THR Cair, Warga Padati Pusat Perbelanjaan

Belanja Lebaran Pacu Industri

Pengunjung memilih barang yang tersedia di pusat perbelanjaan di Kota Serang, Minggu (26/5). Menjelang hari Lebaran warga mulai berbondong-bondong ke mal karena pusat perbelanjaan itu memberikan diskon besar-besaran.

SERANG – Setelah tunjangan hari raya (THR) cair, mal atau pusat perbelanjaan pada Sabtu dan Minggu (25-26/5) sangat padat.

Di Kota Serang, misalnya, ruas jalan menuju pusat perbelanjaan di Kota Serang terpantau macet, seperti Mall of Serang, Mall Serang (Ramayana), kawasan Royal, dan Alun-alun Kota Serang tempat berlangsungnya acara Banten Indie Clothing (BIC). Bahkan pengunjung sulit mencari lahan parkir karena lahan yang tersedia tidak memadai.

Seperti di Mall of Serang, penjunjung memanfaatkan lahan parkir di luar sekitar mal yang dikelola oleh warga. Begitu pula pengunjung BIC dan Ramayana. Hal yang sama juga terjadi di Supermall Karawaci dan Tangcity Mall, Tangerang dan Cilegon Center Mall.

Community Relations & Media Communication Tangcity Mall Intan Amallia mengatakan, setelah THR cair pada pekan lalu, pengunjung mulai melakukan persiapan untuk Idul Fitri mendatang dengan berbelanja berbagai kebutuhan terutama, busana seperti baju, sandal, celana, dan lainnya. “Pengunjung mulai padat sejak hari Sabtu,” katanya, kemarin.

Menurutnya, pengunjung mulai ramai sejak pusat perbelanjaan buka. Hari Sabtu dan Minggu (25-26/5) diperkirakan puncaknya berbelanja. “Banyak pengunjung yang datang bersama anggota keluarga sekaligus menghabiskan waktu bersama saat akhir pekan,” tuturnya.

Meskipun saat ini dinilai puncak pengunjung datang berbelanja ke Tangcity Mall, tetapi pada pekan depan atau beberapa hari jelang Lebaran akan tetap ramai. “Mungkin akan tetap ramai, tapi tidak seperti pekan ini,” katanya.

Supervisor Matahari Cilegon Center Mall Panji mengatakan, pengunjung mulai ramai sejak Sabtu (25/5) lalu hingga Minggu (26/5) dan benar-benar padat merayap. “Bahkan pengunjung rela menunggu sampai toko buka pada pukul 10.00 WIB,” katanya.

Ia mengungkapkan, dengan ramainya pengunjung. Ini tentu memberikan omzet yang bagus untuk Matahari karena pengunjung berbelanja berbagai busana untuk merayakan Idul Fitri mendatang. “Ini tahun kedua Matahari Cilegon Center Mall merayakan Lebaran sehingga pada Ramadan 2019 terlihat signifikan tingkat kunjungannya,” ungkapnya.

Meskipun pada pekan ini ramai, tetapi Panji memprediksi puncak kunjungan pada pekan depan setelah gaji perusahan turun. “Minggu ini ramai dan luar biasa, tetapi kemungkinan minggu depan lebih ramai,” katanya.

PACU INDUSTRI

Momen Ramadan dan Lebaran mendorong industri manufaktur tumbuh lebih agresif pada kuartal II 2019. ’’Kami yakin lebih tinggi dari pertumbuhan industri di kuartal I yang mencapai 4,8 persen. Kami berharap bisa mendekati 5 persen,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar di Jakarta, Minggu (26/5).

Menurut Haris, iklim usaha setelah pemilihan presiden dan anggota legislatif semakin baik setelah sebelumnya para investor memilih wait and see. Bahkan, menjelang Lebaran, sebagian besar masyarakat membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman serta pakaian. ’’Konsumsi juga akan meningkat dengan adanya tunjangan hari raya (THR) serta gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil (PNS),” tuturnya.

Selain itu, peredaran uang ke daerah semakin kencang karena banyak masyarakat yang mudik atau pulang kampung. ’’Liburnya panjang sehingga orang bisa belanja lebih besar,’’ imbuhnya.

Haris menambahkan, pertumbuhan industri manufaktur juga terkerek investasi. Diproyeksi, investasi melonjak pada kuartal II. Keyakinan itu pun mengacu tren yang terjadi sejak Pemilu 1992. ’’Pemerintah terus berupaya menciptakan kondisi ekonomi, politik, dan keamanan yang kondusif bagi para investor,” paparnya.

Industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang menyumbang cukup signifikan bagi total investasi di Indonesia. Pada triwulan I 2019, industri pengolahan nonmigas berkontribusi 18,5 persen atau Rp 16,1 triliun terhadap realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Sementara itu, pandangan berbeda muncul dari peneliti Indef Bhima Yudhistira. Menurut dia, kinerja industri manufaktur pada kuartal II justru diproyeksi mengalami perlambatan. Dia menguraikan, secara musiman momen Ramadan dan Idul Fitri berpotensi membuat pertumbuhan industri manufaktur justru menurun.

Menurut Bhima, pertumbuhan industri manufaktur justru kencang di kuartal I atau menjelang Ramadan. ’’Kenaikan produksi justru tecermin pada kuartal I di mana pengusaha mempersiapkan pasokan barang jadi untuk Lebaran,’’ jelas Bhima kemarin.

Pada kuartal II, lanjut Bhima, adanya momen libur panjang membuat produksi tidak optimal. Masa-masa ini biasanya tidak digunakan untuk genjot produksi. ”Pertumbuhan manufaktur pada kuartal II 2019 diperkirakan berkisar 3,3–3,5 persen year-on-year lebih rendah dari kuartal I 2019, yakni 3,86 persen,” pungkasnya. (jpg/skn/aas)