Tetesan Air, Rujakan dan Pijat ala Tjimande

0
398 views
Walikota Serang Syafrudin (tengah) didampingi tamu undangan yang juga pelawak Nardji (kiri), mantan Walikota Serang Tb Haerul Jaman (kanan), menikmati sajian tujuh rupa saat Festival Keceran Tjimandi yang dilaksanakan TTKKDH Kota Serang yang dihelat di Jalan Kagungan, Lontar Pos, Kecamatan Serang, Kota Serang, Sabtu (17/11) malam.

SERANG – Pemkot Serang berencana mengusulkan tradisi Keceran Tjimande miliki Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH) masuk kalender kebudayaan Kota Serang. Rencana ini dilakukan agar tradisi peninggalan leluhur tetap terjaga pada generasi yang akan datang.

Tradisi Keceran menjadi salah satu ikon dari Peguron Pencak Silat TTKKDH. Rutinitasnya, kini selalu ditunggu anggota peguron, masyarakat, bahkan para pejabat untuk menghadiri dan menyaksikan tradisi yang puluhan tahun tetap terjaga.

Tiap tahun, pada bulan Rabi’ul Awal atau dikenal dengan Maulid Nabi Muhammad SAW tradisi keceran dilakukan. Menurut beberapa sumber, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan waktunya berkumpul bersilaturahmi merayakan dan berbuat kebaikan bersama-sama.

Selain sebagai ajang silaturahmi antar sesama anggota peguron TTKKDH. Kegiatan, Keceran telah menjadi darah daging. Para anggota, keluarga peguron TTKKDH menunggu keceran sebagai simbol kekuatan silaturahmi di antara mereka. Keceran bagi keluarga besar TTKKDH ibarat lebaran ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha. 

Tetesan air yang telah tercampur sajian khusus Tjimande menjadi puncak di mana kegiatan keceran digelar. Hidangan rujakan mensyaratkan tujuh rupa sajian, seperti kopi, teh, air kelapa, rujak selasi, air gula pisang mulih, emas. Hingga sajian kue tujuh rupa. Bagi perokok pun ada, tersedia tujuh jenis rokok.

“Puncak acara Keceran Tjimande yaitu meneteskan air khusus Tjimande kepada anggota, keluarga atau tamu yang hadir dalam acara,” ujar Sekretaris Cabang TTKDH Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Muhammad Ridho Dinata kepada Radar Banten, Minggu (15/11).

Bagi keluarga besar TTKKDH Keceran Tjimande menjadi sebuah keharusan. Biasanya, setelah proses keceran usai, kemudian peserta diurut menggunakan air kembang tujuh rupa yang telah disiapkan. “Semua serba tujuh rupa. Rujakan tujuh rupa, rokok tujuh rupa, kemudian terakhir dipijat pakai air kembang tujuh rupa berbalut minyak,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Keluarga Besar TTKKDH, Amah Suhamah mengatakan, ritual Keceran Tjimande hanya dapat dilakukan setiap bulan maulid dan diadakan satu tahun sekali. “Jadi, tidak bisa sembarangan melakukan keceran, ada aturan-aturannya dan keceran ini dilakukan sejak pertama ada TTKKDH, sekitar 69 tahun lalu. Kemudian kami sebagai penerus harus melestarikan,” katanya.

Kata Amah, ada banyak pelajaran yang diajarkan oleh TTKKDH ini untuk melestarikan, sekaligus membentuk akhlak para anggotanya. Jadi bukan hanya silat saja, yang diajarkan pada ritual Keceran Tjimande, tapi juga tentang kehidupan. “Iya, bukan silat saja tapi tujuan kecer juga akhlak yang kami ajarkan,” katanya.

“Di antaranya, para anggota TTKKDH harus taat kepada orangtua, guru, sama pemimpin kita harus manut, terutama kepada Allah. Kemudian, tidak boleh mencuri, minum minuman keras dan sebagainya,” sambung Amah.

Pada bagian akhir, Walikota Serang Syafrudin mengatakan, acara keceran TTKKDH merupakan tradisi rutin yang diadakan tiap bulan Maulid. Menurutnya, keceran tjimande salah satu kearifan lokal yang harus terus dilestarikan, agar tidak punah. “Intinya keceran ini silaturahim dan mempersatukan keluarga besar TTKKDH,” ujar Syafrudin usai menghadiri Festival Keceran Tjimande yang dihelat di Jalan Kagungan, Lontar Pos, Kecamatan Serang, Kota Serang, Sabtu (17/11) malam.

Syafrudin mengatakan, pihaknya berencana akan mendorong agar keceran Tjimande masuk kalender salah satu kegiatan kebudayaan Pemkot Serang. Sebab, sudah menjadi ikon bagi kabupaten kota lain di Indonesia. “Saya kira ini sudah jadi ikon, ya karena tiap bulan Maulid diadakan. Jadi ini sebagai ikon juga untuk Kota Serang khususnya. Kemudian TTKKDH ini bukan hanya di Kota Serang saja tapi di seluruh Indonesia,” katanya.

Syafrudin juga menilai keceran Tjimande merupakan salah satu kebudayaan yang harus terus digaungkan agar tidak punah. “Saya kira seperti itu. Karena ini satu kebudayaan yang harus dilestarikan, kemudian Pemkot Serang juga dalam rangka meningkatkan kearifan lokal, ya TTKKDH ini salah satu kearifan lokal,” jelasnya. (fdr/air)