Termakan Janji Manis, Berakhir Meringis

0
671 views

Gara-gara tergiur janji manis suami yang mengaku sebagai pengusaha kaya raya, Lusi (29), nama samaran, kini merasakan penyesalan yang begitu dalam. Meski begitu, hubungan rumah tangga Lusi dan suaminya, sebut saja Edi (30), sampai saat ini masih bertahan. Janji manis apa tuh? Penasaran kan? Kita simak yuk ceritanya!.

Demi mendapatkan cinta sejati, apa pun pasti dilakukan. Tak terkecuali Edi terhadap Lusi yang sudah lama menjadi pujaan hati. Lusi termakan rayuan Edi yang mengaku sebagai pria tajjir melintir. Padahal, kenyataannya untuk makan sehari-hari saja susah. Yassalam. Makanya, jangan matrealistis, menilai buku dari sampulnya.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Lusi siang itu baru selesai makan bakso bersama temannya. Iseng-iseng mengobrol, Lusi malah curcol soal kehidupan rumah tangganya yang menyimpan kepedihan. Ya, Lusi kena tipu muslihat suami. Lusi tidak pernah menyadari selama enam bulan pacaran hanya disuapin rayuan maut Edi dan janji-janji manisnya. Lusi dijanjikan bakal menata masa depan yang cerah bersama Edi yang mengaku mempunyai rumah mewah, mobil banyak, dan anak pengusaha kaya raya yang membuatnya langsung tergiur ingin segera dihalalkan. “Saya baru kenal dia juga enggak lama. Jadi enggak tahu kalau dia pembohong,” sesalnya. Makanya, diperiksa dulu Mbak, jangan beli kucing dalam karung.

Padahal, Lusi sudah diingatkan temannya agar jangan terlalu dekat dengan Edi saat pertama berkenalan. Namun, Lusi terhipnotis wajah Edi yang lumayan rupawan dan penampilan yang keren yang membuatnya lupa segalanya. Apalagi, mengobrol dengan Edi langsung nyambung sehingga membuatnya nyaman. Ditambah, Edi di hadapan Lusi selalu menunjukan sikapnya yang loyal. Apapun yang Lusi minta, pasti dituruti. “Orangnya baik banget, pengertian lagi,” pujinya. Itulah buaya, pandai bersandiwara.

Lusi sendiri tak kalah menarik. Orangnya cantik dan bodinya aduhai. Wanita asli Kota Tangerang itu sebetulnya dulu saat dekat dengan Edi banyak lelaki yang mengincarnya. Bahkan sampai ada yang melamarnya. Namun, selalu ditolak Lusi karena merasa mantap dengan sosok Edi. Lusi merasa sudah menemukan jodohnya yang paling top markotop. sampai akhirnya, Lusi dan Edi sepakat melanjutkan hubunganya ke arah lebih serius. “Dia pernah nunjukin rumah yang besar lagi disewain ke orang. Bagus banget rumahnya, banyak mobilnya. Tapi, saya sempat heran, kita resepsinya malah di rumah ibunya yang kecil dan sederhana, anehkan?,” tukasnya. Tuh sadar ada keanehan.

Lebih aneh lagi, Edi yang anak pengusaha raya ternyata bekerja sebagai karyawan biasa di pabrik. Awalnya, Lusi tidak mempermasalahkan dan menganggap kalau Edi orangnya tidak suka memanfaatkan harta orangtuanya. Sebulan berjalan pernikahan, semua berjalan lancar. Meski keduanya masih tinggal menumpang di rumah orangtua, tapi Edi dan Lusi tampak begitu merasakan kebahagiaan. Hingga suatu hari, Lusi yang menaruh curiga, diam-diam bertanya soal rumah besar yang katanya milik suaminya kepada tetangga. “Sumpah, saya malu banget. Ternyata, Mas Edi cuma ngaku-ngaku doang, itu rumah orang lain, bukan rumah dia,” kesalnya. Wah,,,sudah terlanjur basah.

Menyadari kepalsuan status suaminya, Lusi emosi dan meluapkan kekesalannya saat Edi tiba di rumah. Keributan di antara keduanya pun tak dapat dihindari. Sejak itu, Lusi dan Edi selalu bertengkar hebat membahas kebohongan Edi yang kenyataannya hanya anak seorang pedagang. “Pokoknya saya bener-bener kaget. Kok bisa dia bohongin saya,” keluhnya.

Kondisi semakin parah saat Edi dipecat dari tempatnya bekerja. Jangankan memenuhi kebutuhan Lusi untuk membeli make up dan asesoris lainnya, untuk makan sehari-hari saja mulai susah. Setiap Lusi meminta uang, Edi malah menanggapinya dengan emosi karena tidak bisa berbuat apa-apa. “Sekarang saya cuma bisa pasrah, nangis tiap malem,” sesalnya.

Ya ampun, sabar ya Mbak. Semoga dimudahkan rezekinya. Amin. (mg06/zai)