Timbulkan Korban, Isu Penculikan Anak Meresahkan

0
1.395 views
GRAFIS : ARYA BAYU/RADAR BANTEN

SERANG – Isu penculikan anak semakin meresahkan masyarakat. Dipicu oleh isu yang tidak benar tersebut, kemarin (7/3), seorang perempuan telah menjadi korban. Dia diperlakukan tidak semestinya. Padahal, dia hanya seorang perempuan yang diduga stres.

Perempuan yang dikira penculik anak itu bernama Dutit alias Yuli Agus Tini. Sangkaan masyarakat Kampung Kendal, Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, terhadap perempuan kurus yang mengenakan kaus lengan panjang warna hitam dan celana panjang hitam itu bermula dari kedatangannya ke Kampung Tanggungjaya, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Senin (6/3) malam. Saat itu, Dutit membawa tas gendong berukuran besar.

Dutit tidak berkomunikasi dengan warga kampung. Perempuan yang belakangan diketahui asal Palembang, Sumatera Selatan, itu duduk di bawah tangga rumah panggung milik Rusdiyanto.

Rusdiyanto keluar rumah dan berniat menanyakan maksud kedatangan Dutit. Namun, saat didekati, Dutit malah kabur ke belakang rumah Rusdiyanto. Spontan, nelayan asal Kampung Tanggungjaya itu berteriak dan menuding Dutit sebagai penculik anak.

Teriakan Rusdiyanto mengundang warga. Mereka langsung mengejar Dutit. Namun, perempuan yang disangka penculik anak itu menghilang di semak-semak.

Keesokan harinya (7/3) sekira pukul 07.00 WIB, Dutit ditangkap masyarakat di Kampung Kendal. Rusdiyanto yang mendengar informasi ini langsung datang dan memastikan bahwa perempuan tersebut sama dengan orang yang duduk di bawah tangga rumahnya. Dutit diinterogasi oleh masyarakat yang menudingnya sebagai penculik anak.

Isu penculikan anak ini cepat menyebar di media sosial (medsos). Akun Facebook atas nama Selviana Osela menulis pada dinding Facebook-nya bahwa perempuan tersebut sebagai pelaku penculikan anak yang ditangkap warga.

Selviana juga mengunggah foto-foto masyarakat ketika menangkap Dutit. Di dalam foto, perempuan tersebut berontak ketika sejumlah orang memegang kerah kaus dan kedua lengan Dutit. Ada juga foto saat warga menggotong Dutit, dengan memegang kedua kaki dan tangannya. Foto saat Dutit duduk di sebuah pondok atau rumah warga dengan seluruh kepala ditutup kain hitam juga diunggah.

Oleh masyarakat, Dutit kemudian diserahkan kepada polisi. Di Mapolsek Kasemen, Dutit mengaku sedang dalam perjalanan mencari rumah kerabatnya. Dia duduk di bawah tangga rumah Rusdiyanto karena lelah. Dutit kabur karena mengaku dipukuli.

“Mau istirahat, duduk di teras. Pas disamperin, malah lari,” kata Kanitreskrim Polsek Kasemen Inspektur Polisi Satu (Iptu) Makhrus di kantornya.

Makhrus menyangkal isu yang beredar di tengah masyarakat bahwa Dutit berniat menculik seorang anak. “Warga curiga akan mencuri karena duduk di depan rumah bukan mau menculik,” ungkap Makhrus.

Makhrus mencurigai, Dutit mengalami gangguan kejiwaan. Soalnya, Dutit kerap berbicara sendiri di Mapolsek Kasemen. “Jawabannya kacau, kemungkinan stres. Dia bilang, keluarganya mati dibunuh dan dari Palembang ke sini jalan kaki. Di tasnya juga cuma ada pakaian dan botol minum,” ungkapnya.

Saat ini, Dutit diserahkan polisi kepada petugas Dinas Sosial Kota Serang. “Kita dapat informasi tunawisma, sudah dijemput. (Dutit-red) sudah di kantor. Rencananya, dilimpahkan ke panti sosial,” kata Kasi Rehabilitasi dan Tunasosial Dinsos Kota Serang Eli Priatna.

Sebelumnya, isu penculikan anak juga sempat menggegerkan masyarakat Kampung Tembong Kidul, Kelurahan Tembong, Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang. Bayi bernama Firda Herliana Fitri dikabarkan diculik dari dalam rumah pasangan Ernawati dan Haeroni pada Jumat (4/3). Namun, isu itu terbantahkan setelah Firda ditemukan tewas di dalam sumur rumah orangtuanya.

Kematian balita berusia satu tahun tujuh bulan itu kini diselidiki Satreskrim Polres Serang Kota. Kemarin, rumah Haeroni masih terpasang garis polisi. Keluarga korban tak diperkenankan melakukan aktivitas di dalam rumah sebelum kasus tersebut terungkap.

“Enggak boleh masuk sampai semua selesai. Jadi, sekarang menumpang di rumah saudara,” kata Oliyah, ibu kandung Ernawati.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Zaenudin mengatakan, masyarakat Banten tak perlu khawatir soal kejahatan penculikan anak. “Sejauh ini masih aman terkendali. Namun, kita harus tetap waspada. Informasi dari luar daerah akan dijadikan masukkan buat kita (polisi-red),” kata perwira menengah polisi itu.

Personel kepolisian, lanjut Zaenudin, telah ditempatkan di beberapa titik yang dianggap rawan untuk mengantisipasi kejahatan tersebut terjadi. “Patroli terus dilakukan di setiap titik yang dinilai rawan kejahatan,” jelasnya. (Merwanda-Nizar S-Supriyono/Radar Banten)