Terkait Tewasnya Andriyana, Empat Sipir Lapas Cilegon Dinonaktifkan

0
749 views

SERANG – Empat sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas III Cilegon telah dinonaktifkan dari tugasnya. Sanksi administrasi itu dijatuhkan Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Banten setelah keempat oknum sipir itu ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan Andriyana (26), tahanan titipan Polsek Cilegon di Lapas Klas III Cilegon pada Minggu (3/12) dini hari.

Keempat oknum sipir itu berinisial UR, FS, RS, dan RD. Bersama 15 warga binaan Lapas Klas III Cilegon, keempat oknum sipir itu ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polres Cilegon. Belasan warga binaan itu berinisial AM, DD, FZ, MT, DH, AZ, AD, IB, BL, JN, AD, ID, AP, dan AE.

“Masih dinonaktifkan. Ya, (sepanjang-red) masih penyidikan pada pihak berwenang,” kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Banten Enny Purwaningsih, Senin (19/12).

Andriyana dinyatakan tewas oleh pihak RSUD Cilegon pada Minggu (3/12) dini hari. Kematian tersangka kasus penjambretan itu diduga kuat akibat dianiaya. Ditemukan banyak luka bekas sundutan bara api/rokok pada bagian lulut, mata kaki, bokong, pundak, tangan, dan pinggang korban. Pada bagian punggung, telapak tangan, dan lengan sebelah kanan Andriyana juga terdapat luka bakar yang diduga kuat akibat sundutan solder listrik.

Luka-luka itu memicu kecurigaan keluarga Andriyana. Merekalah yang melaporkan kematian tahanan titipan di Lapas Klas III Cilegon itu ke Polres Cilegon. Penyelidikan pun dilakukan Polres Cilegon dibantu Polda Banten. Penyidik memeriksa saksi-saksi secara maraton hingga penetapan tersangka terhadap 19 orang tersebut.

Disinggung soal sanksi pemecatan kepada keempat oknum sipir Lapas Klas III Cilegon itu jika terbukti bersalah, Enny enggan berkomentar. “Saya enggak mau bicara seandainya. Kita harus kedepankan asas praduga tak bersalah. Kita lihat dulu mas, bagaimana perkembangan penyidikannya (pemberian sanksi-red). Sejauh ini, masih nonaktif saja,” tegasnya. Enny mengklaim, Kanwil Kemenkumham Banten telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah kasus serupa terulang.

Sebelumnya, Kapolres Cilegon Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Raden Romdhon Natakusumah membenarkan penetapan 19 tersangka penganiayaan hingga mengakibatkan kematian Andriyana tersebut. “Setelah kita lakukan gelar perkara dengan tim gabungan antara Polres Cilegon dan Polda Banten beberapa waktu lalu, akhirnya nama-nama tersangka itu baru muncul,” katanya.

Ke-19 tersangka itu dikenakan Pasal 170 ayat (2) KUH Pidana tentang penyerangan dan penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. “Seperti masa orientasi lapangan begitu (menggambarkan kasus yang dialami Andriyana-red). Di situ, terjadi pemukulan, tapi itu sudah lama. Saya sudah lupa detailnya,” tambah Kabid Humas Polda Banten AKBP Zaenudin. (Merwanda/Radar Banten)