Termotivasi Juri, Lingkungan Tak Kumuh Lagi

0
544
Anak-anak tampak ceria bermain di taman anak karya warga RW 08, Lingkungan Tancang, Desa Sukarame, Kecamatan Cikeusal, Kamis (26/11)

LKBA Kabupaten Serang 2020

Menuju penilaian tahap kedua Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) Kabupaten Serang 2020, warga mulai kembali mempersiapkan lingkungan yang akan dikunjungi juri. Berkat saran dan arahan tim juri pada penilaian tahap pertama, lingkungan perkampungan kini tak kumuh lagi.

HAIDAR – Serang

Bagi para kepala desa dan ketua RW, tentu bukan perkara mudah untuk mengajak warga gotong royong menata lingkungan. Apalagi, anggaran untuk ongkos makan, kopi, dan rokok serta keperluan penataan lainnya, juga berasal dari warga melalui swadaya.

Sedangkan pada kenyataannya, strata ekonomi setiap warga berbeda-beda. Ada yang mampu, ada pula yang untuk makan sehari-hari saja sulit. Belum lagi persoalan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan, membuat lingkungan kumuh seolah menjadi hal biasa.

Tak heran jika pada penilaian tahap pertama LKBA yang berlangsung 4 hingga 10 November 2020, tim juri masih menemukan kampung yang belum ditata alias zonk. Persoalan biaya dan kesadaran warga terhadap kepedulian lingkungannya menjadi alasan.

Namun kedatangan tim juri waktu itu bukan hanya sekadar menilai, tapi juga memberi arahan serta motivasi kepada warga untuk sadar pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Bahkan, hal ini juga menjadi pembahasan penting pada rapat evaluasi tim juri di lapangan Futsal Radar Banten Arena, Rabu (24/11). 

Para tim juri masih menemukan desa yang hanya mengandalkan satu RW. Bahkan, ada pula warga yang hanya menata lingkungan di satu RT saja. Hal ini tak sesuai dengan ketentuan dan persyaratan lomba yang mengharuskan warga menata  lingkungan satu RW. “Walaupun penataannya bagus, tapi kalau yang ditata satu RT saja, makanya nilainya kecil,” tegas salah satu tim juri M Widodo.

Widodo juga mengingatkan agar para kepala desa dan ketua RW membaca kembali kriteria dan persayaratan lomba, mulai dari persyaratan fisik hingga persyaratan administrasi, seperti kelengkapan SK, dokumentasi foto kegiatan warga, dan jumlah warga yang ikut swadaya ditunjukkan dengan daftar sumbangan. “Jadi kalau yang lingkungannya bagus, tapi syarat administrasinya tidak ada, tetap nilainya akan kecil,” ungkapnya.  

Mulai Termotivasi

Tim peliputan Radar Banten dan BantenTV terus mengontrol perkembangan progres penataan warga di berbagai wilayah di Kabupaten Serang. Tak disangka, kampung yang pada penilaian tahap pertama tak ada penataan sama sekali alias zong, sekarang sudah mulai tampak bersih dan tertata.

Seperti yang terjadi di lingkungan RW 03, Kampung Kepuh, Desa Bugel, Kecamatan Padarincang. Warga baru memulai penataan setelah penilaian tahap pertama, tepatnya Minggu (8/11) pagi, warga gotong royong membersihkan kampung. Ada dua lokasi gotong royong warga, satu di lapangan kampung, satu lagi di sepanjang jalan di bagian depan kampung.

Kepala Desa Bugel Muhtar mengatakan, penataan di RW 03 telat karena awalnya warga masih ragu soal jadi atau tidaknya pelaksanaan Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) Kabupaten Serang 2020. “Apalagi kan ada PSSB karena korona, kirain enggak jadi,” kata Muhtar kepada Radar Banten.

Kemudian saat penilaian tahap pertama, Muhtar mendapat motivasi dari tim juri. Ia diingatkan agar mampu mengajak warga gotong royong. Pihaknya pun langsung mengadakan rapat dadakan yang dihadiri tokoh masyarakat, Ketua RW 03 Idris, dan para pemuda. Muhtar kemudian meminta warga untuk segera gotong royong keesokan harinya.

“Tapi sebelum mulai, warga juga swadaya dulu, iuran untuk modal menata kampung,” katanya.

Hal itu langsung direspons Ketua RW 03 Idris. Warga mengambil batang bambu di kebun untuk pemagaran. Sedangkan ibu-ibunya membersihkan jalan lingkungan dari sampah plastik. Selanjutnya, pemuda memperbaiki pos ronda, membuat taman, dan melengkapi lingkungan dengan sarana protokol kesehatan.

Sementara itu, di Kecamatan Cikeusal, warga RW 08, Kampung Tancang, Desa Sukarame, warga sudah membuat taman bermain anak. Di lahan seluas 10 meter persegi, para pemuda dengan kreativitasnya memanfaatkan bambu sebagai pembatan lahan yang dicat warna-warni, di dalamnya terdapat tanaman dan air mancur.

Hampir di seluruh sudut lingkungan kampung ini  diberi hiasan berupa ban bekas yang dicat, pemagaran, serta pot-pot tanaman bunga. Di sepanjang jalan  tampak bersih, tak ada sampah plastik sama sekali. “Alhamdulillah, sejak kedatangan tim juri, warga makin semangat gotong royong,” ungkapnya. (*)