Tidak Punya RTBL, Kota Serang Seperti Kota Tanpa Identitas

0
360
Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Provinsi Banten, Mukoddas Syuhada

SERANG – Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Provinsi Banten, Mukoddas Syuhada menilai, pembangunan dan penataan Kota Serang seperti kota tanpa identitas. Ini dikarenakan Kota Serang belum memiliki Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).

“Sebetulnya kota serang pada tahun 2009 memiliki desain paling lengkap di Indonesia, namun RTBL yang difasilitasi Kementerian Pekerjaan Umum tidak pernah ditanggapi oleh Pemkot Serang. Kota Serang Tidak memiliki tata kota yang legal. Kota Serang seperti kota tanpa identitas,” ungkap Mukoddas kepada wartawan, usai menjadi pemateri pada acara Seminar Desain Gapura Kawasan Wisata Banten Lama, Disporapar Kota Serang, di salah satu hotel di Kota Serang, Selasa (17/11/2015).

Mukoddas menjelaskan, perihal tawaran yang dikeluarkan pihaknya bersama Kementerian PU sebenarnya sudah lengkap, seperti penataan Kawasan Banten Lama, Pasar Royal, Jalan Jenderal Sudirman sampai Veteran, bahkan menyodorkan konsep flying city untuk Jalan Raya Pandeglang dan KP3B.

“Kalau melihat kondisi pembangunan saat ini, pembangunan pelebaran jalan yang dilakukan, saya melihat pembangunan tersebut hanya untuk masyarakat yang punya kendaraan atau yang punya duit,” jelasnya.

Semestinya, lanjut Mukoddas, untuk keluar dari masalah kemacetan yang saat ini mengepung Kota Serang, Pemkot Serang tidak memperbanyak pelebaran jalan, melainkan transportasi publik.

“Di kita (Kota Serang-red) sangat cocok bila dibangun kereta api mono rel yang letaknya melayang. Jalan-jalan untuk kendaraan juga seharus di atas. Seperti konsep flying city atau kota melayang. Sementara di bawah buat pejalan kaki, sehingga anggaran untuk membangun dan membaskan lahan bisa ditekan,” jelasnya.

Selain itu, tambah Mukoddas, sampai dengan saat ini, di wilayah Serang tidak memiliki ruang publik atau taman kota dan hanya mengandalkan alun-alun. Tidak seperti di Kota Bandung dan Kota Tangerang Selatan.

“Karena memang ada bahasa dari tata kota, harus ada penyesuaian dengan pembangunan yang sudah dilakukan, dan alasan lainnya. Sesungguhnya kota masa depan itu, kota yang menampung pejalan kaki, dan pesepeda,” paparnya. (Fauzan Dardiri)