampai akhirnya, atas saran seorang teman yang mungkin peduli, ia diminta untuk berkata jujur pada sang istri. Meski awalnya ragu dan takut, terlebih ada rasa tak tega mengtakannya, Boim pusing sendiri. Ia sampai tak ngojek beberapa hari. Namun, akhirnya ia pun memberanikan diri.

Siang hari yang terik, ketika orang-orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Boim memtuskan pulang menemui sang istri. Mili yang sedang mengupasi sayuran untuk makan sore nanti, dipanggilnya ke ruang tengah untuk berbicara empat mata. Kebetulan waktu itu tidak ada siapa-siapa.

Ketika Mili bertanya dan penasaran atas apa yang ingin bicarakan, Boim pun menarik napas panjang dan langsung diembuskan perlahan. Mencoba tetap bersikap tenang, ia mengajukan permohonan maaf membuat Mili semakin kebingungan. Sampai ia mulai yakin akan hatinya, Boim pun menyatakan bahwa ia ingin menikah lagi.

Saat itu pula hening tercipta. Ruang tengah rumah mereka serasa seperti gudang yang tak berpenghuni. Tak ada kata yang terucap dari bibir manis sang istri. Namun, ‘bagai elang yang siap menerkam mangsa’, sorot mata Mili tajam menatap Boim.

Setelah sekian detik berlalu, meledaklah tangis Mili seraya membanting beberapa perabotan rumah. Suara benturan piring dengan lantai yang memekikkan telinga, memancing perhatian tetangga. Beberapa orang merangsek masuk dan menenangkan Mili. Ya iyalah pasti mengamuk, istri mana yang mau dimadu.

“Saya enggak nyangka jadinya bakal semarah itu, orang biasanya dia mah terima saja apa yang saya mau,” terang Boim.

Parahnya, dua minggu kemudian, saat emosi Mili mulai mereda dan kembali seperti semula, seolah tak pernah takut akan amukan istrinya, ia nekat mendekati sang janda sampai jalan berdua. Astaga. Hingga ada tetangga yang melapor pada istri tercinta, Mili pun tak berdaya, ia pasrah pada apa yang terjadi dalam rumah tangga.

Seperti diceritakan Boim, ia sebenarnya tidak terlalu bersemangat menikahi sang janda. Namun lantaran keadaan yang sudah terlanjur dekat, jadilah mereka menikah atas persetujuan sang istri tercinta. Sang janda yang mempunyai dua anak, resmi menjadi teman hidupnya.

Mili yang selama ini setia menemani, lebih banyak diam melihat suami bolak-balik ke rumah istri barunya. Lantaran hal itu pula, ia jadi jarang keluar rumah. Mungkin malu akan gunjingan tetangga, Mili menutup diri bersama sang buah hati.

Di awal pernikahan, semua berjalan tak ada hambatan. Boim terlihat nyaman dengan statusnya sebagai lelaki yang punya dua istri. Hebatnya, ada saja rezeki yang membuatnya bisa mencukupi kebutuhan ekonomi. Baik istri baru maupun Mili, semua diberi jatah yang sepadan oleh Boim.

Berjalan dua tahun, Mili sudah terbiasa dan tak lagi sakit hati saat sang suami pergi ke rumah istri kedua. Namun, apa mau dikata, seiring berjalannya waktu mulailah terlihat bagaimana sifat asli sang istri baru yang membuat Boim tercengang. Nah loh, ada apa tuh, Kang?

“Duh ternyata pusing ya, dia banyak maunya. Apa-apa tuh kayak harus lebih dari apa yang saya kasih ke istri pertama. Terus emosian juga orangnya,” curhat Boim.

Tak kuat menahan emosi, Boim lebih banyak berdiam diri. Ketika dimarahi, ia pergi ke rumah Mili. Parahnya, seolah tak malu pada perbuatan sendiri, ia justru banyak curhat tentang istri barunya kepada Mili. Hebatnya, meski hatinya sakit, Mili tetap melayani dan mendengarkan keluh kesah sang suami. Subhanallah banget sih Teh Mili.

Saat ini Boim merencanakan perceraian dengan istri barunya. Ia mendapat dukungan penuh dari Mili, sang istri setia. Pada akhirnya, Boim pun kembali dalam pelukan Mili seorang. Ya ampun, Kang Boim. Lagian ada-ada saja, punya istri dua kok coba-coba, ya begini deh jadinya! (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)