Terkait Potensi Tsunami 20 Meter, Warga Diminta Jangan Panik

0
348 views

SERANG – Pemprov Banten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meminta warga Banten tidak panik menanggapi laporan riset yang diungkapkan ilmuwan ITB soal potensi tsunami setinggi 20 meter di Selatan Pulau Jawa.

Kepala Pelaksana BPBD Banten Nana Suryana mengungkapkan, hasil riset itu bukan prediksi tentang tsunami bakal segera terjadi namun, sekadar taksiran kemungkinan terburuk bila dua segmen lempeng bumi di zona megathrust selatan Jawa bergerak simultan.

“Hasil riset yang dituangkan dalam pemodelan tsunami, sehingga muncul taksiran terjadi gempa di atas 8 magnitudo dan tsunami 20 meter. Tentu ini informasi untuk menambah kesiapsiagaan mitigasi bencana,” kata Nana kepada wartawan usai menerima sumbangan 10 ribu masker dari Relawan Gemas (Gerakan Masyarakat Pakai Masker) di kantor BPBD Banten, Senin (28/9).

Ia melanjutkan, warga Banten yang berada di Banten Selatan jangan panik berlebihan menanggapi hasil riset ITB. Sebab hingga saat ini belum ada alat secanggih apapun yang bisa memprediksi kapan dan dimana gempa dan tsunami akan terjadi. “Waspada harus, tapi jangan panik. Tentu kami bersama instansi terkait lainnya akan segera berkoordinasi untuk melakukan mitigasi bencana,” tegas Nana.

Mitigasi, lanjut Nana, merupakan tindakan mengurangi dampak bencana. Untuk mengurangi dampak gempa dan tsunami, masyarakat perlu senantiasa menerima edukasi, termasuk lewat informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Gempa adalah fenomena alam yang lumrah di selatan Jawa. Tsunami sudah beberapa kali terjadi dalam rentang ratusan tahun belakangan. Ini tentu harus diwaspadi karena memang potensinya ada,” bebernya.

Terkait alat peringatan dini tsunami, Nana menyebutkan Provinsi Banten memiliki 8 unit alat canggih tersebut. Namun saat ini tiga unit diantaranya tidak berfungsi atau dalam kondisi rusak. “Alat itu semuanya milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kami telah melaporkan untuk segera diperbaiki alat peringatan dini tsunami yang rusak,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pengecekan langsung BPBD, tiga alat peringatan dini tsunami yang rusak berada di Kecamatan Labuan dan Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang dan di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. “Kalau tidak segera diperbaiki, alat ini tidak akan berfungsi bila terjadi tsunami,” tambah Nana.

Senada, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Klas I Tangerang Suwardi juga meminta masyarakat untuk tetap waspada dan tidak panik berlebihan. Ia juga meminta warga Banten untuk tidak percaya informasi hoax terkait ancaman tsunami. “Potensi tsunami 20 meter itu hasil riset, bukan prediksi akan terjadi tsunami di selatan Jawa. Tetap waspada dan jangan menyebar hoax,” katanya.

Terkait alat peringatan dini tsunami yang rusak di Banten, Suwardi mengaku telah menyampaikan laporannya ke BMKG pusat. “Itu hasil pengecekan bersama dengan BPBD, ada tiga yang sirinenya tidak berfungsi,” tuturnya.

Terkait potensi tsunami  Suwardi mengungkapkan wilayah Indonesia merupakan bagian dari jalur gempa dunia yang terbentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Alor, Laut Banda, Seram, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.

Sebagai wilayah yang terletak pada jalur gempa aktif, kondisi fisiografi wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Ketiga lempeng tektonik tersebut bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain, menjadikan wilayah Indonesia sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di dunia.

“Wilayah Indonesia memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, kita memiliki 13 segmentasi sumber gempa megathrust. Selain itu kita juga memiliki sebanyak 295 segmentasi sesar aktif. Berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks ini, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman,” tuturnya.

SESAR UJUNG KULON

Di wilayah Banten dan sekitarnya, selain aktivitas subduksi, gempabumi yang terjadi di wilayah ini juga dipengaruhi oleh keberadaan aktivitas sesar-sesar lokal seperti Sesar Ujung Kulon, Sesar Cimandiri, Patahan Pelabuhan Ratu, dan terusan Sesar Semangko.

Sebelumnya, potensi tsunami setinggi 20 meter diungkapkan ke publik oleh ilmuwan dari ITB Sri Widiyantoro. Laporan ilmiah itu dimuat di situs Nature, judulnya ‘Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia’.

Secara umum, bila dua area di zona megathrust di selatan Jawa runtuh secara bersamaan, bakal ada gempa bermagnitudo (M) 9,1. Gempa raksasa itu bakal memunculkan gelombang tsunami setinggi 20,2 meter. “Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan,” kata Sri dalam rilisnya.

Kepala Pusat Pusat Gempa Bumi dan Tsunami (BMKG) Rahmat Triyono membenarkan bila potensi tsunami memang ada, bahkan menurutnya tidak hanya di selatan Jawa, ancaman tsunami juga ada di tempat-tempat lain di Indonesia.  “Kita tetap melakukan edukasi dan mitigasi ke masyarakat bahwa di selatan Jawa, bahwa itu ada ancaman riil, nyata. Di pantai barat Sumatera juga demikian, ada ancaman riil, di Andaman, Simeleue, Nias, Enggano, selatan Jawa, selatan Bali, Nusa Tenggara Barat, utara Manado, Maluku, Papua. Semua berpotensi,” tutur Rahmat.

Sementara itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat 25 wilayah di Pulau Jawa rawan gempabumi dan tsunami (tsunamigenik). Wilayah- wilayah tersebut terbagi dalam 5 provinsi yakni, 4 di Banten, 5 di Jawa Barat, 9 di Jawa Timur, 4 di Jawa Tengah, dan 3 di Provinsi Jogjakarta.

Kassubag Mitigasi Gempa Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Akhmad Solihin mengatakan, wilayah rawan gempa bumi dan tsunami dalam katalog yang dibuat PVMBG berdasarkan pada sejarah kejadiannya.

“Kejadian gempa bumi di suatu tempat itu berulang, artinya jika suatu daerah pernah terlanda gempa bumi besar, maka suatu saat akan mengalami kembali. Namun waktunya kapan belum tahu,” ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Saat disinggung berkaitan dengan wilayah yang berpotensi tsunamigenik seperti yang disebutkan dalam riset ITB, pihaknya menyebut belum dapat memastikan akankah sama atau tidak dengan wilayah sebaran yang disebut dalam katalog tersebut.(den/alt)