Mesut Ozil dan Matt Hummels hanya bisa meratapi kegagalan Jerman di Piala Dunia 2018. Foto: AFP
Oleh: Ken Supriyono, Jurnalis Radar Banten

 

Kalau ada teman: tiba-tiba jadi pendiam, ditegur malah tersinggung, diajak makan malah nolak, dipelototi malah nyolot. Bisa dipastikan: jika bukan karena calonnya kalah Pilkada, maka dia adalah supporter Jerman.

Biarkan dia menyendiri dulu. Dan, minum kopi.

Itu bukan kata saya. Itu candaan viral: via pesan berantai grup WhatsApp. Setelah Jerman tersingkir di Piala Dunia: kalah dari Korea Selatan (Korsel) dan kalah dari Meksiko.

Maklum, orang butuh terhibur. Terlebih, yang terlampau “baperan”. Tim hore, jadi supporter. Piala Dunia (kok) disamakan politik “Pilkada”. Itu namanya ngelantur.

Lebih ngelantur dari Neuer, kiper Der Panzer. Blunder. Bikin Jerman makin tersungkur. Keok dua gol, dari Korsel yang bermain sebagai penghibur.

Hiburan itu, kukuhkan rekor sejarah. Singkirkan juara bertahan. Banyak orang bilang, itu “kutukan”. Juara bertahan asal benua Eropa: selalu gugur di fase grup penyisihan.

Mari buka sejarah Piala Dunia. Faktanya: Korsel bukan tim kacangan. Bukan cuma Jerman, raksasa yang disingkirkan. Portugal, Italia dan Spanyol, juga pernah jadi korbannya.

Waktu itu, Piala Dunia 2002: Korsel dan Jepang jadi tuan rumahnya. Taegeuk Warriors ditangani Guus Hiddink: pelatih berkebangsaan Belanda. Korsel pun duduki peringkat empat. Pencapaian tertinggi, yang diraih tim Piala Dunia wakil Asia.

Pencapain Korsel, memang dipenuhi kontroversial. Sejak fase penyisihan. Portugal yang punya golden generation (Luis Figo, Rui Costa), dikalahkan (0-1). Tersingkir: dua pemain (Joao Pinto dan Beto) diganjar kartu merah.

Lanjut babak 16 besar terulang kejadian. Lebih kontroversial. Italia disingkirkan lewat “wasit”. Gol Cristian Vieri dianulir, Damiano Tommasi–yang sudah berhadap-hadapan dengan penjaga gawang diliprit–dianggap offside. Puncaknya, captain Francesco Totti, diganjar kartu kuning kedua (kartu merah): dianggap lakukan diving di kotak pinalti.

Apesnya, saat injuritime datang. Ahn Jung-hwan bikin gol. Italia tersungkur dari perebutan titah juara.

Protes tifosi Gli Azzuri pun datang. Sebanyak 400 ribu komplain dilayangkan. Ahn Jung-hwan dicekal. Dipecat dari club serie A, Perugia. Sampai sekarang: pemain Korsel dilarang merumput di club Italia.

Korsel tak kapok. Delapan besar: Tim Matador disingkirkan dengan “kontroversi” sama. Dua gol, La Furia Roja: dicetak Ivan Helguera dan Fernando Morientes, dianulir wasit. Spanyol protes, tapi tidak digubris. Keputusan wasit mutlak. Tidak terbantahkan.

Teknologi screen VAR belum berlaku. Tidak seperti era sekarang. Tiupan wasit bisa terbantahkan. Itulah, yang bikin komplain gol berbau offside “dibatalkan wasit”. Rekaman VAR kalahkan keputusan wasit: gol Korsel onside. Korsel pun terhibur, tapi tersingkir.

Pertandingan yang anti klimaks. Karena masa itu, Michael Ballack “Jerman”, yang kalahkan (0-1) di kandangnya. Tersingkirlah: Korsel sebagai yang terhibur di semifinal.

Juga, pertandingan perebutan juara ketiga. Turki sungkurkan Korsel lewat dua gol pemain fenomenalnya. Namanya: Hakan Sukur dan Ilhan Manhis. Ingat, nama kedua, pakai “h”, bukan Ilhan Manis.

Kenapa? Karena yang manis itu “cokelat” milik supporter tim Argentina. Cokelat yang disulap jadi patung serupa Messi. Hadiah untuk Messi pada 24 Juni 2018. Tepat, Messi ulang tahun ke-31. Cokelat manisnya, dipajang di Stadion Krestovsky: sehari sebelum pertandingan Argentina vs Nigeria.

Namanya cokelat, pasti rasanya manis. Anak saya “Kenzie”, juga bilang begitu. Terlebih, Argentina lolos dramatis: melaju ke babak 16 besar. 

Hari kelahiran Messi, sungguh manis. Ia pecahkan telur. Gol pembuka keunggulan Argentina. Tiga menit jelang bubaran, Marcos Rojo genapkan gol kedua. Argentina menang tipis (2-1) atas Nigeria.

Pendukung Argentina histeris. Sekaligus haru. Juga terhibur. Yang lebih penting, Pelatih Argentina–Jorge Sampoeli– bernafas lega. Ancaman legenda hidup La Albiceleste, Diego Maradona tidak jadi diberlakukan. Sampoeli bebas ancaman: “batal” dilarang pulang jika Argentina tak menang.

Itulah indahnya sepakbola. Banyak drama. Banyak kejutan. Kadangkala menguras emosi. Tapi, harus tetap menjujung tinggi suportivitas (fairplay). Nyatanya, Jepang lolos lantaran fairplay.

Tim Samurai Blue, berhak mendampingi Kolombia. Nilainya sama dengan Senegal (empat poin). Bedanya, anak asuh Akira Nishino hanya terima lima kartu kuning. Sedangkan Senegal, terima enam kartu kuning. Dan Jepang, tim satu-satunya wakil Asia yang lanjut: ke putaran kedua (babak 16 besar).

Selebihnya: 10 tim Eropa (Perancis, Spanyol, Kroasia, Belgia, Swedia, Portugal, Rusia, Denmark, Swiss, dan Inggris). Lalu, lima tim Amerika Latin (Uruguay, Brazil, Kolombia, Argentina, dan Meksiko).

Intinya: tidak perlu baperan. Apalagi, bilang tidak pernah nonton Piala Dunia. Toh, itu hiburan. Yang orang Indonesia, hanya bisa jadi penonton.

Terakhir, seperti pesan Pak Jokowi. Mau nonton bola. Sudah siap. Ini nonton bola pasti: inginnya timnya menang terus. Tapi, harus siap juga, kalau timnya kalah.

Selamat nonton. Yang rukun: kalau jagonya kalah, tidak usah ribut. Jaga persatuan kita! Jaga persaudaraan kita!