Tiga Bulan, 30 Tersangka Narkoba Ditangkap

Kapolres Serang Kota AKBP Edhi Cahyono (tengah) didampingi Kasatresnarkoba Polres Serang Kota AKP Wahyu Diana (kanan) saat menunjukkan barang bukti kasus narkoba di Mapolres Serang Kota, Senin (9/3).

SERANG – Sebanyak 30 orang pengedar dan penyalahguna narkoba diringkus petugas Satresnarkoba Polres Serang Kota. Selama tiga bulan terakhir narkoba berupa sabu-sabu, ekstasi, obat keras dan gorila telah diamankan sebagai barang bukti.

Total narkoba dari 25 kasus yang diungkap, yaitu sabu-sabu seberat 7,6 gram sabu-sabu, 70 butir pil ekstasi, 76 gram tembakau gorila, dan 4.079 butir obat keras.

Pengungkapan terbesar sepanjang Januari 2020 hingga awal Maret 2020, yakni peredaran ekstasi di Kampung Pabuaran, Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.

“Ekstasi tersebut kita amankan dari tersangka JA usia 30 tahun. Pelaku ini kedapatan memiliki 70 butir pil ekstasi. Ini kasus yang agak besar yang kita ditangani,” kata Kapolres Serang Kota Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Edhi Cahyono di Mapolres Serang Kota, Senin (9/3).

Narkoba yang dikenal dengan sebutan inex itu dijual seharga Rp700 ribu per butir. Inex ini biasanya dipasarkan di kalangan berduit.

“Kalau ekstasi ini cukup sulit didapatkan, tidak seperti narkoba lainnya. Memang untuk ekstasi biasanya menggunakan rantai terputus, antara penjual dan pembeli tidak pernah bertemu. Ekstasi sasarannya orang-orang tertentu yang memiliki uang,” kata Edhi.

Selain inex, pengungkapan cukup besar adalah peredaran obat keras, seperti tramadol dan eximer. Dua orang pengedar di Lingkungan Rau Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Serang, Kota Serang ditangkap. Barang bukti berupa 1.534 butir pil eximer disita “Ini kasus yang beberapa hari yang lalu kita ungkap. Kalau tramadol dan eximer ini murapakan barang murah, harganya Rp10 ribu per 3 butir. Dulu kita kenal dengan pil anjing,” kata Edhi.

Sementara Kasat Resnarkoba Polres Serang Kota Ajun Komisaris Polisi (AKP) Wahyu Diana menambahkan puluhan orang itu dijerat Pasal 112 dan 114 dan 127 Undang-Undang Narkotika dengan ancaman hukuman 4 hingga 20 tahun penjara. “Sementara untuk tramadol kita jerat dengan undang-undang Kesehatan nomor 36 Tahun 2009, ancam hukumannya 15 tahun penjara,” tutur Wahyu. (mg05/nda/ags)