Tersiksa, Pura-Pura Bahagia Depan Mertua

Sikap Juju (33), nama samaran, layaknya aktris di sinetron hidayah yang sering kita tonton di stasiun televisi swasta. Warga Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang itu memerankan sosok protagonis, yakni seorang istri yang tabah menerima penderitaan dan penyiksaan dari mantan suami, sebut saja Jojo (40) semasa masih berhubungan. Meski disakiti, Juju tetap menjaga derajat dan kehormatan suami hingga rela berpura-pura bahagia di depan sang mertua. Yassalam segitunya ya, luar biasa.

Juju yang ditemui di pos ronda tak jauh dari kediamannya di Cikeusal bercerita panjang lebar soal prahara rumah tangganya. Ia mengaku masih menyimpan luka yang mendalam selama menjalani rumah tangga dengan mantan suami. Sampai akhirnya Juju yang sudah tidak tahan dengan sikap suami yang tidak ada perubahan memutuskan untuk berpisah selamanya. Juju mengaku tak jarang mendapat perlakuan kasar saat masih tinggal bersama Jojo. Juju sempat bertahan lama dengan Jojo karena menghargai ibu mertua yang tak lain teman baik almarhum ibunya yang wafat sejak Juju masih remaja. Juju juga sudah dianggap anak sendiri oleh sang mertua. Lantaran itu, selama berumah tangga Juju tak pernah tega mengumbar perlakuan buruk suaminya.

“Saya suka pura-pura bahagia di depan mertua, seolah enggak ada masalah. Soalnya, Ibu mertua sering sakit-sakitan, saya enggak mau bikin dia makin banyak pikiran,” akunya. Istri yang berbakti sama orangtua ya, luar biasa.

Perilaku pahit dari mantan suami yang dialami Juju terjadi lima tahun lalu. Juju awalnya percaya bahwa Jojo yang sejatinya bukan lelaki pilihan bisa membahagiakannya. Tak disangka, Jojo menunjukkan sikap aslinya setelah berumah tangga, orangnya emosional, kasar, dan tak bertanggung jawab yang memaksa Juju memilih jalan perceraian. “Tiga tahun lebih saya bertahan dari sikap dia yang kasar,” ujarnya.

Pertemuan Juju dengan Jojo berlangsung pada masa SMA. Saat itu status keduanya hanya sebatas teman biasa. Juju terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya hanya pegawai pabrik. Lulus sekolah, Juju langsung bekerja guna membantu ekonomi keluarga. “Pas lulus saya langsung kerja di peternakan ayam, tapi cuma tiga bulan,” katanya. Enggak apa-apa Mbak yang penting halal, paling bau doang.  

Juju yang awalnya tak ingin mengakhiri masa lajang pada usia muda dan berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, malah dijodokan kedua orangtuanya dengan Jojo, anak rekan kerjanya.  Meski wajah Juju biasa saja, dengan penampilan dan kulit putihnya mampu menarik perhatian Jojo yang memiliki otot kekar. Jojo sendiri bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu perusahaan peternakan ayam. Singkat cerita, pihak keluarga mempertemukan keduanya di rumah keluarga Juju. Tak banyak bicara, orangtua Jojo dan Juju langsung to the point, membicarakan pernikahan mereka tanpa minta persetujuan Juju. “Waktu itu saya cuma bisa pasrah, begini nih nasib kalau sudah enggak punya ibu,” sesalnya. Sabar ya Mbak.

Akhirnya, keduanya menuju pelaminan dengan sedikit paksaan. Pesta pernikahan digelar sederhana, hanya mengundang kerabat dan teman kedua mempelai. Mengawali rumah tangga, sikap Jojo menunjukan sosok suami yang penyayang dan bertanggung jawab. Soal urusan ranjang jangan ditanya. Jojo jagonya hingga kerap membuat Juju ketagihan. “Kalau urusan begituan Mas Jojo tuh tahan lama,” umbarnya mesem-mesem. Ditambahin obat pengawet kayaknya ya Mbak.

Menginjak tahun kedua usia pernikahan, rumah tangga mereka semakin berwarna dengan kehadiran anak pertama. Hubungan keduanya semakin harmonis. Sampai akhirnya keduanya memutuskan tinggal di rumah kontrakan sederhana. Sejak itu pula prahara rumah tangga keduanya melanda. Juju tak menyangka, semua masa indah pada awal pernikahan sirna begitu saja berubah menjadi penderitaan. Tinggal terpisah dari orangtua, Jojo mulai menunjukkan karakter aslinya. Mulai malas-masalan, sering bangun siang, main judi hingga mabuk-mabukan. Bahkan sering membolos bekerja. Oalah. Sampai akhirnya Jojo dipecat dari tempatnya bekerja. Alih-alih mengingatkan suami agar berubah, Juju malah jadi bahan pelampiasan.”Saya sudah coba bersabar ngadepin dia. Tapi dia enggak mau berubah,” kesalnya.

Hingga suatu hari, seorang tetangga bertamu dan tak sengaja menyaksikan Juju sehabis dipukuli sang suami hingga menangis. Penyiksaan itu bukan kali pertama dilakukan Jojo, tetapi baiknya Juju tak pernah berani bilang kepada mertua, apalagi tetangga. “Saya enggak berani bilang ke siapa-siapa dulu, karena takut malah makin disiksa,” tukasnya.

Seusai penyiksaan itu pula, Juju lansgung diantar tetangga ke rumah mertua. Tentu saja, sang ibu mertua terpukul melihat Juju yang mendapat penganiayaan dari anaknya. Dari memar pada bagian bibir, mata lebam dan sembab bekas menangis semalamam menjadi bukti perlakukan kejam Jojo terhadap Juju. Tak kuat menanggung sakit, Juju pun akhirnya memilih jalan perpisahan. “Kalau saja sekarang masih sama dia, mungkin saya enggak bakal berani cerita. Pasti dia nyiksa terus tuh,” tandasnya. Semoga dibalik cerita Mbak ini ada hikmahnya ya dan lebih selektif memilih calon suami. Amin. (mg06/zai)