Tje Mamat, Pahlawan Kontroversial dari Anyar

SEJUMLAH pemuda Banten punya kedekatan hubungan dengan Tan Malaka. Salah satu pemuda Banten itu adalah Tje Mamat. Tje Mamat disebut-sebut adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pembunuhan Bupati Lebak RT Hardiwinangoen yang sebelumnya diculik dan dibunuh di Cisiih pada 1946.

Aksi pembunuhan oleh Tje Mamat dilakukan untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda yang feodal. RT Hardiwinangoen dibunuh karena dianggap sebagai simbol feodal pada masa itu. Semua dilakukan Tje Mamat sebagai akumulasi protes tindakan seseorang karena pada masa kolonial orang feodal terus berkuasa. Sementara, Tje Mamat menganggap kemerdekaan itu milik rakyat sehingga membentuk Dewan Rakyat Banten untuk mengubah dinasti kekuasaan.

Pemberontakan Tje Mamat dipicu ketidakpuasan banyaknya kaum feodal setelah kemerdekaan. Jadi, pembentukan Dewan Rakyat itu hanya ingin mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat.

Siapa sebenarnya Tje Mamat? Di zaman revolusi Belanda Tje Mamat pernah menjadi pokrol (pengacara yang tidak punya pendidikan, tapi profesional di bidang hukum). Dia mempunyai izin legal membela di pengadilan. Ketika penangkapan 99 orang kelompok Dewan Rakyat Banten yang akan dibuang ke penjara Digul, Papua, dimungkinkan Tje Mamat berhasil melarikan diri ke Malaya (sekarang Malaysia-red). Di sana, Tje Mamat bertemu dengan Tan Malaka yang hendak berangkat ke Moskow.

Dalam buku yang berjudul Tan Malaka, Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia karya Harry A Poeze, Agustus 1945-Maret 1946, dikisahkan pada Juni 1943, Tan Malaka pindah dari Jakarta ke Bayah, Banten Selatan. Di tempat itu, Tan Malaka menyamar dengan menggunakan nama Ilyas Husein. Tan bekerja di bagian administrasi sebagai juru tulis para romusa.

Dalam penyamarannya, Ilyas Husein alias Tan Malaka memperjuangkan berbagai hak-hak romusa mulai dari kesehatan, gaji, dan kehidupan yang layak. Pemerintah Jepang pun menilai bahwa kinerja Tan sangat baik. Lalu menjadikan Tan menjadi Ketua Badan Pembantu Keluarga Peta (BPP).

Saat menjabat sebagai Ketua BPP inilah Tan Malaka sering mengadakan kegiatan dan rapat-rapat di Rangkasbitung. Dari sanalah, Tan Malaka mulai berkenalan dengan Tje Mamat. “Pertemuan rahasia di Rangkas memang tidak bisa dipisahkan dari peristiwa 1925-1926, di mana saat itu Komite Nasional Indonesia (KNI) Serang yang berhaluan komunis dipimpin Tje Mamat. KNI menuduh Pemerintah RI di Banten sebagai kelanjutan Pemerintah Kolonial Belanda. Puncaknya‎ pada Oktober 1945 Tje Mamat membentuk Dewan Pemerintahan Rakyat, merebut pemerintahan Karesidenan Banten. Puncaknya, melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap RT Hardiwinangoen, Bupati Lebak akhir tahun 1945 saat Presiden Soekarno berkunjung ke Rangkasbitung,” tutur Nelly Wahyudin, dosen sejarah STKIP Setia Budi Rangkasbitung.

Menurut sejarawan Indonesia Bonnie Tryana, Tje Mamat juga sempat membentuk Laskar Gulungan Bukut (Gulkut) atau pasukan penggulung mengenakan bukut atau udeng di kepala dalam rangka menghabisi kaum feodal. Salah satu aksinya, mempermalukan lurah di depan publik karena dianggap antek kolonial, sebelum akhirnya para anggota Laskar Gulkut ditangkap dan Dewan Rakyat Banten dibubarkan oleh tentara yang dikirim oleh Bung Karno.

Jika diibaratkan menonton perang, Bonnie berpendapat, sesuai penulisan sejarah yang bergantung pada rezim yang sedang berkuasa. Seperti rezim Soeharto, Tje Mamat bisa dikatakan penjahat karena bergabung dengan komunis. Lain hal jika rezim komunis berkuasa, Tje Mamat bisa dianggap pahlawan.

“Kita ingin menempatkan sebagai pelaku sejarah mencoba merespons situasi zamannya, yaitu mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan yang berlaku saat itu,” katanya.

Keluarga Tje Mamat dimungkinkan berada di kawasan Anyar, Kabupaten Serang, yang sampai saat ini belum pernah ditemukan Bonnie. Bahkan, Tje Mamat diketahui masih hidup hingga era 80-an. Bonnie mengaku hanya pernah mewawancarai kerabat sohib Tje Mamat, TB Alifan di Kebon Cau, Pandeglang.

“Sampai sekarang saya masih mencari keluarga Tje Mamat di Anyar. Mungkin sekarang tinggal cicitnya. Yang pernah wawancara Tje Mamat, yakni sejarawan Belanda Harry Poeze yang menulis Tan Malaka. Dan yang mengatur pertemuannya Wakil Presiden Adam Malik,” pungkasnya. (Nizar S/Radar Banten)