Tiga Hari, RS Rujukan Covid-19 Mati Listrik

0
1.568 views

SERANG – Selama tiga hari, RSUD Banten yang menjadi rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Banten mengalami mati listrik dan kekurangan air. Kondisi itu terbukti dengan beredarnya video berdurasi 27 detik dan 18 detik yang menampilkan situasi di sejumlah kamar di RSUD Banten.

Video itu direkam seseorang berpakaian APD lengkap. Dalam video itu, seorang pasien berjenis kelamin perempuan berusia paruh baya mengeluhkan tidak ada air minum dan ia terpaksa meminum air kemasan sedikit demi sedikit. “Akhirnya pakai air Aqua dikit-dikit,” ujar perempuan dalam video itu. Video itu juga memperlihatkan air kran di wastafel kamar mandi yang tidak mengalir. Tak hanya di satu kamar, kondisi itu juga terjadi di kamar lainnya. Beredar informasi bahwa kejadian itu terjadi saat hari kedua Idul Fitri.

Ketua Komisi V DPRD Provinsi Banten M Nizar juga mengaku mendapatkan informasi terkait kondisi RSUD Banten dan menyesalkan terjadinya kondisi itu. Apalagi rumah sakit yang berada di Jalan Syekh Nawawi Al Bantani, Kota Serang, itu memang dipersiapkan untuk penanganan Covid-19 dengan anggaran yang cukup besar. “Ternyata tidak bisa matang dan maksimal,” tandas Nizar, Rabu (27/5).

Mestinya, kata dia, semua perencanaan matang termasuk persiapan saat Idul Fitri. Namun, dengan kondisi yang terjadi kemarin berarti ada yang tidak dipikirkan oleh RSUD Banten. “Termasuk Dinkes (Dinas Kesehatan-red) juga tidak melakukan pengawasan yang baik,” ujar politikus Partai Gerindra ini.

Nizar mengatakan, seharusnya RSUD Banten mempunyai konsep yang matang terkait penanganan Covid-19. Bahkan, ketika rapat koordinasi, pihaknya pernah mempertanyakan terkait kesiapan RSUD dan Dinkes.

“RSUD difokuskan untuk penanganan, sedangkan kebutuhan belanjanya diambil alih Dinkes. RSUD hanya mengajukan ke Dinkes,” ungkapnya. Namun kejadian tersebut menandakan RSUD maupun Dinkes tidak melakukan persiapan yang baik menghadapi Idul Fitri.

Kata dia, ada ketelodran sehingga air dan listrik mati di RSUD. Padahal pasien dalam kondisi diisolasi sehingga tidak bisa dibantu oleh pihak keluarga. Padahal, apabila kondisi itu diluar kemampuan pihak RSUD untuk menanganinya, maka harus dikoordinasikan secara cepat. Apalagi, genset punya kemampuan yang terbatas.

Nizar mengatakan, Sekda Banten Al Muktabar selaku Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Banten harus ikut andil dalam penyelesaian masalah tersebut. “Keteledoran ini sangat disayangkan. Komisi V berharap segera diatasi dan jangan sampai menjadi persoalan baru,” tandasnya.

Saat dihubungi, Direktur RSUD Banten dr Danang Hamzah Nugroho mengaku kondisi itu sudah dilaporkan ke Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti. “Sudah teratasi. Ke Bu Kadis saja ya,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengatakan, penanganan listrik mati di RSUD Banten sudah selesai dan sudah tidak lagi menggunakan genset, kemarin.

Pada Selasa (26/5) malam, Ati sempat mengirimkan pesan melalui aplikasi WhatsApp. Kata dia, sejak Senin (25/5) listrik di gedung baru belakang memang mati. Setelah diperiksa PLN ternyata ada kabel bawah tanah yang putus. “Dan hari ini (kemarin lusa-red) kabel yang putus sedang dalam proses penggantian. Untuk sementara pakai genset,” ungkap Ati melalui pesan WhatsApp, Selasa (26/5) malam.

Kata dia, meskipun begitu, alat kesehatan tetap dinyalakan dan AC yang berada di kamar yang ada pasiennya tetap dinyalakan. Sedangkan air bersih tetap tersedia, hanya saja keluarnya tidak besar karena untuk sementara pompa pendorong air yang berfungsi agar keluarnya besar dimatikan.

“Untuk air minum tidak ada masalah, karena stok ketersediaan air mineral sudah tersedia sampai bulan Juli,” ujar mantan Direktur RSUD Balaraja ini. (nna/alt)