Setiap orang pasti memiliki mimpi atau keinginan, tapi apa jadinya kalau yang diharapkan justru sesuatu yang dibenci istri sendiri? Ya, mengaku ingin melaksanakan sunah rasul, Coki (41) tak pernah berpikir dua kali menceritakan keinginannya kepada setiap orang.

    Bukannya mendapat motivasi atau dorongan untuk mewujudkan mimpi, orang-orang justru membenci bahkan beberapa teman wanita menjadi risi. Parahnya, ketika hal itu diceritakan pada sang istri, sebut saja Konah (38). Mereka yang mengira Konah sudah mengetahui, malah mendapat tanggapan mencengangkan. Konah marah dan tak terima. Waduh, bisa-bisa terjadi perang dunia kedua nih!

    “Saya kaget pas ada yang bilang Kang Coki mau nikah lagi. Bingung, marah, kesal, semua campur aduk. Atuh saya yang istri sendiri kok tahu hal ini dari orang lain, kan malu,” curhat Konah kepada Radar Banten.

    Beratnya membangun rumah tangga memang begitu terasa. Urusan ekonomi tercukupi, masih ada masalah hati yang terkadang tak bisa membohongi rasa akan cinta pada wanita lain. Ya, kira-kira begitulah apa yang dialami Coki.

    Memiliki istri cantik jelita, nyatanya tak membuat Coki puas akan hidupnya. Ya, namanya manusia, entah hanya bercanda atau ingin dianggap hebat oleh teman-temannya, ia selalu mengumbar ingin nikah lagi. Padahal, ekonomi pas-pasan alias bukan orang kaya. Kok bisa begitu ya, Teh?   

    “Ya, dia itu kebawa-bawa sama beberapa temannya yang bisa hidup dengan dua istri, Kang. Tapi kan saya mah enggak mau, enggak kuat,” kata Konah kepada Radar Banten.

    Konah mengaku, ia lebih baik hidup miskin tak punya apa-apa daripada bergelimang harta, tetapi harus rela menerima wanita lain untuk suaminya. Saking tak ikhlasnya dimadu, wanita asli Pandeglang itu berulang kali menjelaskan betapa perihnya hati ketika mendengar omongan orang tentang suaminya yang mau nikah lagi.

    “Sakit, Kang, sedih. Meskipun jaminannya surga, tapi kan saya enggak rela. Masih ada cara lain buat dapat surga selain mengikhlaskan suami punya istri lagi,” curhat Konah.

    Seperti diceritakan Konah, Coki sebenarnya termasuk lelaki cuek dan pendiam. Namun, herannya ia punya banyak teman. Terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja dan ibu sibuk mengurus rumah, Coki muda hidup penuh warna. Meski begitu, ia tak luput dengan kenikmatan yang ada.

    Dengan kerja keras dan terus berusahalah, bias dibilang, hidupnya menjadi jauh lebih baik ketimbang teman-teman seusia. Hingga beranjak dewasa, dipertemukanlah ia dengan Konah, anak rekan sang ayah yang menjadi pilihan untuk dijadikan istri. Tak ingin terburu-buru melangkah ke pelaminan, Coki dan Konah waktu itu sempat menikmati masa pacaran.

    Saling mengerti dan memahami karakter masing-masing, baik Coki maupun Konah bersatu dalam ikatan cinta. Sifat sang lelaki yang cuek, membuat Konah nyaman. Soalnya ia berkeyakinan, tipe lalaki seperti itu kemungkinan untuk selingkuhnya sangat kecil.

    Konah bukan wanita biasa. Lulusan salah satu kampus ternama di ibukota itu dianugerahi wajah manis ala-ala gadis kota, lengkap dengan kulit putih mulusnya. Dengan kondisi ekonomi tercukupi, kesempurnaan pun tampak terasa pada diri Konah. Katanya, selain Coki, sebenarnya banyak lelaki mengantre untuk meminangnya.

    Singkat cerita, pesta pernikahan pun digelar meriah. Banyaknya tamu undangan, memadati jalan depan rumah Konah, beberapa petugas keamanan dibuat pusing lantaran tersendatnya laju lalu lintas. Mengikat janji sehidup semati, Konah dan Coki resmi menjadi sepasang suami istri.

    Di awal pernikahan, Coki dan Konah langsung menempati rumah pribadi yang sebelumnya memang sudah disiapkan. Seolah ingin segera menambah kebahagiaan kedua keluarga, baru beberapa bulan pasca pernikahan, Konah sudah dikabarkan mengandung, hingga akhirnya lahirlah sang buah hati tercinta.

    Hingga lima tahun lebih berumah tangga, banyak suka duka yang datang menerpa. dengan dua anak yang mulai tumbuh remaja, Coki dan Konah berjuang bersama mendidik serta memberi kehidupan indah bagi putra putrinya. Dengan profesi sebagai salah satu pegawai perusahaan swasta, Coki dan istri merasa hidup bahagia. Namun, apalah daya bukannya bersyukur, Coki malah mulai tergoda lingkungan teman-teman yang punya istri dua.

    Hingga di suatu sore, ketika Coki tampak lelah sepulang bekerja, Konah seolah tak mampu menahan amarah. Tak peduli bagaimana pun kondisi sang suami, ia yang sudah telanjur emosi bersiap memarahi suami. Tak lama setelah Coki masuk rumah sambil mengucap salam, Konah meledak-ledak mencaci maki sang suami.

    Bukannya sadar akan kesalahan, mungkin karena lelah dan tak terima, Coki membentak Konah sampai menjerit ketakutan. Apalah daya, keributan mereka memancing perhatian tetangga dan saudara, kedua anak yang datang bersama teman sepulang main pun, ikut menangis histeris melihat kedua orangtua bertengkar hebat.

    “Duh, Kang. Waktu itu saya sakit hati. Enggak peduli orang-orang pada lihat, rasanya tuh rumah tangga sudah enggak ada artinya,” tukas Konah emosi.

    Mendengar pertengkaran itu, ayah Konah datang membawa pulang sang anak beserta cucunya. Ia meminta Konah dan Coki saling menenangkan diri selama beberapa hari. Katanya, kalau keduanya sudah merasa tenang dan bisa mengendalikan diri, silakan bertemu dan membicarakan masalah ini.

    Beruntung, dua minggu kemudian Coki datang menemui Konah di rumah mertua. Ia meminta maaf dan mengajak sang istri pulang. Konah pun bersedia kembali menjalani hari bersama Coki. Mereka saling mengintrospeksi diri.   

    Subhanallah, semoga rumah tangga Teh Kunah dan Kang Coki langgeng selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)