Kepala Kanwil Kemenag Banten A Bazari Syam bersama Ketua MUI Banten AM Romli saat mengisi rakor humas Kanwil Kemenag Banten bersama media, Kamis (27/12).

SERANG – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Banten bertindak cepat mengatasi dampak tsunami di Kabupaten Pandeglang. Selain memberikan bantuan makanan, juga menerjunkan para pembina agama atau penyuluh untuk melakukan penguatan rohani kepada para korban.

“Sudah diinstruksikan kepada penyuluh dan guru agama untuk memberikan pembinaan rohani. Saat terjadi bencana kemarin juga saya langsung mengumpulkan para pembina agama agar bertanggung jawab terhadap pemeluk agamanya,” ujar Kepala Kanwil Banten Kemenag A Bazari Syam di sela-sela Rakor Humas Kanwil Kemenag Banten bersama media, Kamis (27/12).

Selain ditugaskan untuk menenangkan psikologis para korban, Bazari menugaskan para penyuluh untuk tetap menjaga dan menghindari terjadinya persoalan terkait dengan keagamaan. “Karena mayoritas muslim maka sudah diinstruksikan kepada penyuluh agama honorer dan KUA (Kantor Urusan Agama) untuk memberikan pembinaan rohani. Termasuk juga dalam pendistribusian sembako, sudah ada poskonya,” katanya.

Kata dia, dalam kejadian bencana tersebut, beberapa pegawai Kemenag tercatat menjadi korban, baik korban jiwa, maupun luka-luka. Selain itu, tercatat beberapa aset milik Kementerian Agama yang rusak. Kemenag berencana memberikan bantuan secara simbolis untuk korban yang diberikan langsung oleh Menteri Agama.

“Untuk satu orang kepala MI yang meninggal juga murid madrasah. Total ada 11 korban, delapan orang meninggal, pegawai maupun keluarga dari pegawai Kemenag. Sedangkan untuk bangunan, ada lima yang rusak sedang,” katanya.

Di tempat yang sama , Ketua MUI Banten AM Romli mengatakan, tsunami dalam pendekatan agama merupakan teguran agar manusia kembali selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. “Penting dalam suasana duka seperti ini. Kemenag bersama elemen agama lainnya memberikan pendampingan rohani bagi korban,” katanya.

Ia juga berharap, dalam pergantian tahun 2018 ini, dijadikan momentum untuk introspeksi diri. Apa-apa yang kurang kita tingkatkan lagi. Pergantian tahun baru itu, kata dia, merupakan kegembiraan, tapi tidak diisi dengan unsur kemaksiatan. “Ya, tidak diisi dengan kegiatan-kegiatan maksiat. Tentu dengan sikap positif,” pungkasnya. (Fauzan)