Tim Biru Dinas PU Tangsel: Sehari, Bisa Angkut Sampah 600 Karung

Pasukan Biru Dinas Pekerjaan Umum membersihkan sampah di saluran air yang menyebabkan genangan air di Jalan Raya Ciater, Kecamatan Ciputat, Rabu (7/11).

Nyaris tiap hari bergelut dengan kotoran. Rela menelusuri gorong-gorong hingga ratusan meter, untuk memastikan tak ada sampah yang menyumbat. Itulah tugas Pasukan Biru Kota Tangsel.

WAHYU SYAIFULLAH – CIPUTAT

SEJUMLAH pekerja mengenakan seragam biru tampak sibuk bekerja di satu titik ruas Jalan Raya Ciater, kawasan Maruga. Ada yang memegang sekop, linggis hingga cangkul. Di punggung baju mereka terdapat tulisan Dinas Pekerjaan Umum (PU). Mereka dikenal dengan sebutan pasukan biru.

Tak peduli bau menyengat serta kotornya saluran air, mereka membersihkan saluran air. Sampah dan lumpur yang menimbun got dimasukkan ke karung plastik. Mereka berusaha membebaskan saluran air dari sampah yang menyumbat. Apalagi, memasuki musim penghujan, kerja pasukan biru makin sibuk. Mereka memastikan saluran bebas sumbatan. Sehingga tak menyebabkan banjir. Tak terhitung banyaknya sampah plastik dan sampah rumah tangga yang harus mereka bersihkan agar air lancar.

Koordinator pasukan biru, Kondang mengaku ada sekitar 80 pekerja yang tergabung dalam tim biru, ”kalau tim saya ini bertanggung jawab menyisiri Jalan Raya Maruga, Ciater Raya sampai ke Rawa Buntu,” ucapnya kepada Radar Banten, Rabu (7/11).

Dia mengaku tim-nya berjumlah 15 orang. Sehari, tim bisa menelusuri gorong-gorong sepanjang 250 meter. Aktivitas tersebut, dilakukan rutin. ”Rata-rata lumpur yang banyak kami bersihkan. Sehari kami bisa mengangkut sekitar 600 karung,” katanya. ”Kebanyakan sampah-sampah rumah tangga,” imbuhnya.

Memasuki musim penghujan, pasukan biru siaga penuh. Terutama di sejumlah jalan yang rawan terjadi genangan. ”Kalau ada genangan, kami langsung datang untuk mengurasnya dan dibuang ke saluran air,” terangnya.

Saat disinggung upah, Kondang mengaku dibayar harian. Setiap pekerja mendapatkan pendapatan yang berbeda-beda. ”Alhamdulillah, uang yang didapat bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Sementara, Nasrullah mengatakan, tak malu dengan pekerjaan yang dilakoninya. Dirinya merasa bangga, meskipun berjibaku dengan bau kotor dan sampah. ”Kalau jijik, dah enggak ada. Soalnya sudah tiga tahun ini bergelut dengan gorong-gorong,” tuturnya. (*)