Nah, ini bagian paling seru. Saat di luar sana gegap gempit terompet, kembang api, dan petasan menyambut Tahun Baru, di perkampungan Baduy Luar ini sebelum jam 12 malam rombongan sudah terlelap. Hanya gelap, gemuruh air sungai, dan gemericik hujan yang terdengar. Terasa sunyi dan syahdu.

        

Tanpa neon. Rumah yang kami tinggali milik Ibu Narsah hanya bercahayakan lampu senter. Setelah makan malam, Zetizen mendengarkan petuah Kang Udil mengenai Suku Baduy, mematahkan mitos-mitos yang selalu menjadi pertanyaan.

        

“Bila kalian meyakini Tuhan dengan tulisan. Kami percaya segala sesuatu yang para tetua katakan dengan lisan adalah wangsit dari Tuhan. Itu sebabnya kami tidak merasa perlu belajar membaca dan menulis. Meski tidak menutup kemungkinan banyak dari kami yang mampu baca dan tulis,” tutur Udil saat menjawab satu dari banyaknya pertanyaan dari kami.

Prank yang Apalah-apalah

        

Pagi, 1 Januari 2019 diawali dengan rintik hujan. Bau tanah menyeruak memberikan refleksi berbeda dengan segala ketenagan yang disajikan. Lagi-lagi kami dikagetkan Saipul, Zetizen Icon Traveller Radar Banten 2018 yang mendadak sakit perut. Hilal selaku supervisor yang menjadi penanggung jawab kami otomatis tanggap untuk memberi pertolongan, ditambah Yogi yang kembali mengigil, menambah kapanikan supervisor kami. Sambil sibuk membaluri minyak tiba-tiba skuat yang semula bersembunyi muncul sambil menyanyikan lagu ulang tahun, yeay its a prank. Ternyata itu adalah drama perayaan ulang tahun.

        

Eits… perjalanan belum usai. Perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai hari itu. Setelah sarapan, ditemani gerimis, rombongan bersiap menuju perkampungan Baduy Dalam, Cibeo.

Wajah-wajah yang semula ceria mulai menampakkan raut lelah. Tanjakan yang selalu muncul kapan saja, dan turunan yang entah kapan datang lagi. Kami memang boleh mengeluh lelah, tapi ini bukan saat untuk menyerah. Setelah melewati jembatan bambu panjang Udil bilang, sebentar lagi kita kan melewati tanjakan cinta, jangan melihat ke atas atau mental kalian akan down. Cukup lihat ke tanah dan melangkah pasti.

Rasa lelah terbayarkan. Perjalanan menuju perkampungan Baduy Dalam yang menyihir pandangan mata membuat lelah hilang seketika. Aroma budaya terasa kental di tiap sudutnya. Anak-anak kecil bertubuh kekar berlarian sambil membawa golok di sisi celana, ibu-ibu berbaju putih hasil jahitan sendiri, sekumpulan bapak-bapak duduk di sudut tempat yang mereka sebut alun-alun, terpampang di depan mata. Inilah Baduy, suku kebanggaan Banten. Yang tetap menjaga adat budaya secara teguh. Inilah Baduy yang banyak orang perbincangkan dan tulis di internet. Semua itu kami saksikan langsung. Para baris kolot alias tetua dan ketua adat, duduk rukun mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Mereka menyambut ramah meski kami hanya melintas menuju sungai di belakang kampung, hanya untuk bermain-main.

        

Rasa lelah terbayarkan. Perjalanan menuju perkampungan Baduy Dalam yang menyihir pandangan mata membuat lelah hilang seketika. Aroma budaya terasa kental di tiap sudutnya. Anak-anak kecil bertubuh kekar berlarian sambil membawa golok di sisi celana, ibu-ibu berbaju putih hasil jahitan sendiri, sekumpulan bapak-bapak duduk di sudut tempat yang mereka sebut alun-alun, terpampang di depan mata. Inilah Baduy, suku kebanggaan Banten. Yang tetap menjaga adat budaya secara teguh. Inilah Baduy yang banyak orang perbincangkan dan tulis di internet. Semua itu kami saksikan langsung. Para baris kolot alias tetua dan ketua adat, duduk rukun mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Mereka menyambut ramah meski kami hanya melintas menuju sungai di belakang kampung, hanya untuk bermain-main.

        

Waktu berjalan, begitu cepat. Zetizen Radar Banten Skuad harus segera pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, dari drama tersandung, terpeleset hingga terperosok dalam lumpur jelas sudah kami khatamkan. Keluar dari perkampungan Baduy Dalam menuju rumah tempat menginap, hujan terus mengguyur. Tapi, Zetizen terus melaju hingga perkampungan terluar Baduy.

        

Dua hari yang sangat berkesan. Tidak hanya budaya, banyak pelajaran berharga yang kami dapatkan, dari persahabatan, menghargai alam, bersyukur dengan segala kekurangan dan loyalitas terhadap sesama. Sampai jumpa Baduy, terima kasih telah mengajarkan pengalaman berharga. Thank you, next. (Dyah-Zetizen/Zee/Dwi)