Terjerumus Dunia Malam, Keluarga Terlupakan

Bagi Joko (43) nama samaran, keluarga adalah segalanya. Lain dengan dulu. Joko sempat terjerumus dunia hiburan malam yang kelam hingga lupa segalanya mengakibatkan rumah tangganya bersama istri, sebut saja Jeni (41) nyaris berantakan.

Ditemui Radar Banten di salah satu masjid di Kecamatan Cikande, Joko tak menolak diajak berbincang mengenai kisah rumah tangganya. Sempat bekerja sebagai pimpinan di salah satu perusahaan ternama di Cilegon, Joko sempat terbuai dengan kehidupan kelam, mulai dari judi, wanita simpanan, hingga mabuk-mabukan. Situasi itu membuat Joko sempat menelantarkan anak-istri. Beruntung Joko cepat sadar dan memperbaiki kembali bahtera rumah tangganya yang nyaris kandas.

Diceritakan Joko, pertemuannya dengan Jeni akibat perjodohan orangtua. Di usianya yang cukup matang Joko berhasil mencapai tangga kesuksesan dengan diangkat menjadi asisten direktur di perusahaan. Kesuksesan itu tentu saja membuat orangtuanya bangga dan menghadiahkan Joko seorang perempuan untuk dijadikan pendamping hidup. Joko yang baru pulang kerja langsung dipertemukan dengan Jeni di rumah. Pandangan pertama begitu menggoda, Joko loangsung terpana dengan kecantikan Jeni yang mengenakan pakaian gamis. Tatapan Joko langsung nakal ketika menyadari melihat kulit Jeni yang putih mulus dan tangannya selembut sutera. Tak perlu berpikir lama bagi Joko untuk memutuskan ingin meminang Jeni yang memang jebolan pesantren itu. “Di pikiran saya dulu kalau nikah sama perempuan yang tahu agama, bisa bimbing sayalah ke jalan yang benar,” ujarnya. Jadi selama ini jalannya nyasar ya Mas. “Jujur saya beruntung bisa dapat istri seperti dia,” akunya. Kalau beruntung kenapa selingkuh! Dasar buaya.

Lengkaplah kebahagiaan Joko yang memang ditunjang dengan postur tubuh ideal dan tampan, serta statusnya bos muda di perusahaan. Tentunya posisi Joko menarik perhatian banyak kaum hawa. Namun, Joko selektif dalam memilih pasangan hidup. Seperti Jeni yang sepertinya bakal menjadi istri salehah dan taat terhadap suami. Joko terlahir dari keluarga sederhana, tetapi masa kecilnya ceria. Disayangi kedua orangtua, Joko pun tumbuh menjadi anak yang berkarakter, periang, serta mudah bergaul. “Sejak kecil saya selalu dididik untuk berpikir terbuka,” ujarnya. Bagus dong, daripada terutup.

Kelebihan lain Joko, yakni mampu berbahasa asing dan pandai berhitung. Pokoknya Joko unggul dibanding teman-teman seusianya dulu. Beranjak remaja, beragam prestasi diraih Joko, baik bidang akademik maupun non-akademik. Tidak sampai disitu, Joko juga mahir dalam bidang olahraga. Maka tak heran, pascalulus SMA Joko langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan kimia ternama di Cilegon. Di perusahaan, Joko pun menerima upah cukup besar sehingga mampu meningkatkan ekonomi keluarga. Apalagi, Joko termasuk tipikal pekerja keras sehingga menjadi andalan di perusahaan. Seiring berjalannya waktu, kehidupan Joko terus meningkat hingga mampu membeli rumah dan kendaraan pribadi. Memasuki usia kepala tiga, Joko didesak orangtua agar segera mengakhiri masa lajang. “Sempat gonta-ganti pacar, tapi belum ada aja yang nyantol. Saya kan orangnya selektif,” ujarnya. Gonta-ganti pacar apa sering diputusin tuh.

Sampai akhirnya pilihannya jatuh pada Jeni buah perjodohan pilihan orangtuanya. Beruntung Joko langsung direspons oleh Jeni yang sepertinya juga tak menolak untuk dijodohkan. Singkat cerita, keduanya resmi menjadi kekasih dan mulai pendekatan sebelum berlanjut ke pelaminan. Selang satu bulan, keduanya memutuskan untuk beranjak ke jenjang pernikahan. Pesta pernikahan digelar cukup meriah. Di awal pernikahan, Jeni langsung dihadiahi Joko rumah mewah berikut perabotan dan mobil pribadi hasil kerja kerasnya. Rona kebahagiaan mereka semakin terpancar setelah satu tahun kemudian lahir anak pertama. Namun, bukannya makin betah dengan kehadiran si jabang bayi, Joko malah tergoda ajakan rekan kerjanya yang kerap menikmati waktu malam untuk hiburan. Dari judi, minuman, hingga main perempuan. Sementara setiap hari istri mengurus anak di rumah. Joko kerap pulang malam dan tak ada waktu untuk sekadar berkumpul dan berbincang dengan istri dan anaknya. “Ya waktu itu khilaf, yang ada di kepala saya cuma kerja, kerja, kerja, terus butuh hiburan,” tukasnya. Ingat yang doakan kesuksesan Mas ya istri di rumah.

Sampai berjalan usia dua tahun rumah tangga Jeni masih bertahan dan mengerti dengan kondisi pekerjaan suami. Menjelang tahun kelima pernikahan, Joko dan Jeni kembali dianugerahi anak kedua. Namun, kasih sayang Joko terhadap Jeni malah makin berkurang. Jeni dan anak-anak tak terperhatikan. Joko hanya menunjukkan kasih sayang dengan memberikan fasilitas dan pembantu rumah tangga di rumah. Suatu waktu, Joko diminta pergi ke luar kota untuk mengurus pekerjaan. Sebulan lebih Joko tak pulang dan mulai merasakan kerinduan terhadap keluarga. Selepas pekerjaannya selesai, Joko pun lekas pulang dan menemui anak istrinya.

“Tapi, malam saya tiba di rumah dan mengetuk pintu, tak ada satu pun orang di rumah. Berulang kali mengucap salam, enggak ada jawaban. Pintu terkunci, seperti tidak ada orang sama sekali. Saya bingung, coba menelepon istri enggak diangkat. Saya terus bertanya-tanya,” katanya. Makanya, Mas Joko jangan kebablasan kalau hiburan.

Sampai akhirnya Joko dihampiri tetangga rumah yang mengabarkan kalau istrinya sedang di rumah sakit menunggu anak-anaknya yang sakit. Joko lekas menginjak pedal gas, mobilnya melesat membelah malam. Sesampainya di rumah sakit, ia mendapati di buah hati terbaring lemas. Tubuhnya panas dan pucat. Muka Joko memerah karena merasa tidak dikabari istri. Jeni yang tak terima dengan bentakan Joko, melawan dan terjadilah keributan di antara keduanya. Namun, hari itu Joko langsung tersadar dan tertunduk sambil menitikkan air mata melihat anaknya yang kurang perhatian orangtua. Setelah anaknya sembuh, Joko memutuskan untuk pensiun dini dari tempatnya bekerja. “Saat itu saya sadar, kalau hidup bukan cuma buat ngejar harta, tapi ada keluarga yang harus diperhatikan. Saya enggak mau kehilangan momen indah dengan anak-istri. Lebih baik saya buka usaha sendiri,” curhatnya. So sweet.

Saat ini, Joko pun melanjutkan kehidupan rumah tangganya dengan membuka usaha warung sembako di Cikande. Subhanallah, semoga langgeng ya Mas. Amin. (mg06/zai/ags)