Tiga Pekan, Longsor di Bojongpandan Diabaikan

MAKIN PARAH: Tanah longsor di bantaran sungai Ciujung di Kampung Araudoh, Desa Bojongpandan, Kecamatan Tunjungteja semakin parah, Minggu (12/3). FOTO: KADES BOJONGPANDAN HULMAN FOR RADAR BANTEN

TUNJUNGTEJA – Longsor di sepanjang bantaran Sungai Ciujung tepatnya di Kampung Jambu Araudoh, Desa Bojongpandang, Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang, sudah hampir tiga pekan belum ditangani pemerintah. Padahal, kondisi longsoran mulai mengkhawatirkan. Longsor menghanyutkan dua kebun dan dapur satu rumah warga.

Sekadar diketahui, bencana longsor yang terjadi sejak Rabu (22/2). Longsor yang disebabkan gerusan air sungai yang deras dipicu hujan deras dan pembedolan bendungan itu, mengancam puluhan rumah yang tinggal di bantaran sungai. Panjang longsoran mencapai satu kilometer dan lebar 20 meter. Lantaran itu, warga pun terus waspada, khawatir terjadi longsor susulan.

Kepala Desa Bojongpandan Hulman mengaku, terus berkoordinasi dengan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Serang dan Balai Besar Wilayah Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWC3). Namun, sampai saat ini belum mendapatkan kepastian kapan longsoran bakal diperbaiki. “Sampai saat ini belum ada respons di mana pun,” keluh Kepala Desa Bojongpandan Hulman yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Minggu (12/3).

Katanya, longsoran sudah ditinjau oleh petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang dan UPT DPU. Bahkan, pihaknya sempat mendatangi kantor PUPR di Jalan Sama’un Bakri, Kota Serang, dua hari pasca longsoran untuk mengajukan proposal perbaikan. Kemudian, melanjutkan perjalanan ke kantor BBWC3, tetapi belum menemui hasil.

Padahal, kata Hulman, warga semakin khawatir dengan kondisi longsoran. Secara perlahan, air terus menggerus hingga membelah tanah bekas longsoran di bantaran. “Sudah dua petak perkebunan pisang hanyut, dapur satu rumah warga juga sudah enggak ada. Makanya, tiap malam kita ronda, jaga-jaga takutnya ada longsor susulan saat malam,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kasi Pemanfaatan Air Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Ciujung Cidanau Dinas PUPR Provinsi Banten Herry Safari menyatakan bahwa bantaran Sungai Ciujung merupakan kewenangan pusat, yakni di bawah kendali BBWC3. “Kalau kita menangani irigasi. Kalau tanggul sungai itu pusat. Tapi, bisa kita usulkan penanganannya, misalkan kondisinya darurat. Kita juga ada rencana konreg (konsultasi regional) untuk memetakan permasalahan sungai dan usulan untuk 2018,” terangnya. (Nizar S/Radar Banten)