Terlilit Hutang ke Rentenir, Rumah Disita

Utang Rp150 Juta Menjadi Rp300 Juta

Warga sekitar membantu mengosongkan rumah milik Ratna Dewi di Lingkungan Simpang Tiga, RT/RW 02/01, Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, pada Rabu (11/4).

CILEGON – Hati-hati jika berurusan dengan rentenir. Salah-salah bisa rugi besar. Seperti yang dialami oleh Ratna Dewi, warga Lingkungan Simpang Tiga, Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon. Ratna Dewi harus merelakan rumahnya disita oleh pengadilan lantaran kediamannya itu sudah berganti kepemilikan tanpa sepengetahuan dirinya.

Awalnya, Ratna Dewi memiliki utang sebesar Rp150 juta kepada rentenir dan harus membayarnya sebesar Rp300 juta. Lantaran tidak sanggup membayar sebesar itu, akhirnya rumah yang ditempati Ratna Dewi di Lingkungan Simpang Tiga, RT/RW 02/01, Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, dieksekusi oleh pemenang lelang J Situmorang atas dasar penetapan ketua Pengadilan Negeri Serang Nomor 15/Pdt.Eks/L/2017/PN Serang pada Rabu (11/4).

Informasi yang dihimpun, Ratna Dewi mempunyai utang kepada rentenir sejak 2015 hingga 2017 lalu. Utang Ratna Dewi kemudian membengkak menjadi Rp300 juta dalam jangka dua tahun dan dia tidak mampu membayarnya. Yang bersangkutan merasa dirugikan lantaran sertifikat yang dititipkan kepada pihak rentenir sebagai jaminan atas pinjamannya telah berubah atas nama J Situmorang.

Pantauan Radar Banten, Rabu (11/4), eksekusi rumah tiga pintu dan tujuh kontrakan yang dilakukan oleh petugas PN Serang tersebut mendapatkan pengawalan ketat dari aparat TNI, Polri, dan Satpol PP sebanyak kurang lebih 200 personel. Tidak ada perlawanan dari pihak Dewi dalam peristiwa itu. Kendati salah satu anggota keluarga Ratna Dewi mengamuk di tempat tersebut, petugas dapat meredamnya.

Ratna Dewi mengaku, mempunyai utang kepada rentenir J Situmorang sebesar Rp150 juta dan harus dibayar dengan nominal sebesar Rp300 juta. Peminjaman uang tersebut dilakukan dirinya guna membayar utang pada Bank bjb, sebagai jaminannya adalah sertifikat rumah. “Saya juga tidak menggunakan coretan hitam di atas putih,” ujarnya sambil menangis di sela-sela eksekusi rumahnya.

Ratna juga mengaku, dirinya hendak bayar utang tersebut sebesar Rp200 juta, tetapi ditolak. Tidak hanya itu, dirinya sempat pergi ke Palembang untuk menjual tanah guna membayar utang kepada rentenir tersebut. “Saya sudah ada niat baik mau bayar utang, ternyata pas saya pulang ke sini (Cilegon-red) sertifikat saya sudah aanmaning (peringatan teguran-red) bahwa rumah saya sudah terjual dan dilelang oleh J Situmorang,” ujarnya.

Menurut Dewi, ketika dirinya menanyakan surat rumah kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN), ternyata rumah yang ditempati oleh janda anak satu ini sudah berpindah tangan tanpa ada persetujuan darinya. “Saya tanyakan ke BPN rumah saya sudah balik nama, kan aneh itu namanya,” ujarnya. “Insya Allah, saya akan melakukan tindakan hukum lagi untuk mengambil hak saya dari J Situmorang,” imbuhnya.

Sementara itu, juru sita PN Serang Untung Rohadi mengatakan, eksekusi dilakukan berdasarkan risalah lelang yang telah dilakukan oleh PN Serang. Dalam risalah lelang tersebut, ada risalah-risalah keadilan untuk kedua pihak. “Berarti itu bisa dieksekusi. Si Jonny Situmorang itu adalah pemenang lelang sesuai dengan putusan PN Serang,” ujarnya.

Untung menegaskan, ketika J Situmorang memenangkan lelang dan sudah ada hasilnya, rumah tersebut masih dihuni oleh pemiliknya. Pemenang lelang adalah pemenang yang sah dan berhak memiliki rumah tersebut. “Maka kami eksekusi rumah tersebut,” ujarnya.

Disinggung soal pemilik rumah belum mendapatkan panggilan dari PN Serang. Untung berkilah bahwa semua prosedur sudah ditempuh oleh pihak pemenang lelang dan PN Serang. “Semua prosedur sudah kita lakukan, semua bukti ada di PN Serang, itu mah hanya dalih dia saja,” kilahnya. (Adi/RBG)