Tiga Dokter Spesialis RSUD Mundur, Dewan Minta Gubernur Segera Bertindak

Ketua DPRD Provinsi Banten Asep Rahmatullah

SERANG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Banten meminta Gubernur Banten Wahidin Halim segera bertindak menyikapi persoalan mundurnya tiga dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten.

Ketua DPRD Provinsi Banten Asep Rahmatullah mensinyalir mundurnya tiga dokter tersebut akibat ketidakberesan manajerial di rumah sakit milik Pemprov Banten tersebut.

“Saya rasa dokter spesialis yang menyatakan mundur merupakan bentuk akumulasi kekecewaan mereka sebagai pelayan. Saya tidak aneh, karena direkturnya saja sudah tersangka, berarti ada pengelolaan tidak benar sehingga berdampak pada karyawan,” kata Asep, Selasa (7/11).

Menurut Asep, Gubernur Banten Wahidin Halim harus mengambil langkah cepat dan tepat. Karena menurutnya percuma ada rumah sakit jika tidak ada dokter spesialisnya.

Selain itu, menurutnya, hal tersebut tidak sesuai dengan program kerja gubernur yang akan menggratiskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Banten.

“Ketika rumah sakit umum tidak punya dokter spesialis, buat apa, bikin puskesmas saja, apalagi sudah menjadi rumah sakit rujukan. Selain itu, satu sisi gubernur ingin menggratiskan kesehatan tapi satu sisi pelayanan kesehatannya tidak siap,” ujarnya.

Dari pihak legislatif, lanjut Asep, Komisi V yang menangani bidang kesehatan akan melakukan fungsi pengawasan. “Benang kusutnya harus diurai, tidak mungkin jika nyaman mengundurkan diri. Pemerintah terbuka saja dalam menyelesaikan persoalan tersebut,” katanya.

Sebelumnya diberitakan Radar Banten Online, tiga dokter spesialis menyatakan mengundurkan diri. Informasi yang dihimpun Radar Banten, ketiga dokter spesialis keluar dari RSUD Banten per 1 November 2017. Mereka adalah dr Aswin SpU, dr Adan SpU, dan dr Bambang SpOG. Berdasarkan sumber Radar Banten di RSUD Banten, mereka mengeluhkan dana jasa pelayanan (jaspel) yang amburadul.

Sumber Radar Banten itu menyebutkan, dokter spesialis melakukan operasi terhadap 60 pasien. Namun, dana jaspel yang dibayarkan hanya untuk sepuluh pasien. Alasan itulah yang diduga menjadi penyebab keluarnya ketiga dokter tersebut.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Banten Ajat Drajat Ahmad Putra mengatakan, per 1 November 2017 memang ada tiga dokter spesialis yang sudah mengundurkan diri. Ia merinci dua dokter spesialis urologi (sistem reproduksi laki-laki dan perempuan) dan satu lagi dokter spesialis obgyn (kandungan).

“Ada tiga totalnya yang keluar. Dokter non-ASN semua,” ujarnya saat dihubungi Radar Banten, Minggu (5/11). (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)