Terlalu Royal, Tak Diberi Mekap Istri Kalap

Sebagai orang terpandang di kampung, urusan bagi-bagi duit bukan lagi hal aneh. Rapi (37) nama samaran terkenal royal dan perhatian ke orang lain, tapi di sisi lain, istri tercinta, sebut saja Imah (35) mengamuk karena tak dikasih uang membeli mekup. Astaga.

      Ditemui Radar Banten di Kecamatan Kibin, siang itu Imah sedang makan bakso bersama rekan sekerja. Sambil ikut nimbrung, Imah tidak malu saat menceritakan pengalaman rumah tangga dengan Rapi.

      Kata Imah, sebenarnya kalau untuk urusan ekonomi, ia dan Rapi tidak terlalu kesulitan. Soalnya, Rapi anak orang kaya, bapaknya pengusaha dan punya banyak kenalan orang-orang penting di perusahaan wilayah Modern Cikande. “Waktu itu Kang Rapi juga jadi ketua pemuda, ketua organisasi inilah-itulah, jabatannya banyak,” kata Imah.

      Imah sendiri awalnya merasa bangga dan bahagia saat didekati Rapi. Mereka bertemu waktu di acara organisasi kepemudaan di Bandung. Waktu itu Rapi diam-diam menyimpan perasaan kepada Imah. Maklumlah, Imah memang cantik, bodinya aduhai dan kulitnya putih.

      Rapi pun tak kalah rupawan, selain dikenal royal dan baik, Rapi memiliki paras tampan, postur tubuhnya juga tinggi. Katanya sih, banyak wanita yang ingin jadi pacar Rapi. Tapi Rapi lelaki selalu bersikap cuek dan menganggap semua yang dekat dengannya adalah teman. “Tapi ke saya mah waktu itu sikapnya beda, perhatiannya plus sayang gitu,” kata Imah. Ah, itu mah Teh Imahnya aja yang kegeeran.

      Tapi, Imah pun membuktikan ucapannya. Sebulan setelah pendekatan, Rapi menyatakan perasaan cinta. Mereka jadian dan pacaran selama setahun. Hubungan keduanya berlanjut ke tahap yang lebih serius. “Alhamdulilah, baru setahun langsung punya anak,” katanya.

      Bukan cuma itu, Rapi juga membangun rumah untuk keluarga kecil mereka.  Rumah tangga Imah dan Rapi diselimuti kebahagiaan, Rapi yang masih mengandalkan ekonomi dari bapaknya, bisa memberi kebahagiaan untuk anak istri. “Dia kerjanya santai, kalau ada yang mau masuk kerja pabrik, biasanya dibantuin karena punya kenalan orang dalem juga,” kata Imah. Lah calo dong, Teh?

      “Iya kali, tapi dia mah enggak matokin harga ke calon pekerja. Jadi malah dibantu aja, kadang kalau orang enggak mampu mah gratis,” katanya.

      Berkat perannya membantu banyak orang mendapatkan pekerjaan, Rapi dihormati orang kampung. Mulai dari pemuda sampai orangtua. Tak heran, setiap ada acara apa pun, Rapi pasti mendapat undangan dan diberi kursi paling depan bersama orang penting di desa. “Akhirnya Kang Rapi juga diangkat jadi ketua pemuda,” katanya.

      Sejak itu, pergaulan Rapi semakin luas. Siapa pun pasti mengenal Rapi, bahkan setiap malam ada saja tamu yang datang untuk sekedar mengobrol, atau meminta pertolongan kepada Rapi. “Ada orang sakit, minjem duit buat sekolah anak, sampai urusan bayar setoran motor, semua minta tolongnya ke Kang Rapi,” katanya.

      Tapi Rapi tidak pernah menolak dan selalu membantu, karena sikapnya itu, perlakuan orang-orang terhadap Imah juga berbeda. Imah selalu dispesialkan. Setiap ada acara, Imah selalu jadi orang yang didahulukan. “Senang juga sih, rasanya kayak dihargai sama orang,” katanya.

      Tapi suatu hari, ada ibu-ibu yang bilang kalau Imah kurang dandan. Bahkan, katanya, Imah seharusnya bisa lebih cantik jika tidak ingin suaminya direbut wanita lain. Mendengar itu, Imah pun terpancing emosi. Besoknya ia langsung meminta uang kepada Rapi untuk membeli mekap.

      “Saya cuma minta sejuta, eh suami malah protes katanya kemahalan. Orang lain dibantu, istri sendiri malah digituin,” keluhnya.

      Imah pun ngambek karena tidak dikasih uang mekup. Tiga hari tidak bicara, tapi Rapi malah sibuk di luar rumah bersama teman-temannya. Akhirnya Imah pulang ke rumah orangtua, seminggu kemudian Rapi pun menyusul dan meminta maaf. “Makanya sekarang mah saya mending cari uang sendiri, biar mandiri dan enggak bergantung ke suami,” tukasnya.       Oalah, yang sabar ya Teh. Yang penting mah harus tetap langgeng terus, nanti juga ada berkahnya. Amin. (mg06/zee)