Tidak Menafkahi tapi Masih Dicintai

KISAH Toha (39) dan Siti (39), keduanya nama samaran, memberi pengertian bahwa rumah tangga bukan hanya tentang ekonomi dan kesejahteraan semata, tetapi juga tentang keharmonisan yang terjaga meski dalam kondisi kekurangan. Tak bekerja bukan berarti tidak bisa membuat bahagia. Begitu yang dikatakan Toha saat diwawancara.

Frustrasi setelah dipecat dari salah satu perusahaan di Kabupaten Serang, Toha sempat mencari pekerjaan lain di mana-mana. Namun, nasibnya tak pernah baik. Sekalinya dapat kerja, ia malah sering sakit lantaran terlalu lelah karena usia yang tidak lagi muda.

Hingga suatu hari, sang istri berinisiatif membuka warung jajanan di depan rumah. ‘Pucuk dicinta ulam pun tiba’, seolah memanfaatkan situasi dari keuletan Siti mencari rezeki, Toha malah ikut sang istri mengelola warung jajanan tanpa perlu susah payah mencari pekerjaan. Wih, enak banget sih, Kang!

“Ya enak enggak enak sih, Kang. Kalau dipikir-pikir, malu juga enggak kerja. Apalagi, sikap dia yang selalu marah-marah, tapi saya mah bersyukur sajalah,” katanya kepada Radar Banten.

Tak bisa dimungkiri, yang namanya suami pasti selalu dituntut bisa mencari nafkah untuk anak istri. Seperti juga dialami Siti, memiliki suami pengangguran kerap membuatnya emosian. Seolah tak lagi menghargai Toha, ia sering marah-marah di depan orang banyak.

Parahnya, saking kesal dan jengkel terhadap sang suami yang sehari-hari hanya makan dan tidur di rumah, Siti sampai membentak dan mencaci maki Toha lantaran status penganggurannya. Hebatnya, Toha selalu bersikap santai dan menuruti kemauan sang istri.

Disuruh mencuci piring, mengelap meja makan, sampai diminta melayani pelanggan, semua dilakukan Toha dengan penuh keuletan. Pokoknya, ia seperti budak yang patuh terhadap majikannya. Hingga peristiwa itu datang, Siti mengomel tak henti-henti dari pagi sampai sore membuat Toha terpancing emosi.

Bagai sumbu tersulut api, amarah Toha membara, keributan terjadi bak perang dunia kedua. Baik Toha maupun Siti saling ‘beradu mulut’, saling menyalahkan satu sama lain. Tak ayal, tetangga dan orang-orang pun seolah pura-pura menutup telinga melihat pertengkaran mereka.

“Waktu itu orang-orang kayak pada diam begitu, Kang. Padahal, saya tahu mereka lagi pada nguping. Habisnya kesal saya, kalau cuma disuruh-suruh sih masih bisa terima karena saya sadar enggak kerja, ini mah marah-marahnya enggak bisa berhenti, bikin sakit hati,” tukas Toha emosi.

Hingga datanglah kakak Siti dan saudara yang melerai keributan mereka. Malamnya, dikumpulkanlah keluarga. Menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi antara Siti dan Toha, keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Siti emosi lantaran Toha tak bekerja, Toha pun emosi atas sikap sang istri yang tak menghargai.

Seperti diceritakan Toha, Siti sebenarnya wanita baik. Terlahir dari keluarga sederhana di salah satu kampung di Kota Serang, Siti tumbuh menjadi wanita penurut pada orangtua. Ia anak terakhir dari tiga bersaduara. Terbiasa hidup dimanja, membuat emosinya terkadang tidak bisa terjaga. Jadi, Toha selalu memahami kalau sang istri sering marah-marah.

Sementara, Toha memang bukan lelaki sempurna. Terlahir dari keluarga tak punya membuatnya sering bekerja. Sejak muda, ia pernah membantu ekonomi keluarga dengan menjadi karyawan di toko sembako milik saudara, tetapi karena bosan dengan keadaan, ia memutuskan berhenti.

Hingga usia dewasa, ia masih belum mendapat pekerjaan tetap. Pola pikir orangtuanya, daripada pusing mencari pekerjaan, lebih baik dinikahkan. Dipertemukan dengan Siti, anak rekan sang ayah, Toha menyetujui perjodohannya, begitu pula dengan Siti. Keduanya saling mencintai.

Setahun usia pernikahan, mereka dikaruniai anak pertama. Ini membuat hubungan semakin mesra. Ajaibnya, seolah membenarkan pepatah lama yang mengatakan banyak anak banyak rezeki, tiga bulan setelah kelahiran sang buah hati, Toha diterima bekerja di salah satu perusahaan di Kabupaten Serang.

Rumah tangga pun berjalan lancar. Dua tahun kemudian, musibah itu datang. Toha dipecat dari tempatnya bekerja. Mencoba bangkit mencari usaha, tetapi tak mendapatkannya, jadilah ia pengangguran yang bergantung pada sang istri yang membuka warung jajan.

Hebatnya meski keributan yang terjadi di antara mereka sangat menguras tenaga dan perhatian, baik Toha maupun Siti tidak pernah mengungkit soal perceraian. Tiga hari kemudian, mereka kembali baikan. Seolah tak pernah ada masalah sebelumnya. Wih, masa sih, Kang?

“Ya begitulah, Kang. Dia enggak marah lagi, semuanya beres dalam semalam,” terangnya. Itu bagaimana caranya?

“Ya, saya sih cuma bilang minta maaf dan mengaku salah, terus dia juga balik minta maaf, beres deh masalah,” jelas Toha bangga.

Mau mengalah dan merendahkan hati di mata sang istri, menjadi kunci bagi keberlangsungan hubungan rumah tangga Toha dan Siti. Sikap dewasa sang suami yang selalu menjadi penyejuk hati, akan membuat istri nyaman dan semakin hanyut dalam buai kasih sayang.

“Mengalah itu bukan berarti kalah. Marah itu wajar, tapi kalau sudah dikeluarin unek-uneknya, saya sih jadi lega. Setelah itu baru deh dirangkul lagi supaya bisa baikan,” ucap Toha.

Kini rumah tangga Toha dan Siti berjalan harmonis. Meski terkadang masih suka marah, Toha tetap menikmati. Mereka hidup sederhana, tapi bahagia.

Semoga langgeng terus ya, Kang. Namun, tetap harus cari kerja, masa mau mengandalkan istri terus. Pokoknya semua yang terbaik untuk Kang Toha dan Teh Siti! (Daru-Zetizen/RBG)