TKA Tiongkok di Sulteng Geser Pekerja Lokal

0
534 views

SULTENG- Membanjirnya tenaga kerja asing (TKA) kasar di Desa/Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara, membuat tenaga kerja lokal tergusur pelan-pelan.

M. Fajrian, 19, tenaga lokal yang bekerja di salah satu proyek pembangunan nasional desa setempat, mengatakan, awalnya banyak penduduk di kampungnya yang diterima sebagai pekerja kasar.

”Sekarang tinggal sedikit, banyak pekerja asingnya,” ujarnya sebagaimanadilansir JawaPos.com.

Laki-laki yang bekerja sebagai kuli angkut campuran semen di proyek pembangunan smelter itu mengatakan, jumlah tenaga lokal dan TKA di Morosi berbanding 1:3. Lebih banyak pekerja asing.

Padahal, posisinya sama. Yakni, tenaga kerja kasar. ”Karena kontraktornya orang China (Tingkok, Red), jadi semua pekerjanya juga orang China,” beber pekerja kasar yang diupah Rp 90 ribu per hari tersebut.

Eko Wibowo, 29, warga setempat, menambahkan, banyak penduduk lokal yang ingin bekerja di proyek pembangunan pabrik milik Tiongkok di desanya tidak lolos saat penjaringan. Termasuk dirinya. Kebanyakan di antara mereka gagal saat tahap interview. ”Saya dulu pernah melamar, tapi tidak diterima,” tuturnya.

Saat itu Eko melamar sebagai buruh kasar. Menurut dia, sebagian besar posisi tersebut kini sudah diisi para pekerja asing. Pihak perusahaan, terutama mandor dan kontraktor, memang lebih senang mempekerjakan TKA daripada tenaga lokal. ”Karena kerja orang China itu memang seperti kerbau, tidak kenal lelah, mungkin itu alasannya,” paparnya.

Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM Agung Sampurno mengungkapkan, pihaknya tengah menelusuri keberadaan para TKA di Indonesia. Tapi, dia menegaskan bahwa wilayah pengawasan imigrasi itu pada izin tinggal, bukan izin kerja. “Kalau izin kerja di instansi lain,” ungkap dia.

Pada kesempatan berbeda, Staf Khusus Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Dita Indah Sari berkilah bahwa arus besar TKA di Indonesia hanyalah isu yang dibesar-besarkan. Menurut dia, kasus-kasus temuan TKA ilegal masih bersifat sporadis dan belum masuk kategori masal. ”Jangan hanya karena satu-dua kasus temuan TKA ilegal, lalu ada generalisasi terhadap serangan TKA,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (31/12). (tyo/jun/bil/c7/nw/JPG)